bagaimana caramu merindu, Ksatria?
apakah dengan tertegun-tegun memandang keluar kaca jendela apartemenmu?
apakah dengan goresan-goresan acak menyayat pada selembar tissue yang kini koyak dalam kepalanmu?
apakah dengan tombol panggil pada telepon selularmu, yang selalu kau batalkan bahkan sebelum panggilan pertama sampai pada si pemilik nomor?
apakah dengan menangis sambil mendengarkan lagu-lagu cinta pada radio, setelah memastikan pintu kamarmu terkunci sempurna?
ataukah sepertiku, dengan menarikan jemari cepat-cepat di atas papan tombol jari berwarna hitam, sambil tersenyum-senyum sendiri, dan sesekali menangis? walau aku yakin, kau pun pasti tahu sebagaimana aku tahu, takkan pernah ada rangkaian aksara yang sanggup membungkus rasa rindu, adakah?
bagaimana caramu merindu, Ksatria?
sungguh aku hanya ingin tahu. siapa tahu bisa kutiru. siapa tahu dengan begitu rindu ini akan sampai padamu.
bagaimana cara merindumu Ksatria?
6.8.11
6 | cukup.
seperti segaris sempurna penghubung titik-titik tak berhingga yang tersebar dalam semesta,
telah Ia cukupkan segalanya bagimu juga bagiku,
dan ingin dilihatNya dirimu juga diriku, saling menggenapkan pinta dengan langkah juga doa.
seperti sabit, serupa penanda satu putaran bulan,
telah Ia lengkapi setiap penggal cerita dengan pertemuan,
dan ingin disaksikanNya, bagaimana aku dan kamu bermain di antaranya.
telah Ia cukupkan segalanya bagimu juga bagiku,
dan ingin dilihatNya dirimu juga diriku, saling menggenapkan pinta dengan langkah juga doa.
seperti sabit, serupa penanda satu putaran bulan,
telah Ia lengkapi setiap penggal cerita dengan pertemuan,
dan ingin disaksikanNya, bagaimana aku dan kamu bermain di antaranya.
5.8.11
5 | sleep.
Watching how fast the timeline in twitter is moving, especially on certain trending topics, i wonder does the world ever really sleep?
And, so how can we ever expect God to sleep from watching us?
If any tiny movements were caught, and if any hushes were heard, what is to hide and what is not to pray?
It's (still) a little wonders (to me) of how things work and go in many particular ways those all (still) under the same Control.
And, so how can we ever expect God to sleep from watching us?
If any tiny movements were caught, and if any hushes were heard, what is to hide and what is not to pray?
It's (still) a little wonders (to me) of how things work and go in many particular ways those all (still) under the same Control.
4.8.11
4 | kesehatan.
Tahun ini dua kali sudah saya terkena serangan flu, dengan tahap-tahap seperti ini : h1--tenggorokan sakit, mata perih dan sedikit pusing; mirip gejala panas dalam >> h2--radang tenggorokan semakin menjadi, ditambah gejala flu, sedikit pusing dan demam >> h3--radang tenggorokan sedikit menghilang, flu semakin menjadi, kadang ditambah batuk dan pusing serta demam >> h4--flu dalam kondisi parah-parahnya, demam, pusing, lemas dan mudah sekali berimajinasi seakan sudah melakukan ini dan itu, padahal belum >> h5--flu sedikit membaik, demam, pusing dan lemas juga mulai berkurang >> h6&h7--kondisi mulai membaik.
Masalahnya, terkena serangan sakit, walaupun mungkin "hanya" flu (plus plus demam, pusing dan radang tenggorokan), pada waktu-waktu sekarang di mana kata "tesis" mendadak muncul di mana-mana sungguhlah menguras energi. Apalagi di saat-saat demam dan pusing, sering sekali didatangi mimpi-mimpi aneh, semisal mimpi dimarahin dosen-dosen pembimbing, mimpi sidang (padahal jadwal belum keluar), lalu mimpi seakan-akan berada di dalam ruang yang dikelilingi oleh kertas-keertas berilustrasi diagram, tabel, peta dan entah apa lagi. Lebih parah lagi, kalau di dalam mimpi itu, ceritanya di depan saya terpampang layar komputer besar dengan program pengolah fotografis yang sedang menyala dilengkapi dengan perintah tertentu, dalam hal ini yang bersimbol pipet (maaf, istilah ini memang agak lokal).
Intinya, sakit itu nggak enak, apalagi di bulan puasa seperti ini. Dan saya sedang tidak ingin terlalu banyak merecoki tubuh saya dengan obat-obatan kimia. Tapi setelah tiga hari, rasanya nggak tahaaaaannn *lebay*. Dan akhirnya saya pun menyerah dengan menenggak sebutir kaplet obat flu. Hiks. Apa boleh buat. Saya sedang dalam kondisi tidak boleh tumbang lebih dari seminggu.
Walaupun saya percaya tubuh punya bahasanya sendiri untuk mengirimkan tanda pada kita bahwa ia perlu diperhatikan lebih, kadang saya justru (dengan sengaja) memilih untuk (pura-pura) tidak mendengarnya.
Dilematis memang. Di satu sisi, tubuh adalah titipanNya yang juga harus kita jaga agar ia dapat berfungsi optimal bagi kita, termasuk sebagai alat utama yang membantu kita mengejar cita-cita. Namun di sisi lain, demi mengejar si cita-cita, si tubuh pun menjadi terabaikan, dimanfaatkan habis-habisan dengananggapan harapan dia tidak akan kenapa-kenapa. Sekali lagi, dilematis. Saya pun masih sering untuk memilih yang kedua tersebut.
Tapi kalau sudah begini, nggak bisa apa-apa juga kan? Kepala pusing dan badan meriang, belum jika ditambah batuk dan hidung yang terus-menerus mengeluarkan suara aneh, mana bisa diajak berpikir, apalagi bekerja. *Tapi masih sempat ya mengetik sepanjang ini???*
Laptop aja bisa protes dengan blue screen *loh*.
Masalahnya, terkena serangan sakit, walaupun mungkin "hanya" flu (plus plus demam, pusing dan radang tenggorokan), pada waktu-waktu sekarang di mana kata "tesis" mendadak muncul di mana-mana sungguhlah menguras energi. Apalagi di saat-saat demam dan pusing, sering sekali didatangi mimpi-mimpi aneh, semisal mimpi dimarahin dosen-dosen pembimbing, mimpi sidang (padahal jadwal belum keluar), lalu mimpi seakan-akan berada di dalam ruang yang dikelilingi oleh kertas-keertas berilustrasi diagram, tabel, peta dan entah apa lagi. Lebih parah lagi, kalau di dalam mimpi itu, ceritanya di depan saya terpampang layar komputer besar dengan program pengolah fotografis yang sedang menyala dilengkapi dengan perintah tertentu, dalam hal ini yang bersimbol pipet (maaf, istilah ini memang agak lokal).
Intinya, sakit itu nggak enak, apalagi di bulan puasa seperti ini. Dan saya sedang tidak ingin terlalu banyak merecoki tubuh saya dengan obat-obatan kimia. Tapi setelah tiga hari, rasanya nggak tahaaaaannn *lebay*. Dan akhirnya saya pun menyerah dengan menenggak sebutir kaplet obat flu. Hiks. Apa boleh buat. Saya sedang dalam kondisi tidak boleh tumbang lebih dari seminggu.
Walaupun saya percaya tubuh punya bahasanya sendiri untuk mengirimkan tanda pada kita bahwa ia perlu diperhatikan lebih, kadang saya justru (dengan sengaja) memilih untuk (pura-pura) tidak mendengarnya.
Dilematis memang. Di satu sisi, tubuh adalah titipanNya yang juga harus kita jaga agar ia dapat berfungsi optimal bagi kita, termasuk sebagai alat utama yang membantu kita mengejar cita-cita. Namun di sisi lain, demi mengejar si cita-cita, si tubuh pun menjadi terabaikan, dimanfaatkan habis-habisan dengan
Tapi kalau sudah begini, nggak bisa apa-apa juga kan? Kepala pusing dan badan meriang, belum jika ditambah batuk dan hidung yang terus-menerus mengeluarkan suara aneh, mana bisa diajak berpikir, apalagi bekerja. *Tapi masih sempat ya mengetik sepanjang ini???*
Laptop aja bisa protes dengan blue screen *loh*.
3.8.11
3 | e...ca...
Di antara pertarungan seumur hidup melawan diri sendiri adalah menghadapi sifat nyolot saya. Berasal kata 'solot' yang artinya 1) gemas, atau 2) marah sekali, sifat yang bentuk ekspresinya ditandai dengan menaiknya nada bicara ditambah dengan pilihan kata yang sifatnya defensif, sifat satu ini sungguhlah tidak enak didengar, dilihat, apalagi dipelihara.
Maka "kenapa tetap dipelihara dong nyolotnya?" tentunya menjadi salah satu pertanyaan yang sulit saya jawab (tentunya selain pertanyaan "kapan kawin?").
Sebagai perempuan Aries (kok bawa-bawa astrologi??), walaupun tampak luar terlihat (agak) tenang, saya memang merasa memiliki ego yang (terlalu) tinggi. Saya mungkin jarang terlihat komplen, tapi sebenarnya hati saya selalu bergejolak saat melihat hal-hal yang berjalan tidak sesuai yang saya harapkan atau, sejujurnya, berjalan tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan bagaimana seharusnya ia berjalan.
Tetapi, dunia memang tidak berjalan sesuai keinginan saya (saja) kan?
Untuk beberapa hal, akhirnya saya bisa berdamai dengan jalan kompromi. Ada beberapa "seharusnya" versi saya yang akhirnya saya tinjau kembali. Mungkin bahkan kata "seharusnya" (begini atau begitu) itu sebenarnya tidak ada *nah, ini tidak mungkin, karena jelas ada kata "harus" dalam KBBI*.
Sayangnya, untuk beberapa hal sisanya, saya belum sanggup untuk berdamai. Tapi, ya kan nggak mungkin juga saya sampai entah kapan terus-menerus marah-marah untuk hal-hal yang sama, padahal di sisi lain saya juga tahu bahwa hal-hal yang membuat saya marah tersebut tidak akan pernah berubah. Kecuali kalau saya mau mengubah cara pandang saya akan hal tersebut tentunya, yang mana hal tersebut (saat ini) tidak mungkin *ya kalau begitu ceritanya namanya berdamai dong, sedangkan ini kan kasus di mana saya ceritanya belum bisa berdamai*.
Saya memang tidak bisa mengendalikan kapan emosi bisa mendatangi saya dan kapan tidak, tapi saya bisa memilih bagaimana saya berurusan dengannya. Jika sebelum-sebelumnya saya memilih untuk berurusan dengannya dengan penuh kehebohan (solot sana solot sini), beberapa waktu terakhir ini, saya memilih untuk berusan dengannya dengan berbisik-bisik (nggak nyolot maksudnya).
Susah yaaaaa ~.~
Apalagi ketika orang-orang di sekitar saya sudah terlanjur terbiasa dan bahkan menerima kenyataan bahwa saya orangnya nyolot. Sedih rasanya. Dan bukan sekali dua kali saya 'tergoda' untuk tetap memelihara sifat nyolot ini, karena pikir saya, toh sekuat apapun saya berusaha untuk berubah, tidak ada orang yang akan menyadarinya atau lebih parah, mengapresiasinya. Tanggapan yang bermunculan pun biasanya berkisar pada "udahlah, nyolot mah nyolot aja" atau "udah bawaan juga" dan komentar-komentar lain yang sebangsa. Kesal? Tentu saja *makanya setiap usaha itu kadang berakhir dengan menyerah*.
Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sifat saya adalah urusan saya dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Bukan urusan orang lain. Bukankah aneh rasanya saat saya merasa kecil hati hanya karena beberapa orang, yang mungkin sebenarnya juga nggak kenal-kenal amat dengan saya, meragukan niat saya untuk memperbaiki diri?
Maka, akhir-akhir ini, di saat-saat saya merasa ingin meledak karena hal-hal yang mungkin kurang penting maka saya pun berlatih menghadapinya denganmenghitung domba membatin "e...ca...pedehhh".
Terdengar basi? Memang. Tapi percayalah, itu ampuh untuk saya. Setiap kali saya merasa terpancing atau terintimidasi dengan orang lain yang berbuntut munculnya emosi-emosi berwarna kelam dalam diri saya, saya selalu mengingat kata-kata sakti tadi, dan meluncurkannya dengan mulus dari mulut dalam hati saya.
Setelah itu, hidup saya pun kembali tenang seakan-akan si hal-hal menyebalkan itu tidak pernah ada, padahal ada, banget, di situ. Tapi saya nggak perlu membuat hidup saya ikut-ikutan jadi menyebalkan, bukan? Kasihan orang lain kalau harus selalu membatin "e...ca...pedeh" setiap kali berhadapan dengan saya.
.
Catatan 1 : terimakasih untuk siapapun yang mempopulerkan istilah "e...ca...(pedeh)" itu beberapa tahun yang lalu.
Catatan 2 : seperti kata Safir Senduk dalam salah satu twit-nya "Terima seseorang apa adanya. Bukan adanya apa." dan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan, maka berilah ruang untuk perubahan itu, baik pada sesuatu maupun seseorang :)
Maka "kenapa tetap dipelihara dong nyolotnya?" tentunya menjadi salah satu pertanyaan yang sulit saya jawab (tentunya selain pertanyaan "kapan kawin?").
Sebagai perempuan Aries (kok bawa-bawa astrologi??), walaupun tampak luar terlihat (agak) tenang, saya memang merasa memiliki ego yang (terlalu) tinggi. Saya mungkin jarang terlihat komplen, tapi sebenarnya hati saya selalu bergejolak saat melihat hal-hal yang berjalan tidak sesuai yang saya harapkan atau, sejujurnya, berjalan tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan bagaimana seharusnya ia berjalan.
Tetapi, dunia memang tidak berjalan sesuai keinginan saya (saja) kan?
Untuk beberapa hal, akhirnya saya bisa berdamai dengan jalan kompromi. Ada beberapa "seharusnya" versi saya yang akhirnya saya tinjau kembali. Mungkin bahkan kata "seharusnya" (begini atau begitu) itu sebenarnya tidak ada *nah, ini tidak mungkin, karena jelas ada kata "harus" dalam KBBI*.
Sayangnya, untuk beberapa hal sisanya, saya belum sanggup untuk berdamai. Tapi, ya kan nggak mungkin juga saya sampai entah kapan terus-menerus marah-marah untuk hal-hal yang sama, padahal di sisi lain saya juga tahu bahwa hal-hal yang membuat saya marah tersebut tidak akan pernah berubah. Kecuali kalau saya mau mengubah cara pandang saya akan hal tersebut tentunya, yang mana hal tersebut (saat ini) tidak mungkin *ya kalau begitu ceritanya namanya berdamai dong, sedangkan ini kan kasus di mana saya ceritanya belum bisa berdamai*.
Saya memang tidak bisa mengendalikan kapan emosi bisa mendatangi saya dan kapan tidak, tapi saya bisa memilih bagaimana saya berurusan dengannya. Jika sebelum-sebelumnya saya memilih untuk berurusan dengannya dengan penuh kehebohan (solot sana solot sini), beberapa waktu terakhir ini, saya memilih untuk berusan dengannya dengan berbisik-bisik (nggak nyolot maksudnya).
Susah yaaaaa ~.~
Apalagi ketika orang-orang di sekitar saya sudah terlanjur terbiasa dan bahkan menerima kenyataan bahwa saya orangnya nyolot. Sedih rasanya. Dan bukan sekali dua kali saya 'tergoda' untuk tetap memelihara sifat nyolot ini, karena pikir saya, toh sekuat apapun saya berusaha untuk berubah, tidak ada orang yang akan menyadarinya atau lebih parah, mengapresiasinya. Tanggapan yang bermunculan pun biasanya berkisar pada "udahlah, nyolot mah nyolot aja" atau "udah bawaan juga" dan komentar-komentar lain yang sebangsa. Kesal? Tentu saja *makanya setiap usaha itu kadang berakhir dengan menyerah*.
Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sifat saya adalah urusan saya dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Bukan urusan orang lain. Bukankah aneh rasanya saat saya merasa kecil hati hanya karena beberapa orang, yang mungkin sebenarnya juga nggak kenal-kenal amat dengan saya, meragukan niat saya untuk memperbaiki diri?
Maka, akhir-akhir ini, di saat-saat saya merasa ingin meledak karena hal-hal yang mungkin kurang penting maka saya pun berlatih menghadapinya dengan
Terdengar basi? Memang. Tapi percayalah, itu ampuh untuk saya. Setiap kali saya merasa terpancing atau terintimidasi dengan orang lain yang berbuntut munculnya emosi-emosi berwarna kelam dalam diri saya, saya selalu mengingat kata-kata sakti tadi, dan meluncurkannya dengan mulus
Setelah itu, hidup saya pun kembali tenang seakan-akan si hal-hal menyebalkan itu tidak pernah ada, padahal ada, banget, di situ. Tapi saya nggak perlu membuat hidup saya ikut-ikutan jadi menyebalkan, bukan? Kasihan orang lain kalau harus selalu membatin "e...ca...pedeh" setiap kali berhadapan dengan saya.
.
Catatan 1 : terimakasih untuk siapapun yang mempopulerkan istilah "e...ca...(pedeh)" itu beberapa tahun yang lalu.
Catatan 2 : seperti kata Safir Senduk dalam salah satu twit-nya "Terima seseorang apa adanya. Bukan adanya apa." dan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan, maka berilah ruang untuk perubahan itu, baik pada sesuatu maupun seseorang :)
2.8.11
2 | puasa dan godaannya.
Sebenarnya, di bulan puasa ini saya (lagi-lagi tidak kapok) merencanakan program menulis 30hari. Hanya saja kali ini, tulisan-tulisan akan lebih bersifat refleksi (berhubung bulan Ramadhan) dalam bentuk tulisan pendek-pendek saja. Program menulis 30hari ini sebenarnya adalah sebagai penyeimbang dari program "mengejar 10 Oktober" dan program ber'"Ramadhan 1432 H." Judulnya saja penyeimbang, tapi sebenarnya diselip-selipkan ;p
Untuk hari ini, berhubung mendadak saya, entah kenapa, terkena godaan berupa serangan radang tenggorakan dan gejala flu lengkap dengan meriang (matahari super cerah tapi kok udara rasanya super dingin) *padahal saya nggak minum-minuman dingin loh :(* maka tulisan hari ini saya ganti dengan dokumentasi (karena dengan kondisi seperti ini saya terlalu malas menulis, hehehe), yaitu dokumentasi sekeliling saya selama mengerjakan tesis, khususnya di bulan-bulan terakhir ini.
Ini dia.
Untuk hari ini, berhubung mendadak saya, entah kenapa, terkena godaan berupa serangan radang tenggorakan dan gejala flu lengkap dengan meriang (matahari super cerah tapi kok udara rasanya super dingin) *padahal saya nggak minum-minuman dingin loh :(* maka tulisan hari ini saya ganti dengan dokumentasi (karena dengan kondisi seperti ini saya terlalu malas menulis, hehehe), yaitu dokumentasi sekeliling saya selama mengerjakan tesis, khususnya di bulan-bulan terakhir ini.
Ini dia.
1. papan tempel kartu-kartu penyemangat, terutama yang bergambar keluarga kecil : ayah, bunda dan anak perempuan *loh*
2. laptop yang selalu menyala, secangkir kopi hitam 'aroma' ;) serta corat-coret daftar pekerjaan (yang seharusnya dikerjakan)
3. papan tempel perkakas tesis. tapi ada satu dreamboard yang nyasar tak mengapa lah ya...
adalah sebagai pengingat yang manis, bahwa ada mimpi yang pernah diimpikan, lalu terwujud dan harus diselesaikan,
untuk kemudian bisa bermimpi lagi yang lain, mewujudkannya dan menyelesaikannya.
kata kunci : sabar, jangan terburu-buru namun pasti dalam setiap langkah.
4. rak buku super berantakan, karena buku-bukunya tersebar di sana-sini *padahal dibaca juga belum tentu :p*
5. sesekali ada 'danish pastry' yang menemani secangkir kopi hitam 'aroma' juga layar dengan jendela maya di mana namanya (hampir) selalu menyala : "dilihat boleh, disapa jangan" :)
...dan semoga,
pemandangan ini tidak berlama-lama diam di sini dan semoga saya pun tidak berlama-lama betah melihatnya. Amiinnn...
1.8.11
1 | karena.
adalah sederet alasan yang tersusun rapat-rapat serupa punggung kursi malas.
yang padanya kamu bersandar, lalu bilang "aku jatuh cinta".
maka bersiaplah kau terjengkal jika tahu-tahu putus tali pengikat, dan lalu terserak sebagai alas kepalamu sekumpulan alasan yang kini tanpa makna.
bilanglah kau jatuh cinta, tanpa harus bersandarkan karena.
mencintalah kau, tanpa definisi, apalagi kerangka.
mencintalah kau, apapun yang terjadi.
sehingga perjalanan rasa kelak menjadi pelajaran yang sesungguh-sungguhnya.
jika (memang harus) ada satu karena,
satu saja alasan. mencintalah karena Tuhanmu.
yang padanya kamu bersandar, lalu bilang "aku jatuh cinta".
maka bersiaplah kau terjengkal jika tahu-tahu putus tali pengikat, dan lalu terserak sebagai alas kepalamu sekumpulan alasan yang kini tanpa makna.
bilanglah kau jatuh cinta, tanpa harus bersandarkan karena.
mencintalah kau, tanpa definisi, apalagi kerangka.
mencintalah kau, apapun yang terjadi.
sehingga perjalanan rasa kelak menjadi pelajaran yang sesungguh-sungguhnya.
jika (memang harus) ada satu karena,
satu saja alasan. mencintalah karena Tuhanmu.
.
karena bukahkah begitu Ia mencintaimu?
31.7.11
jarak.
ada rindu terkulum senyum bersimpul.
ada debar tergulung lelapnya memori.
lalu
ada tanya,
terlarut pekat jarak,
dan dingin yang kian menyeruak.
ada debar tergulung lelapnya memori.
lalu
ada tanya,
terlarut pekat jarak,
dan dingin yang kian menyeruak.
rumah.
adalah tempat(ku) berkumpul. dengannya.
dengan jiwa yang waktu itu, sudah lama sekali, menemaniku duduk-duduk di atas bangku kayu,
tepat di sampingku dan menggandeng tangan kananku,
sambil sesekali (bersama) melirik matahari,
memainkan kaki-kaki kami pada rumput segar habis hujan,
dan (lalu) bertukar sapa dengan Tuhan.
dengan jiwa yang waktu itu, sudah lama sekali, menemaniku duduk-duduk di atas bangku kayu,
tepat di sampingku dan menggandeng tangan kananku,
sambil sesekali (bersama) melirik matahari,
memainkan kaki-kaki kami pada rumput segar habis hujan,
dan (lalu) bertukar sapa dengan Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)




