Ini bukan tentang jatuh hati dalam ranah percintaan antara laki-laki dan perempuan. Tapi antara satu pasang mata dan kedip pergantian lembar-lembar hitam putih dalam satu jepitan bernama buku.
Kadang sembilan lembar lewat bersamaan dengan detik keenampuluh. Kadang tujuh. Sepuluh. Atau bahkan satu. Semua tergantung pada saat-saat pertemuan dengan si jantung hati.
Jantung hati.
Baris-baris paling memikat mata dan hati dalam satu buku. Kadang dia menjemput langsung di awal cerita, kadang dia menunggu dengan sabar di tengah cerita, kadang bahkan dia bersembunyi hingga detik-detik terakhir.
Orang bilang, buku adalah jendela dunia. Dunia yang penuh dengan pasangan mata di mana-mana. Yang melihat dunia mungkin hanya pada birunya langit, hijaunya rumput, merah mudanya daisy, kelabunya mendung utara, atau pekatnya aliran kali belakang kampung. Dunia yang penuh dengan pasangan telinga di balik tembok. Yang mendengar dunia mungkin hanya dari bisik ilalang di padang, derap kijang tanpa rintangan, atau gelegar petir yang membawa pesan langit.
Maka si jantung hati, keberadaannya adalah prasyarat. Tidak bisa tidak. Karena dialah yang akan membuat mata hati melihat kehidupan pada dunia di balik jendela itu. Sebuah buku, dapat menggiring langkah melewati lintasan tujuh warna pelangi, atau mendorong raga jauh ke dalam celah sempit, gelap dan pengap.
Satu lagi.
Si jantung hati, dia lah yang akan membuat kaki-kaki ini tanpa komando meloncatkan genapnya hati dan pikiran melewati hadangan tembok jendela.
Keluar.
Kepada dunia.
-------------------------------------
Jendela bulan Januari 2010 :
1. 80 Hari Keliling Dunia - Jules Verne [Bab 37 Phileas Fogg tidak mendapatkan apa-apa dari perjalanannya keliling dunia selain kebahagiaan, h. 367]
"Namun apa berikutnya? Apa yang sebenarnya ia peroleh dari seluruh persoalan ini? Apa yang ia bawa pulang dari perjalanan panjang dan melelahkan itu?
Menurut Anda, tidka ada? Barangkali memang tidak ada, selain seorang wanita menarik yang meskipun mungkin tampak aneh, membuat dirinya menjadi pria paling bahagia!
Benarkah Anda tidak akan bersedia melakukan perjalanan keliling dunia untuk itu?"
2. Maryamah Karpov - Andrea Hirata [Berae, h. 235-236]
"Tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku lelah, aku hampir putus asa. Dan aku merindukan A Ling, aku ingin melihatnya, melihatnya meski hanya sekali. Aku merindukannya sampai aku tak bisa bernapas. Malam kian larut. Kupandangi gugusan bintang, kemudian ajaib. Lambat laun, gugusan gemintang itu menjelma menjadi seperti lukisan. Seluruh langit menjelma menjadi lukisan terang benderang. Aku terpana. Dalam lukisan itu miliaran bintang berdebur menjadi ombak yang bergulung-gulung, awan gemawan bergelora, meluap-luap menjadi buih samudra, berlapis-lapis melonjak-lonjak silih berganti, ganas, berlimpah-limpah. Lalu menyeruak megah sebuah bahtera, terombang-ambing digempur gulungan ombak bintang gemintang. Seorang nakhoda memerintahkan pada anak buahnya menaikkan layar. Ia berlari ke haluan, menghunus pedang ingin menangkis petir. Matanya menyala, suaranya memecah laut, melengking menantang badai berkelahi. Rambutnya yang panjang berkilat-kilat dibias sambaran petir yang menjilati ombak. Perasaan ganjil yang dahsyat menghantam dadaku. Aku seakan terangkat dan melonjak. Aku berlari ke bibir dermaga dan berteriak lantang.
"Aku akan membuat perahu!! Kaudengarkah itu?! Aku akan membuat perahu, dengan tanganku sendiri!!""
3. Rahasia Meede - E.S. Ito [Prolog, h.3-4]
"Dalam tempo yang cepat, sebagian besar anggota delegasi termasuk Bung Hatta telah berkumpul. Lelaki misterius itu membentangkan kertas tuda berwarna cokelat pudar. Tulisan, gambar, petunjuk, denah, semua tampak seperti garis-garis yang menghubungkan masa lalu. Kemudian, kertas itu dia serahkan kepada anggota delegasi. Sebuah rahasia yang telah terkubur selama ratusan tahun berpindah tangan
"Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen!""
-------------------------------------
- Judul diambil dari penggalan percakapan suatu sore dengan seorang teman. Penggalan kata "jantung". -