[1]
dirgahayu, pertiwi
semoga senantiasa bersabar memayungi anak-anakmu
adalah tempatku berlindung di hari tua, hingga akhir nanti menutup mata
di mana janji tidak dibangun dengan kata-kata,
dan bakti bukan semata rencana apalagi keinginan lalu.
dan tolong tampar aku, pertiwi
jika ada masanya (nanti) aku (mungkin) memalingkan diri darimu.
[2]
bacalah. dengan menyebut nama tuhanmu.
bacalah.
dengan matamu melekat pada semesta,
dan telingamu erat pada segala pertanda,
bacalah.
dengan kejernihan pikir,
kelapangan jiwa,
dan kebesaran hati.
bacalah.
dan merdekalah dari segala ketidaktahuan yang mengungkung.
17.8.11
16 | tidak sama.
ada rasa senang yang tak sama antara aku dan dia.
begitupun dengan rasa sedih dan kecewa.
ada sementara mata melihat dunia melulu sambil terpekur syukur,
ada sementara lain melihatnya sambil lalu,
ada sementara telinga mendengar apa yang ia cari untuk didengar,
ada sementara lain berdiri tepat di balik pintu, menguping.
ada sementara hidung mencium wangi ratu malam,
ada sementara lain mencium bau busuk di belokan.
ada sementara mulut bertutur kisah kasih tentang cita juga cinta,
ada sementara lain menggumamkan keraguan, bahkan ketakutan.
ada sementara tangan melukis masa depan dunia pada pelupuknya,
ada sementara lain berandai jemarinya berayun di dalam mimpi.
ada sementara kaki melangkah, ke depan dan tak pernah berbalik,
ada sementara lain berjalan mundur dengan penuh keraguan.
ada tanya yang sama-sama aku dan dia cari,
ada tanya yang sama, yang antara aku dan dia, berjawab berbeda.
begitupun dengan rasa sedih dan kecewa.
ada sementara mata melihat dunia melulu sambil terpekur syukur,
ada sementara lain melihatnya sambil lalu,
ada sementara telinga mendengar apa yang ia cari untuk didengar,
ada sementara lain berdiri tepat di balik pintu, menguping.
ada sementara hidung mencium wangi ratu malam,
ada sementara lain mencium bau busuk di belokan.
ada sementara mulut bertutur kisah kasih tentang cita juga cinta,
ada sementara lain menggumamkan keraguan, bahkan ketakutan.
ada sementara tangan melukis masa depan dunia pada pelupuknya,
ada sementara lain berandai jemarinya berayun di dalam mimpi.
ada sementara kaki melangkah, ke depan dan tak pernah berbalik,
ada sementara lain berjalan mundur dengan penuh keraguan.
ada tanya yang sama-sama aku dan dia cari,
ada tanya yang sama, yang antara aku dan dia, berjawab berbeda.
15 | .
hai perempuan,
hari ini, tidakkah kamu ingin bersyukur atas keleluasaan berpendidikan,
mengejar ilmu ke ujung dunia,
agar bisa kautanamkan kelak pada benih-benih masa depan dunia?
lalu katakanlah satu hari negara ketinggalan kereta,
tidakkah bakti bukan tentang kapan dan di mana?
karena selama semesta mencari bentuknya,
selama itu pula rahasia, fana dan baka, akan tetap terlahir.
maka adalah tersebut benih-benih masa depan.
hari ini, tidakkah kamu ingin bersyukur atas keleluasaan berpendidikan,
mengejar ilmu ke ujung dunia,
agar bisa kautanamkan kelak pada benih-benih masa depan dunia?
lalu katakanlah satu hari negara ketinggalan kereta,
tidakkah bakti bukan tentang kapan dan di mana?
karena selama semesta mencari bentuknya,
selama itu pula rahasia, fana dan baka, akan tetap terlahir.
maka adalah tersebut benih-benih masa depan.
14.8.11
14 | percaya.
selain dirimu, kiranya siapa yang bisa kupercaya ya tuhan?
menjadi seperti apa pernah dituliskan oleh seorang pram :
a d i l s e j a k d a l a m p i k i r a n,
sungguh berjarak rasanya aku dengan apa katanya itu.
demikian, tidak juga kusangkal, tuhan
adalah peneduh hati barang sejenak,
mengetahui ada satu orang saja yang mempercayai diri ini.
cukuplah ia untukku meminta, lapangkanlah jiwa ini
untuk percaya adanya ketulusan-ketulusan pada jangkauan hati.
karena sungguh hanya engkau hakim agung yang maha menilai.
menjadi seperti apa pernah dituliskan oleh seorang pram :
a d i l s e j a k d a l a m p i k i r a n,
sungguh berjarak rasanya aku dengan apa katanya itu.
demikian, tidak juga kusangkal, tuhan
adalah peneduh hati barang sejenak,
mengetahui ada satu orang saja yang mempercayai diri ini.
cukuplah ia untukku meminta, lapangkanlah jiwa ini
untuk percaya adanya ketulusan-ketulusan pada jangkauan hati.
karena sungguh hanya engkau hakim agung yang maha menilai.
reka (9) : jarak.
perubahan itu bernama jarak,
yang nyatanya tak juga menahanmu datang dan pergi sesuka diri.
yang nyatanya tak juga menahanmu datang dan pergi sesuka diri.
lalu apa gunamu, hai waktu pengusir debar
teman seperjalan mengukur sang jarak,
jika tak bisa kusambut dia dengan kata rindu yang bahkan telah usang?
sedang bahagia yang ingin kukirim lewat doa pun melapuk sudah di pojokan,
membusuk oleh tanya yang masih (ingin) kubiarkan menggantung akan segala ketetapannya tentangmu.
catatan :
sungguh, ksatria, lama-lama tak bisa aku tak berprasangka ada malaikat-malaikat yang telah mengisikimu tentang kapan saja tuhan ingin membolak-balikkan hatiku. dan lalu kau ikut menyelinap, masuk ke dalamnya, dan lalu keluar. begitu terus. selalu. sambil (hanya) tersenyum. senyum yang sederhana. yang (telah) memaku salah satu pojok hatiku kuat-kuat, membuat tuhan harus bekerja sedikit keras waktu membolak-balikkannya.
13.8.11
13 | question.
"Intellect is not found in the answer, but in the question.
...those who can question things themselves are those who will be able to find answers."
(Sungkyunkwan Scandal, ep.4)
...those who can question things themselves are those who will be able to find answers."
(Sungkyunkwan Scandal, ep.4)
reka (8) : rindu.
dan demi apa pun pada semesta,
aku hanya ingin mengetuk pintu rumahmu,
berteriak memanggil namamu,
mengajakmu bermain bersama (lagi) ke kebun di balik hutan belakang rumah kita.
di mana ada bebek-bebek yang akan ikut membuntuti kita saat bermain tari kereta api,
di mana ada pohon-pohon beri yang tidak boleh dipetik,
di mana ada padang rumput tempat kita bisa menatap angkasa dengan bergandengan tangan
tanpa harus terganggu oleh sebentuk ingin yang suka sekali menyelinap di antara kita.
aku hanya ingin mengetuk pintu rumahmu,
berteriak memanggil namamu,
mengajakmu bermain bersama (lagi) ke kebun di balik hutan belakang rumah kita.
di mana ada bebek-bebek yang akan ikut membuntuti kita saat bermain tari kereta api,
di mana ada pohon-pohon beri yang tidak boleh dipetik,
di mana ada padang rumput tempat kita bisa menatap angkasa dengan bergandengan tangan
tanpa harus terganggu oleh sebentuk ingin yang suka sekali menyelinap di antara kita.
dan demi apa pun sepanjang masa,
aku hanya ingin membuka jendela kamarmu,
lalu membisikkan namamu berulang kali sampai kau bangun,
memintamu untuk loncat keluar jedela diam-diam supaya tidak ketahuan ibumu.
ke taman kecil rahasia di antara rumahmu dan rumahku,
ke mana ada bunga-bunga aster yang pernah kita tanam bersama,
ke mana ada timbunan kapsul waktu yang kita tidak tahu milik siapa,
ke mana siang dan malam tak banyak berbeda bagi kita.
karena setiap saat aku dan kamu bersama,
tak ada hitungan masa yang sanggup merangkumnya,
tak juga ada kata rindu masuk ke dalam benak masing-masing kita.
ruang :
catatanpendek,
ceritacerita,
konstelasi,
sketsa suara
reka (7) : kaca.
ada yang beriak pada langit-langit gudang bawah tanah, di balik kaca.
bukan dulu, apalagi nanti
adalah dentang, pembatas laju masa menuju saat
seperti luka memar yang membiru,
dan hati yang ikut meringis kesakitan
bukan dulu, apalagi nanti
adalah dentang, pembatas laju masa menuju saat
seperti luka memar yang membiru,
dan hati yang ikut meringis kesakitan
ada yang berarak pada kaki langit, di balik kaca.
bukan di sini, bukan pula di sana
adalah sekat yang melayang, pembatas bilik sebelum (sempat) menjadikannya ruang
seperti darah yang mengucur pelan-pelan,
dan air mata yang menggenang tanpa (bisa) mengalir
12.8.11
12 | langkah(i)
(over my dead body!)
adalah langkah terlarang, saat tapak mendarat tajam pada rasa yang baru saja lahir,
membunuhnya bahkan saat ia belum juga punya nama.
lalu, ada pula rasa-rasa lain yang ikut tertebas belakangan,
demi cinta yang ia yakini ada di belakang mereka.
padahal ternyata dia semu.
penipu yang berdiri paling akhir, tersenyum sinis, sambilberkata bertanya :
bagaimana rasanya menginjak yang sebenarnya kau cari selama ini?
bagaimana rasanya melangkahi yang kau sangka mati, padahal ia (masih) megap-megap dengan sisa perih yang kau toreh?
tapi bukankah (memang) hanya ada penipu untuk penipu?
.
catatan :
ada semacam dendam, yang terlupakan selama hampir belasan tahun, yang hingga hari ini masih belum juga bisa tertuang sempurna dalam sebentuk tulisan. apalagi cerita. apalagi puisi. demikian belum juga sempurna terlepaskan dan diikhlaskan.
mungkin memang puisi bukan untuk melukiskan sebentuk kesumat.
adalah langkah terlarang, saat tapak mendarat tajam pada rasa yang baru saja lahir,
membunuhnya bahkan saat ia belum juga punya nama.
lalu, ada pula rasa-rasa lain yang ikut tertebas belakangan,
demi cinta yang ia yakini ada di belakang mereka.
padahal ternyata dia semu.
penipu yang berdiri paling akhir, tersenyum sinis, sambil
bagaimana rasanya menginjak yang sebenarnya kau cari selama ini?
bagaimana rasanya melangkahi yang kau sangka mati, padahal ia (masih) megap-megap dengan sisa perih yang kau toreh?
tapi bukankah (memang) hanya ada penipu untuk penipu?
.
catatan :
ada semacam dendam, yang terlupakan selama hampir belasan tahun, yang hingga hari ini masih belum juga bisa tertuang sempurna dalam sebentuk tulisan. apalagi cerita. apalagi puisi. demikian belum juga sempurna terlepaskan dan diikhlaskan.
mungkin memang puisi bukan untuk melukiskan sebentuk kesumat.
Subscribe to:
Posts (Atom)