14.8.11

reka (9) : jarak.

perubahan itu bernama jarak,
yang nyatanya tak juga menahanmu datang dan pergi sesuka diri.

lalu apa gunamu, hai waktu pengusir debar 
teman seperjalan mengukur sang jarak,
jika tak bisa kusambut dia dengan kata rindu yang bahkan telah usang?

sedang bahagia yang ingin kukirim lewat doa pun melapuk sudah di pojokan,
membusuk oleh tanya yang masih (ingin) kubiarkan menggantung akan segala ketetapannya tentangmu.



catatan :
sungguh, ksatria, lama-lama tak bisa aku tak berprasangka ada malaikat-malaikat yang telah mengisikimu tentang kapan saja tuhan ingin membolak-balikkan hatiku. dan lalu kau ikut menyelinap, masuk ke dalamnya, dan lalu keluar. begitu terus. selalu. sambil (hanya) tersenyum. senyum yang sederhana. yang (telah) memaku salah satu pojok hatiku kuat-kuat, membuat tuhan harus bekerja sedikit keras waktu membolak-balikkannya.

No comments: