Setelah menghadiri pernikahan kemarin, sepanjang perjalanan pulang Jakarta - Bandung, saya menjadi banyak berpikir ( apalagi ditambah kemacetan kota Jakarta yang ampun deh!) tentang pernikahan tadi, dan pernikahan nanti (pernikahan saya sendiri maksudnya).
Tadi, setiap detil yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, semuanya terasa luar biasa pas. Pilihan gedung. Deretan foto-foto pre-wedding. Dekorasi a la Minang tapi tetap terasa chic dan sederhana. Pilihan menu katering. Pilihan daftar lagu untuk dinyanyikan sang wedding singer (serius, pilihan lagu-lagunya bagus bagus bagusss banget, nggak heran sih ;p). Dan...yang pasti adalah pasangan pengantinnya, mereka berdua tampak sangat bersinar. Really really reallyyy happy for both of you, Chica and Ara :)
-------------------------
Nanti, kira-kira pernikahan saya sendiri akan seperti apa ya...adalah satu pertanyaan yang makin ke sini makin sering saya tanyakan pada diri saya sendiri. Apalagi kalau pakai ditambah dengan pertanyaan dari orang-orang lain, "kapan kamu nyusul?". Yaahh, jawaban terbaik yang bisa saya berikan cuma satu, "as soon as possible", dengan cengiran super lebar, dan keinginan menggebu-gebu untuk menambahkan satu baris lagi, "begitu Allah sudah meridhai."
Benar deh, saya nggak bisa berhenti membayangkan, nanti pernikahan saya akan seperti apa ya. Catet : kehidupan pernikahannya itu sendiri ya, tentunya dengan hari pernikahan sebagai gerbangnya ;) Saya juga tidak bisa berhenti bertanya, "kapan ya Allah akan Kau pertemukan aku dengan calon suami, calon pendamping hidupku, laki-laki yang telah Kau siapkan untukku dan telah Kau siapkan aku untuknya?" Saya tahu jawabannya, semua akan indah pada waktunya. Tapi percaya deh, mengetahui jawaban itu, berusaha menanamkannya pada hati dan pikiran saya setiap kali bayang-bayang impian menikah itu datang, dengan menjalaninya sendiri adalah dua hal yang sangat berbeda, dan sekali lagi percayalah, tidak semudah itu melakukan yang namanya 'penantian'.
Penantian dalam kamus saya tidak pernah berarti diam dan menunggu. Saya ingin tetap bergerak, mengikuti hati yang menjadi penunjuk jalan, menuju rencana-rencana besar dalam hidup. Begitu juga kali ini. Semoga arah perjalanan kali ini tidak membuat saya semakin menjauh dari 'pertemuan' yang selalu saya impikan, hampir setiap hari, ini.
Jadi, kapan giliran saya ya?
*tetap penasaran*
