Showing posts with label konstelasi. Show all posts
Showing posts with label konstelasi. Show all posts

21.7.15

demikian, tentangmu.

dan lalu, kesatria terbang.
ke langit ke sembilan, semesta yang dibangunnya setelah mimpi.
tak ada tanah yang mampu menahannya tetap pada bumi.
tak pula jejaring cerita semu akan ingatan yang berurai.

dan lalu tentang puri,
yang masih belum pondasi :
sebuah galeri kaca suaka segala asumsi.
tentang dia. siapa lagi.

juga tentang hati. yang ini milikku.

suatu pagi di duaribudua.
suatu malam di duaribusembilan.
labirin itu buntu. sudah. dan tetap demikian. sampai nanti.

dan akhirnya, kesatria terbang.
meleburkan labirin, tanpa menengok lagi ke belakang.


maka kali ini, giliran hati milikku,
- karena ia tak pernah putri yang dicarinya -
untuk kembali percaya pada rasa yang nyata.




- suatu waktu di duaribulimabelas :
untuk semua putaran energi misterius,
yang mencari rumahnya bersama tarian aksara
surat-surat cinta yang tak bertakdir,

terima kasih.

23.3.14

27 | pulang.

pulang adalah kata yang tak sempat mengenalmu. ia pemalu yang hanya mau mengintipmu dari satu halaman kamus. berharap cemas kamu setidaknya berpikir untuk mengejanya.

pulang adalah kata yang kamu pura-pura tak lihat dan tak dengar. padamu tak ada sebuah cerita tentang pulang, tak ada sebuah nyanyian selamat kembali di rumah.

pulang adalah sekaligus jarak yang tak tahu bagaimana harus membentangkan dirinya di antara aku dan kamu.

1.9.13

september.

musim mendatangkan cita-cita,
musim juga yang membesarkannya

musim lalu membiarkannya terbang,
atau menguburkannya dalam-dalam, membusuk hingga terurai

musim juga yang memanggilnya kembali,
mengadakannya dalam satu tiupan angin seperti ia membalik diri

september datang saat musim sedang di tengah-tengah membalik arah,
tersenyum dari samping memenuhi panggilan tetibanya

yang selalu ingat waktu september dibiarkannya berlalu.

14.12.12

;_;_;_;

rindu habis berbagi dengan jarak,
hingga ke remah-remah yang tercacah para waktu.

rindu melambat menuju angka nol,
sebuah penghabisan yang tak pernah tersampai.

rindu mengingat-ingat barang tertinggal,
yang bukan miliknya, yang harus dikembalikan pada yang juga bukan pemiliknya :


sebuah hati yang bergetar
oleh masa depan yang belum menurunkan layar


11.12.12

c]

c demikian itu,
karena padanya dapat bergantung,
karena padanya dapat bersandar,
karena ia sempurna tanpa harus tergenapi.

demikian itu, c...
yang jika sendiri ia rapuh,
rentan patah, atau lebur,
ia ganjil dalam sempurnanya.

27.11.12

.

konstelasi,
pada akhir putaran, tak juga tertangkap hati
padahal rasanya sudah penuh ia berlari, tapi tak cukup penuh untuk sebuah kejaran.

konstelasi meledak dalam diam,
pada hitungan ke sepuluh yang dinyanyikan oleh para katup jantung
padahal pikirnya sudah halus-halus ia jaga dalam genggaman.

adalah serpihan serupa semesta yang membelai telapak,
membangunkan hati dari tidur panjang, menarik selimut semu yang bau gemintang
memeluk jiwa yang baru pulang, sambil menjejak kaki pada sisa hujan di atas tanah.

konstelasi,
berputar, tumbuhkan cinta, lalu nanti enyahkan dia bersih-bersih
semua pada waktunya, tertanda oleh sembilan kedua di awal dan ketiga di akhir.


ada terima kasih, 
bukan untuk segalanya
cukup untuk sebuah ada yang pernah ada untuk hati. 

17.11.12

tujuhbelas november.

adalah tanggal yang tercantik. yang selalu ada di atas segala tanggal baik lainnya dalam primbon manapun. bagi saya.
.

pertama,
adalah selamat ulang tahun Aki :)

kedua,
adalah sebuah harga tentang kesadaran bahwa saya adalah anak perempuan.
stri hanyalah tanda di awal.

ketiga,
Tuhan tahu, hati saya yang berbolak-balik juga tahu,
tentang mengapa (lagi-lagi) tujuhbelas november tidak menjadi ketetapanNya,

keempat,
sebelum ada satu tujuhbelas november yang berbahagia,
harus ada satu tujuhbelas november yang berlapang dada menerima dan berserah.

.
mudah-mudahan hari ini adalah tujuhbelas november yang terlepas untuk melepas.

4.9.12

api #5

aku terbakar.
asap yang mengepul adalah ampas cemburu, dan seburuk-buruknya dengki.

aku terbakar.
tanpa pertanda apa saja yang tersebut sebagai alasan.

aku terbakar.
mungkin sebanyak hirupan nafas.

aku terbakar.
lalu sebelum hangus, ada ingatan berkelebat.

:

aku dan kamu, dulu, pernah bersepakat mengelabui tuhan.
sebelum kita diluncurkan ke dalam perut-perut bunda,
kita tukar hati-hati kita dengan penuh hati-hati
lalu kita berjanji,
tak kan mati oleh diri sendiri,
sebelum nanti saling bertemu dan kembali bertukar hati yang sebenar-benarnya
milik masing-masing kita. dan lalu hidup tua bersama.

.

kupegang janjiku, dengan segenap percaya kau pun begitu.

bulan biru.

bulan menyapu langit bersih-bersih
hingga tiba waktunya matahari berbalik
meninggalkan jejak bernama gelap

bulan lalu berpendar biru
seperti langit, namun lebih kecil,
sendirian, dan tampak kesepian

bulan biru,
terasing di antara gemintang
ya, seperti kamu

30.8.12

api #2

jika ksatria adalah seorang asing dari masa depan,
maka jarak sepandangan mata ini tentunya terlalu dekat terhadapnya yang semata sang penyemu.

29.8.12

api #1

jarang-jarang kau bercerita padaku,
seperti dulu :
tengah malam, secangkir kopi, dan dua jendela

pembicaraan tersendat tak mengapa,
tak membuat aku maupun kau berlomba dengan "selamat malam"

senyum yang dipaksakan biar hati di sini saja yang tahu,
sepanjang hati di sana merasa tenang karena ada temannya.


jarang-jarang kau bercerita padaku,
tapi malam ini memang berbeda :
tengah malam, segelas air putih, satu jendela

lalu bisik-bisik dalam diam dengan senyum dikulum antara hati dan hati,
dan selamat malam yang sudah tersimpan rapi-rapi di dalam laci.

7.8.12

rumah rindu.

rindu dalam hati yang tidak menggebu seperti ini adalah rumah hanya bagimu. lalu biarkan aku bertanya, 

"kapan kamu pulang?"

27.6.12

if i remember You, ...

... would i be able to forget you then?

26.6.12

kepala adalah pelupa,
kecuali akan senyum-senyum yang tersembunyi 
manakala hati menarik jarak agar rindu tak perlu berlari 
meniti lintang, berkejaran dengan waktu.


.
rindu, diam saja di sini temani aku,
bisiki doa. yang lalu akan kubiarkan melesat menujumu.

23.4.12

pasifik, timur.

karena semua adalah demi berpapasan denganmu,
muka sama muka, bukan punggung sama punggung.


karena semua adalah demi sepasang tangan yang bergetar,
menyerahkan sepucuk surat kusut pada kertas yang telah menguning.


karena semua adalah demi menggenapkan sebuah rasa yang telah mendewasakan,
dan bersama waktu, dengan demikian pun, ikut mendewasa. 


karena semua bukanlah demi sebuah jawaban,
yang sesungguhnya telah Tuhan simpan baik-baik, hingga nanti tiba 
waktu yang sama-sama baik bagi kita untuk mengetahuinya.


jika sampai kita pada titik itu,
kuminta sangat kau berhenti memanggilku diam-diam sambil tersenyum,


dan kuminta sangat kau berbahagia.

29.3.12

karena aku hanya terlalu rindu padamu, ksatria.
dan kamu hanya terlalu jauh dari hatiku. tanpa kamu berkeliaran di pekarangan, 
segalanya terlalu sepi.


aku hanya punya kata-kata untuk bermain,
lalu kertas putih, pensil, serta hati yang mati-matian bilang rindu padamu.


belum pernah aku setakut ini melihat kertas putih dan menggenggam pensil,
ksatria. kukira hanya kamu yang bisa mengerti ketakutanku ini,
makanya hati setengah mati mencarimu.


kali ini, ia bilang tidak akan berhenti sebelum menemuimu.


aku tak peduli lagi. 
kuserahkan semuanya padanya. 


dan padaNya.
karena rindu tak punya batas waktu,
matahari tidak pernah benar-benar mengajaknya berlomba mendahuluinya.


karena rindu tak punya hulu, juga muara,
ia adalah aliran yang mengawang antara dua tempat pulang, yang sama-sama lebih luas dari samudra.


karena rindu tidak kenal masa lalu atau masa depan,
baginya sepanjang ia berdetak, entah cinta masih hidup atau mati, adalah saat ini.

. . .
karena hanya rindu yang bisa menemukanmu,
sampai pada jarak aman untuk semata memandang punggungmu, lalu kembali.

28.3.12

puisi sebrang hati.

kulayangkan surat rindu sepenuh diri
untukmu, lelaki di sebrang hati.

bersama kecup tertahan yang berjalin bersama serat-serat di mana seluruh rindu ini menumpah,
semacam hitam yang menera putih.

kupejamkan mata, lalu ada bisik yang mendesak,
semoga surat ini menjelma puisi padamu,
puisi sebrang hati.

untukmu, lelaki yang bayangnya tertinggal, menggenggam hati sendiri hingga kini.

22.3.12

halaman persembahan.

seperti janji,


untuk Srikandi dan Ksatria.
untuk sebuah ruang pada sebuah jeda,  untuk sebuah titik dalam semesta.



karena terima kasih tidak akan cukup, untuk sebentuk percaya yang tidak lagi terangkum dimensi.

11.1.12

satu rintik hujan 
terserap, hilang dalam tanah


namun ia abadi : 


pada setiap lembar hijau daun, pada setiap helai merah jambu kelopak bunga, 
dan pada setiap tetes embun yang tak sempat tertangkap pagi.