Showing posts with label #gunung. Show all posts
Showing posts with label #gunung. Show all posts

27.11.15

jatuh rindu.

mungkin perempuan dalam kepalaku sedang jatuh rindu.
pada kelebat jejak langkah laki-laki,
yang mulai beranjak dari sudutnya.

laki-laki yang menari bersama debu :
pencinta sejati hari ini.

mungkin perempuan dalam hatiku pun ikut berdebar,
dan tangan-tangan penuh ragu,
tanpa kuasa menahan kaki-kaki yang pasti menurut pada angin.

kaki-kaki yang dulu terjulur di samping,
sambil bersama menyimak sepi.

tidakkah cerita yang bertukar lewat jalinan hening
adalah rumah bagi pejalan seperti aku dan dia?

biarlah perempun dan laki-laki dalam kami
yang mengeja akhir cerita nanti.

27.8.14

signs.


.
too many signs i must try hard to interpret. my brain burns as the sun. my heart itches as the mosquito bit. too many pauses those couldn't be undone, yet times, as you know it, never stops. 

there are days when sunsets were orange, rather than red. a perfect round of orange. those days, the orange days. the days arrived through your presence, unprecedented, unpredictable. just happened.

these days are busy days. sunsets barely had colors. sunsets barely acted as day's second bookmark. time, as you know it, never stops. never listens. never sees. 

a one fine day awaits, though. another different perfect day where sunsets fall, just like an orange from its tree. with a pair of hands to catch it, with a laugh following a yell from inside the house. grandpa's.

a day i'll be able to reach, with your presence, once again. similarly unprecedented. predictable. and this time, it's us that make it happen. 

and then, there will definitely be a sunrise for us to start another chapter of sunsets catching, with an orange in our pocket.

(notes : this is not a translation of the song. but rather, this is an interpretation of the drama's opening of which this song is one of its soundtracks)

10.6.14

[notes] a short take of an "i miss you".

every now and then, i always promised myself
not to be in love,
of which the "i miss you" is too hurtful to say.

nonetheless those're just words.
a kind of
melted ice, evaporated water, sublimed steam.

i dare not say it a 'too late',
i dare to say it a 'not that mature enough'.

"i miss you" is like a signed-out messenger,
a terminated telepathy.
yet, a prerequisite to a love letter.


talk about now,
i'm about to promise myself
to fall in love,

this time to a kind of which the "i miss you" would bleed my heart out until its last drop
so then i would had only emptiness as an "i love you".


i miss you.

3.5.14

4 | bumi dan air.

pada diam yang berlalu,
ada tanya yang terkatakan dengan tanda seru.

lalu ada pesan terakhir penghapus garis, menjadikan tanda seru semata titik yang bersahabat,
hingga nanti dalam sebuah catatan.

pada ceritamu yang tersendat,
ada tanya yang menghilang bersama arus.

lalu ada pesan tak kunjung datang, hingga arus terlanjur bermuara
dan tanya ikut terhanyut, menjadi hantu hingga nanti cerita mencapai ujungnya.

.
bumi dan air,
bertemu (kembali) di tengah cerita
dengan ajakan berdamai pada diam
untuk memanggil (kembali) sang tanya ke antara mereka.


.
(tulisan ini dibuat di suatu hari menjelang akhir tahun 2012, tapi diputuskan untuk dipublikasikan dengan sedikit penyesuaian di hari ini. tentang sebuah pertanyaan di bulan oktober 2011, yang hanyut bersama waktu hingga menguap di bulan april 2012. tentang sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab, yang mungkin memang tak berjawab.)

29.4.14

7 | perjalanan.

(Candi Ratu Boko, Juni 2010)

.
perjalanan memintamu (selalu) untuk jatuh hati.
keindahan menjadi sesuatu yang tak berlabelkan harga :

waktu yang membumi,
dan ruang yang mengudara.

.
perjalanan mengingatkanmu (juga) untuk tak lupa berpatah hati.
denyut jantung perlahan mengiris rekaman berwarna hijau yang baru sampai ke hati :

rasa yang berlabuh (sesaat) di ujung sinar mata,
dan aroma jarak sepelemparan senyuman.

.
lalu akhirnya, 
pada pulang tak ada seperjalanan untuk selamanya

24.2.14

Jatuh cinta : musim kedua.

Jatuh cinta kali ini seperti daun daun pohon mahoni saat meranggas
Tak kenal dahulu mendahului dalam kecepatan melepaskan diri dari ranting
Tak kenal menunggu yang terdahulu selesai dengan tanah

Jatuh cinta ya seperti daun-daun itu. Kuning. Ringan. Lepas. Melayang. Tak berarah. Hingga menyentuh dasar.

Jatuh.

Dan sekali angin, cinta-cinta kering itu lalu tersapu bersih

20.1.14

: rindu.

rindu tertahan mimpi,
pada sayup hujan sebelum ia deras.
pada sepoi angin sebelum ia badai.

rindu tertahan waktu,
pada sekrup-sekrup pemutar jarum.
pada lebihnya sepasir pada jam kaca.

rindu tertahan hati,
pada matahari yang berpulang pada pagi.
pada gunung yang terlelap pada mimpi.

2.12.13

untitled #1

rindu ini tak punya nama,
ia tumbuh bukan pada hati,
dan besar tanpa jarak.

rindu ini lahir dengan berisik,
namun tak tertanda oleh telinga,
karena mereka sibuk ingin mendengar langkah-langkah (lain) yang mengendap.

rindu ini diam, tidak kemana-mana,
menunggu untuk dijawab,
menunggu untuk diberikan hati.

dibalik rimba pikiran,
yang diantaranya tak berjejak.

27.10.13

untitled #6

sinar matamu adalah buku yang paling ingin aku baca saat ini,
namun ia beraksara yang tak kupahami.

24.10.13

untitled #7

matahari membakar malam dari balik bumi, menghanguskan senja yang bersisa di depan pintu, sebelum sempat ia mengetuk hati sang waktu demi satu jeda untuknya meninggalkan sebersit rona merah pada si langit.

22.10.13

untitled #4

cemburu adalah pagi yang mendung, siang yang terik, dan sore hujan badai.

menyembuhkannya adalah dengan sedikit merah, sedikit kuning, dan sedikit malam.

sayangnya cemburu tak pernah benar-benar lelap. ialah yang berjaga ketika ada penyelinap yang tiba-tiba menutup mata dari belakang.

13.10.13

untitled #9

malam tak pernah habis terbelah oleh perjalanan.
udara yang mengekor di setiap keberangkatan,
adalah sekaligus perekat bagi langit yang terderai oleh perpisahan.

ceritamu menitikkan setetes air di ujung bumi,
yang menjadi awan-awan penjaga sebuah pengembaraan,
dan peneduh tanah-tanah tempat pulang.

ceritanya, adalah yang kamu tunggu,
di balik sebaris "selamat kembali ke rumah",
sekalipun itu hanya hembusan nafas yang tarikannya kaulepas seperjalanannya lalu.

11.9.13

bayang.

saat matahari tepat di atasmu,
percayakanlah semua pada bayang-bayang dirimu.

karena ia sedang yakin-yakinnya
dengan hati tertanam pada bumi :

tentang keraguanmu, yang menjadikannya ada
dan tentang kesepian itu tidak punya bayang-bayang.

1.9.13

september.

musim mendatangkan cita-cita,
musim juga yang membesarkannya

musim lalu membiarkannya terbang,
atau menguburkannya dalam-dalam, membusuk hingga terurai

musim juga yang memanggilnya kembali,
mengadakannya dalam satu tiupan angin seperti ia membalik diri

september datang saat musim sedang di tengah-tengah membalik arah,
tersenyum dari samping memenuhi panggilan tetibanya

yang selalu ingat waktu september dibiarkannya berlalu.

24.4.13

jaga.

Untuk jiwa yang berjaga semalaman
mengingatnya, ia pun menjanjikan penjagaan.

Untuk hati yang terjaga karena resah,
ada tentram yang tertahan pinta yang gundah.

Kepada sang maha penjaga,
kutitipkan dia yang lebih dari sebuah berharga.

19.9.12

gunung #5

mungkin ego saya memang terlalu tinggi untuk tidak berkata "tidak ada penyesalan"
bagaimanapun, penyesalan memang tidak ada gunanya, itu adalah sebenar-benarnya
dan saya, terlepas dari tingginya si ego, sungguh tidak suka membuang-buang jatah 
hati dan pikiran untuk sesuatu yang tidak ada gunanya

tapi, jika boleh ada satu saja pengecualian,
jika boleh saya matikan suri si ego sebentar saja,
saya ingin sekali bilang begini
bahwa saya setengah mati menyesal
akan ada banyaknya dari masa usia belasan dan awal dua puluhan 
yang tidak saya habiskan dengan naik gunung.

tersenyum melihat matahari datang pelan-pelan
mendengarkan indonesia raya sayup-sayup
melihat merah putih kecil yang terbawa berkibar-kibar
dan pastinya menulis puisi tentang kesendirian yang sejati.


itu saja.
dan percayalah, penyesalan ini ada hanya untuk penyesalan itu sendiri.
bukan untuk membuat saya merasa buruk, apalagi depresi.
bukan untuk membuat saya merasa rendah, apalagi tidak berguna.
ia hanya mau bilang,
kata siapa tidak ada mimpi yang kesiangan?

12.9.12

gunung #4

usiaku termakan kencangnya detak nadi,
sementara bersisa panjang perjalanan yang masih kelaparan
juga pencarian yang tetap pada dahaganya.

dan rumah yang belum selesai,
dengan kotak surat warna merah dan pagar kayu bercat putih aster, setia di sebuah ujung.

gunung #3

aku kesiangan. untuk sebuah saja senja di code.
malam datang terlalu cepat, memakan lampu kota pembingkai si kali besar.

aku kesiangan. untuk sebuah harap-harap ragu yang pernah terlintas,
waktu itu ada kamu di sebelah.
pagi tak bisa menahan kelabu turun dari gunung,
bergumul dengan biru sang bayangan langit tengah pulau.

aku kesiangan. untuk sebuah senja yang merah.
kereta tak mau menunggu penantian tanpa jejak yang dikenal.

6.9.12

gunung #2

waktu itu...

.
tangan kiri ayah menghalangi sinar matahari pukul tujuh pagi,
ia itu lewat sedikit dari sinar-sinarnya kala terbit yang memilin detik-detik dengan halusnya.
tidakkah kamu pun terpukau?

tangan kanan ayah memegang erat-erat pundakmu,
kamu ingat? ia bilang tegas-tegas :
naik sampai puncak, supaya kamu adil, tajam pikiranmu dan halus perasaanmu.

aku di sebelah kananmu,
berjongkok, sibuk merangkul badan kecilmu
sambil lalu berbisik :

lihat langit biru di atas? ia adalah batas yang menembus batasnya sendiri.
di sini tempat yang sempurna untukmu membuat janji dengan diri.
di sini adalah sedekat-dekatnya jarak antara kamu dan hatimu.
.

...waktu aku masih percaya pada negeri bernama dongeng

gunung #1

dia bercerita sebagai perpisahannya ;
tentang langit malam utara yang mampir ke selatan untuk pertama kali.

katanya :
negeri dongeng itu tidak benar-benar ada,
ia adalah muka bumi yang tak pernah terlintas dalam benakmu untuk tersenyum padanya.
sekali ini saja, kamu harus percaya.