tengah malam waktu hatiku adalah waktunya perpindahan rasa.
merasuknya yang mati-mati pada embun yang akan lahir, lewat jendela tak bertirai.
tengah malam waktu hatimu adalah waktunya membakar rasa.
mengumpulkan api-api sisa musim dingin lalu, membariskannya seperti anak-anak pagi.
sajak ini adalah masa lalumu.
semua cerita yang kuinginkan darimu, yang tak beranjak dari benak.
sajak ini adalah kenanganmu.
semua bayangan tentang aku yang kumainkan dalam hatimu:
pura-pura yang bukan tipu-tipu.
tengah malam waktu angkasa, adalah waktu kita berpisah,
dengan semata-semata harap yang tak tertiup,
dengan kabut pagi yang tak akan turun.
untukmu sajak tengah malam,
wahai penakluk hati yang tak mau berhenti.
Showing posts with label sketsa suara. Show all posts
Showing posts with label sketsa suara. Show all posts
20.3.17
23.1.17
senja beranjak.
penaku tertatih,
jemariku sesak nafas,
lembar putih ini penuh oleh kekosongan.
ingatan saling berebut keluar
lewat jendela hati,
terus sampai ke pinggir kali.
senja pun lelah menanti
cerita-cerita yang tak kunjung hidup,
cerita-cerita yang kandas sebelum bermuara.
hingga semburat merah yang bertahan hingga ia sirna sendiri,
aku lalu habis:
di setiap menjelang matahari berbalik arah
pada lintasan dengan kecepatan seratus kilometer per jam.
jemariku sesak nafas,
lembar putih ini penuh oleh kekosongan.
ingatan saling berebut keluar
lewat jendela hati,
terus sampai ke pinggir kali.
senja pun lelah menanti
cerita-cerita yang tak kunjung hidup,
cerita-cerita yang kandas sebelum bermuara.
hingga semburat merah yang bertahan hingga ia sirna sendiri,
aku lalu habis:
di setiap menjelang matahari berbalik arah
pada lintasan dengan kecepatan seratus kilometer per jam.
12.11.16
malam.
bermalam-malam aku menunda perasaan.
beralasan ringkihnya hati para pemuja cinta juga kebenaran.
bantal-bantal adalah pencatat kejujuran yang sejati.
rasa takut. keputusan. lalu pertanyaan tanpa henti.
sungguhpun bulan punya waktunya.
ia pencinta segala yang rutin.
segala yang terhitung. dan pada tempatnya.
tetap ia sisakan ruang untuk seteru hangat bunga kegelisahan.
aku suka semua yang sederhana.
seperti kamu yang selalu bertanya,
semua namun kebenaran,
perihal yang pasti namun keyakinan.
bermalam-malam aku menunda perjalanan.
dengan alasan tak ada teman,
padahal ia adalah tujuan.
kepada malam-malam yang tak sempat tersimpan,
akan kupenuhi janjiku dalam genggaman.
beralasan ringkihnya hati para pemuja cinta juga kebenaran.
bantal-bantal adalah pencatat kejujuran yang sejati.
rasa takut. keputusan. lalu pertanyaan tanpa henti.
sungguhpun bulan punya waktunya.
ia pencinta segala yang rutin.
segala yang terhitung. dan pada tempatnya.
tetap ia sisakan ruang untuk seteru hangat bunga kegelisahan.
aku suka semua yang sederhana.
seperti kamu yang selalu bertanya,
semua namun kebenaran,
perihal yang pasti namun keyakinan.
bermalam-malam aku menunda perjalanan.
dengan alasan tak ada teman,
padahal ia adalah tujuan.
kepada malam-malam yang tak sempat tersimpan,
akan kupenuhi janjiku dalam genggaman.
15.6.16
the eyes of a heart.
the eyes of a heart don't lie.
whether the mind plays its dirty trick,
or bodies full of betrayal.
those were days of the spinning hearts.
no in between are wide enough,
for question out of question go through.
those were days when people celebrate wisdom,
cheering truths, and dances with genuine kindness.
facts are left behind. depth of thought got the spotlight.
the eyes of the heart don't lie.
it beats along, for as long as being true is the only option.
they had a flowing keeper, in the name of tears.
pining deep.
she was pining deep off the path
over which a man walk to fade
secretly leaving his corner.
a man who danced with dust,
the truest lover of today.
the lady were beating along with my heart,
nonetheless at her own speed
with hands full of doubt,
unwillingly restraining those feet in pursuit of the wind.
those once residing beside,
together in awe of the silence.
isn't a story exchanged through intertwined solitude:
a house for seekers as him and I?
so let us give way to the lady
so let us give way to the lady
and the man within us, to alter the closure.
3.6.16
light.
:: this is an english version of lampu.
days behind were eminently dimmed.
with the thick clouds,
and patters who lost their way.
those were days of humid air against resignation,
days behind were eminently dimmed.
with the thick clouds,
and patters who lost their way.
those were days of humid air against resignation,
an untitled exhaustion.
but end of days are alike.
but end of days are alike.
all with the soothing silence, the sepia-colored light, and a warm cup of tea.
and you, within reach, an all time dearest.
23.5.16
remah.
pembenaran hanya berjarak satu belokan dari kebahagiaan.
dia sembunyi seperti sebuah pojokan.
ketulusan tidak bisa dinilai,
ketakutan tidak bisa diurai,
mereka berdampingan
mungkin sampai akhir zaman.
aku lagi-lagi termenung,
pada koma-koma kehidupan yang terpasang sembarang
sambil menerka-nerka
kapan titik terpanggil pada akhirnya.
.
ketika aku melepasmu dari goresan-goresan jiwa,
demikian aku tahu, segalanya tidak lagi sama.
remah-remah pada lembar putih ini undur diri
melahirkan ruang utuh bagi jiwa yang (akhirnya) merdeka.
dia sembunyi seperti sebuah pojokan.
ketulusan tidak bisa dinilai,
ketakutan tidak bisa diurai,
mereka berdampingan
mungkin sampai akhir zaman.
aku lagi-lagi termenung,
pada koma-koma kehidupan yang terpasang sembarang
sambil menerka-nerka
kapan titik terpanggil pada akhirnya.
.
ketika aku melepasmu dari goresan-goresan jiwa,
demikian aku tahu, segalanya tidak lagi sama.
remah-remah pada lembar putih ini undur diri
melahirkan ruang utuh bagi jiwa yang (akhirnya) merdeka.
29.3.16
azalea.
kembali musimmu,
di ujung negeri, di tanah tinggi.
kembali rindumu,
jejak yang tak mau hilang,
rasa yang tak mau menguap.
kembali mimpimu,
lebih untuk diri,
namun pada tuhan dan semesta.
di ujung negeri, di tanah tinggi.
kembali rindumu,
jejak yang tak mau hilang,
rasa yang tak mau menguap.
kembali mimpimu,
lebih untuk diri,
namun pada tuhan dan semesta.
merah.
pernahkah kamu bertanya pada secercah merah,
yang mencari jalannya di angkasa
menebas udara, hingga akhirnya air.
ia membungkus segala tanya dengan segenap hidup yang tersisa,
memukul ragu melawan daya.
meneguhkan hati, mengadilkan pikiran.
menyelam dalam samudra reka
hingga ke dasar masa depan.
sudahkan kamu berhenti menunggu,
merah menyerahkan jawabnya?
karena ia bukan yang ditunggu,
agar kamu tak pernah lelah mencari.
yang mencari jalannya di angkasa
menebas udara, hingga akhirnya air.
ia membungkus segala tanya dengan segenap hidup yang tersisa,
memukul ragu melawan daya.
meneguhkan hati, mengadilkan pikiran.
menyelam dalam samudra reka
hingga ke dasar masa depan.
sudahkan kamu berhenti menunggu,
merah menyerahkan jawabnya?
karena ia bukan yang ditunggu,
agar kamu tak pernah lelah mencari.
2.3.16
takut.
rasa takut ini ada ujungnya.
tentunya dengan segenap percaya yang tersembunyi di ujung bumi.
pada setapak tanpa batas.
ledakan-ledakan kecil,
bagai busa pada segelas soda tanpa warna.
degup palsu yang detaknya menyarukan taluan arah langkah.
lalu ia tandas.
dalam dahaga pagi yang tanpa kabut,
dingin yang hanya membungkus hati tanpa penghuni.
rasa takut ini berinduk pada satu
pertanyaan yang tidak sejati.
tentunya dengan segenap percaya yang tersembunyi di ujung bumi.
pada setapak tanpa batas.
ledakan-ledakan kecil,
bagai busa pada segelas soda tanpa warna.
degup palsu yang detaknya menyarukan taluan arah langkah.
lalu ia tandas.
dalam dahaga pagi yang tanpa kabut,
dingin yang hanya membungkus hati tanpa penghuni.
rasa takut ini berinduk pada satu
pertanyaan yang tidak sejati.
lampu.
hari-hari belakang sungguh temaram.
dengan mendung tebal, dan rintik yang tak jadi-jadi.
lembab bertarung dengan penat.
namun ujung hari selalu sama.
diam, dan lampu kuning, dengan secangkir teh hangat.
lalu kamu yang selalu kukenal sepanjang masa.
dengan mendung tebal, dan rintik yang tak jadi-jadi.
lembab bertarung dengan penat.
namun ujung hari selalu sama.
diam, dan lampu kuning, dengan secangkir teh hangat.
lalu kamu yang selalu kukenal sepanjang masa.
2.1.16
nanti.
sampailah di penghujung. kotak-kotak tersusun rapi.
remah-remah cerita tersapu bersih. air mata mengering.
kecuali yang mengalir di pipimu.
berpisahlah pandang-pandangan kita.
kini ada rindu yang takkan pernah matang bergelayut di tepian
selamanya.
senyum bukan lagi milikku untuk kuberikan
jadi tanda terakhir untuk perjalanan maha panjang.
sampai di sini.
karena nanti sudah terlepas dari hati-hati kita.
remah-remah cerita tersapu bersih. air mata mengering.
kecuali yang mengalir di pipimu.
berpisahlah pandang-pandangan kita.
kini ada rindu yang takkan pernah matang bergelayut di tepian
selamanya.
senyum bukan lagi milikku untuk kuberikan
jadi tanda terakhir untuk perjalanan maha panjang.
sampai di sini.
karena nanti sudah terlepas dari hati-hati kita.
29.12.15
diri.
kepingan resah berhenti pada pagar.
lalu setelah halaman, ada rumah yang tak kenal kata pulang.
ada tangan-tangan maya yang mereka-reka akhir cerita.
tanpa kertas dan pena.
tanpa "aku" dan "kamu".
dengan jiwa pengembara dan kepala laksana samudera,
dan hati yang belum duduk sempurna,
cukuplah sebuah jalan memutar menggenapkan sebilangan.
diri.
lalu setelah halaman, ada rumah yang tak kenal kata pulang.
ada tangan-tangan maya yang mereka-reka akhir cerita.
tanpa kertas dan pena.
tanpa "aku" dan "kamu".
dengan jiwa pengembara dan kepala laksana samudera,
dan hati yang belum duduk sempurna,
cukuplah sebuah jalan memutar menggenapkan sebilangan.
diri.
28.12.15
.15
sekian tentang rasa,
tirai pun turun.
tak ada lagi tangan-tangan yang sibuk menyibak,
karena mereka sudah mengantongi surat jalan.
berikutnya adalah tentang asa.
tirai pun usang, dan panggung berlubang.
yang ada tinggal kaki-kaki kecil pembuat jejak,
pada belantara tanpa bekal naskah.
tirai pun turun.
tak ada lagi tangan-tangan yang sibuk menyibak,
karena mereka sudah mengantongi surat jalan.
berikutnya adalah tentang asa.
tirai pun usang, dan panggung berlubang.
yang ada tinggal kaki-kaki kecil pembuat jejak,
pada belantara tanpa bekal naskah.
hujan di akhir.
panas.
air-air bertahan di udara,
sementara waktu tidak juga tepat.
hingga akhirnya deras,
dan tak mampu menahan kaki-kaki yang ingin pergi.
air-air bertahan di udara,
sementara waktu tidak juga tepat.
hingga akhirnya deras,
dan tak mampu menahan kaki-kaki yang ingin pergi.
27.11.15
jatuh rindu.
mungkin perempuan dalam kepalaku sedang jatuh rindu.
pada kelebat jejak langkah laki-laki,
yang mulai beranjak dari sudutnya.
laki-laki yang menari bersama debu :
pencinta sejati hari ini.
mungkin perempuan dalam hatiku pun ikut berdebar,
dan tangan-tangan penuh ragu,
tanpa kuasa menahan kaki-kaki yang pasti menurut pada angin.
kaki-kaki yang dulu terjulur di samping,
sambil bersama menyimak sepi.
tidakkah cerita yang bertukar lewat jalinan hening
adalah rumah bagi pejalan seperti aku dan dia?
biarlah perempun dan laki-laki dalam kami
yang mengeja akhir cerita nanti.
pada kelebat jejak langkah laki-laki,
yang mulai beranjak dari sudutnya.
laki-laki yang menari bersama debu :
pencinta sejati hari ini.
mungkin perempuan dalam hatiku pun ikut berdebar,
dan tangan-tangan penuh ragu,
tanpa kuasa menahan kaki-kaki yang pasti menurut pada angin.
kaki-kaki yang dulu terjulur di samping,
sambil bersama menyimak sepi.
tidakkah cerita yang bertukar lewat jalinan hening
adalah rumah bagi pejalan seperti aku dan dia?
biarlah perempun dan laki-laki dalam kami
yang mengeja akhir cerita nanti.
22.11.15
di balik kelambu.
ia pulang,
bermandikan sisa petang belakang rumah.
siulannya serak, mengumpulkan suara yang bercerai dengan lagu semusim.
aku lelah.
lalu tertungkup ia di atas perahu.
yang tambatannya lepas oleh purnama,
dan mengalir mencari hulu.
jejaknya hilang.
bayang-bayang bintang berlari pada muka air,
yang riaknya gelisah,
ketakutan oleh pekatnya malam.
ia di sana.
aku pulang,
dengan sampai jumpa yang tertinggal di ujung lidah.
dan mata-mata ingin tahu,
di balik kelambu.
bermandikan sisa petang belakang rumah.
siulannya serak, mengumpulkan suara yang bercerai dengan lagu semusim.
aku lelah.
lalu tertungkup ia di atas perahu.
yang tambatannya lepas oleh purnama,
dan mengalir mencari hulu.
jejaknya hilang.
bayang-bayang bintang berlari pada muka air,
yang riaknya gelisah,
ketakutan oleh pekatnya malam.
ia di sana.
aku pulang,
dengan sampai jumpa yang tertinggal di ujung lidah.
dan mata-mata ingin tahu,
di balik kelambu.
8.10.15
catatan.
semua catatan ini akan usang oleh masa,
begitupun rasa. akan lapuk oleh musim.
pengingat tinggal janji dan menjejak,
semata awal mula ketulusan,
dan berakhir dengan "ingatkah sang janji?"
tahun bertalu melawan waktu,
resah bergema seiring timbunan tanya
akan benar dan salah,
yang nyatanya harus bungkam oleh kategori.
tidakkah kamu jadi takut mencatat,
kepingan-kepingan yang akan busuk tenggelam dalam praduga?
tentunya.
tapi jika tidak mencatat, maka aku mati.
begitupun rasa. akan lapuk oleh musim.
pengingat tinggal janji dan menjejak,
semata awal mula ketulusan,
dan berakhir dengan "ingatkah sang janji?"
tahun bertalu melawan waktu,
resah bergema seiring timbunan tanya
akan benar dan salah,
yang nyatanya harus bungkam oleh kategori.
tidakkah kamu jadi takut mencatat,
kepingan-kepingan yang akan busuk tenggelam dalam praduga?
tentunya.
tapi jika tidak mencatat, maka aku mati.
23.8.15
telaga.
satu pagi kulihat telaga di matamu,
dan jejak-jejak matahari di dasarnya.
kamu, dan senandung fajarmu
yang menggema dalam fana.
telagamu, yang jernihnya membangunkan jiwa
di tengah lelapnya rindu yang memburu.
lalu kupanggil matamu,
dan kuselami hingga ke antara bukit.
karena mengenalmu adalah mengenal matahari
yang tahu setiap celah pada dalammu.
dan jejak-jejak matahari di dasarnya.
kamu, dan senandung fajarmu
yang menggema dalam fana.
telagamu, yang jernihnya membangunkan jiwa
di tengah lelapnya rindu yang memburu.
lalu kupanggil matamu,
dan kuselami hingga ke antara bukit.
karena mengenalmu adalah mengenal matahari
yang tahu setiap celah pada dalammu.
12.8.15
dalam mimpi.
lelaki yang tak pernah pulang,
kutemukan kamu dalam mimpi.
rasanya adalah tadi malam,
tapi sungguh itu tujuh tahun di belakang.
pada pagar beranda aku menatapmu,
yang bersembunyi berpunggung matahari senja.
tidakkah ada satu patah yang ingin kau lepas,
sebelum samudra menelanmu?
suara tangis gerimis tengah malam,
senandungmu yang penuh rindu, terlambat sampai kupingku.
semesta lelap, melupakanmu, melupakanku,
nyenyak bersama tautan yang menjelang di antara jemari.
mimpi putus oleh dunia,
dan rodanya yang menggilas serpihan tertinggal
sebuah rasa yang menjadikan tidur berbunga,
sepetik ragu yang menjadikan bunga laksana tanda.
ilusi bermain sampai pikiran,
berputar bersama takut, bersama percaya,
seakan tanda adalah segalanya.
padahal tak semua hati sanggup benar membacanya.
kutemukan kamu dalam mimpi.
rasanya adalah tadi malam,
tapi sungguh itu tujuh tahun di belakang.
pada pagar beranda aku menatapmu,
yang bersembunyi berpunggung matahari senja.
tidakkah ada satu patah yang ingin kau lepas,
sebelum samudra menelanmu?
suara tangis gerimis tengah malam,
senandungmu yang penuh rindu, terlambat sampai kupingku.
semesta lelap, melupakanmu, melupakanku,
nyenyak bersama tautan yang menjelang di antara jemari.
mimpi putus oleh dunia,
dan rodanya yang menggilas serpihan tertinggal
sebuah rasa yang menjadikan tidur berbunga,
sepetik ragu yang menjadikan bunga laksana tanda.
ilusi bermain sampai pikiran,
berputar bersama takut, bersama percaya,
seakan tanda adalah segalanya.
padahal tak semua hati sanggup benar membacanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)