11.6.11

tarik nafas. tahan. buang.

sekali-sekali sesuatu itu memang harus ditahan saja, disimpan rapat-rapat,
hingga pelan-pelan membusuk.

demikian.

[catatan tidak berjudul]

Berkejap malam lalui sela-sela lorong hati yang meluruh,
ia seumpama angin yang tak suka tertitah.
Kacaukan irama sejak lahirku dalam detak,
dengan sabda rasa yang ia perdengarkan dalam hilangnya satu ketuk.

Karena pada malam tersimpan semua titipan rasa,
yang tak terhitung, yang tak berujung, yang menunggu waktunya bersuara.

Yang menunggu berani untuk datang, diam, mendengar.

. . .
Catatan : 
Tulisan ini adalah interpretasi bebas dari dialog dalam serial "How I Met Your Mother", Season 6 Episode 18 - Change of Heart -- Lily Aldrin : Your heart's talking to you, Barney. Do you have the guts to listen to it?

10.6.11

diam.

Ada sementara gelisah yang tak terkatakan, apalagi tertuliskan.
Aksara itu kadang terasa berbatas, pun kata-kata yang pernah tercatat dalam pengertian banyak orang.
Sementara, ada kalanya ada gelisah yang bahkan rasa pun masih meraba-rabanya.

Ada sementara gelisah yang tak tertahankan, apalagi tergambarkan.
Ilusatrasi sejuta warna itu bicara banyak hal, kecuali satu, ia itu justru akar gelisah yang bercabang.
Sementara, ada kalanya ada gelisah yang bahkan tak berbayang oleh cahaya.

Sementara gelisah itu,
manakala kelam dan senyap adalah suatu gaduh dengan ketiadaan cahaya juga suara.

Maka hingga ke ujung hati yang mana, rasa mesti meraba-raba dalam gelap,
meraih sang gelisah, mendekapnya dan mengganti kegaduhan yang menyaputnya ...
dengan satu ciuman selamat malam.

Hingga ia menjadi teraku, lalu hilang bersama terbitnya semburat pada pagi.
Dan jiwa yang tertinggal tak perlu lagi belakangi matahari.

quiet (john mayer)

midnight
lock all the doors
and turn out the lights
feels like the end of the world
this Sunday night

there's not a sound
outside the snow's coming down
and somehow I can't seem to find
the quiet inside my mind

3:02
the space in this room
has turned on me
and all my fears have cornered me here
me and my TV screen

the volume's down
blue lights are dancing around
and still, I can't seem to find
the quiet inside my mind

daylight is climbing the walls
cars start and feet walk the halls
the world awakes and now I am safe
at least by the light of day


. . . . . . .

It's not an insomnia I've had. Or so I thought.
It somehow feels exactly like what's written in this song : it's a perfectly blended form of fear and secure altogether towards the world. Strange it is. How two exact different feelings could mixture so well.

Nights, however, held a responsibility of taking such peace and quiet out from my mind on times I mostly needed them. Therefore don't blame me for avoiding daylight.

[1983] nol.

Bermula pada satu masa, di mana arah masih menjadi sesuatu yang terhitung. Seribu langkah ke kanan. Seribu langkah ke kiri. Seribu langah ke belakang. Dan seribu langkah ke depan. Pada satu titik, semua menjadi bulat.

Bulat. Bukan genap. Karena pada titik tadi, genap hanyalah ilusi. Ia bernaung pada pertautan hitam dan putih. Pada titik tadi, rasa telah mati, sekalipun semata suri. Dan genap, sebagai penanda keutuhan, menjadi sesuatu yang ganjil. Sebagaimana ilusi, ia antara ada dan tiada.

Bermula pada satu masa tentang bagaimana sebuah hitungan berawal.

.

Nol.


. . . . . . .

Catatan : 
Tulisan berlabel [1983] terinspirasi dari sebuah komik Jepang (manga) karya Fuyumi Souryo yang berjudul MARS. Komik ini pernah diangkat ke dalam bentuk seri drama di Taiwan dengan judul yang sama. Tokoh utama laki-laki pada cerita ini bernama Rei yang berarti "nol".
Membaca cerita ini, saya menyadari kembali ada banyak sekali cara untuk mengerti karakter seorang manusia. Juga bahwa tidak pernah ada generalisasi yang tidak tergoyahkan. Di satu sisi, hitam dan putih mungkin memang masih menjadi perspektif yang paling mudah dalam membantu memahami sebuah karakter (karena tentu saja akan ada begitu banyak kemungkinan yang bisa diasumsikan saat menggunakan perspektif abu-abu).
Ada banyak alasan mengapa saya menyukai cerita ini. Salah satunya adalah karena penggambaran karakter-karakternya yang sangat kuat (walaupun hampir seluruhnya bernuansa depresif), disertai dengan ilustrasi yang sangat pas. Membaca karakter-karakter dalam cerita ini membuat saya merasakan kembali betapa menyenangkannya membangun karakter-karakter fiktif di dalam kepala untuk hidup dan menjalani satu rangkaian cerita yang bukan kehidupan kita sendiri. 

9.6.11

"Life is a mystery to be lived, 
not a problem to be solved." 


     -- Soren Kierkegaard

hujan.

tahun lalu aku melihatnya turun dari langit yang masih biru,
bertemankan matahari yang tak malu menentangnya,
hingga ia jatuh ke tanah dan berbau kerinduan akan kemarau.

aku lalu melihatnya bertumbuh, datang dan pergi
hingga hari ini, dari langit yang sesekali tidak berwarna,
dan matahari yang mulai bosan berbasah.

telah jadi penanda hari kini kau, hujan. bukan lagi musim,
apalagi cerita tentang dua payung yang berdansa sambil bergunjing,
tentang bagaimana mereka merindukanmu.

botol.

kaca
berperahu
berawal di hulu 
hingga ke akhir bumi

plastik
gaduh
terluka
hanyut, sepanjang aliran utara-selatan

pesan
terselip, kerkubur
terkuak masa
terbuka, lalu berlagu cinta

dengan bahasa yang belum mengenal kata lampau

.

botol
rahasia
dan atlantik

.

kelak

8.6.11

bunga tidur.

Ialah anak semata wayang yang lahir melalui lelapnya jiwa. Mata bersinar, bibir tersenyum, hidung mengembang, dagu terangkat, dahi berkerut, tangan terkepal, kaki siap berlari dan hati yang bimbang. Ia bermuka jamak. Tak kenal siapa yang melahirkannya.

Ialah setapak di mana jawab untuk setiap tanya berlalu lalang. Menjadi semata pertanda, atau niscaya yang tertunda. Tak berpalang dan tak berpenjaga. Juga tanpa pengingat akan jurang di ujung perjalanan.

Ialah pencuri nafas kala raga tak sepenuhnya berkesadaran. Satu detik, dan ialah pencuri sebuah kehidupan.

.

Ialah anak semata wayang yang tidak punya ingatan. Ialah penyaru raga yang menyusup ke dalam bilik memori, menebas setiap lembar catatan yang tersimpan padanya.

Ialah semata wayang ingatan yang tertinggal. Lalu menyaru ia lewat jiwa yang (masihlah) lelap. Keluar pada malam. Menunggu pagi, air dan matahari untuk mekar, serupa kembang, seiring jiwa yang terjaga.

.

Ialah bunga tidur. Penanda bilik memori yang berjamur.

6.6.11

Room Blue


Menemukan ini gara-gara sepupu saya memasang tautan videonya di fesbuk.
Dan saya pun langsung jatuh cinta, seperti waktu pertama kali mendengar 'Bubbly' Colbie Caillat, 'Fly Me to the Moon' Olivia dan 'Chasing Pavement' Adele (oh, dan saya suka sekali video klipnya).
Bagaimana saya bisa mendengarkan lagu-lagu mereka bertiga untuk pertama kalinya, masing-masing punya cerita yang... sama... dan tiga-tiganya ada di bawah folder "mengejar eropa dua-tiga tahun lalu" :))

Tapi Emi Meyer ini mungkin akan masuk di bawah folder "mengejar new york entah berapa tahun lagi"
(ini ceritanya ditulis pas lagi mimpi)

.

Kembali ke "Room Blue", kamar saya memang berwarna biru. Dan sekarang saya yakin, warna biru memang bukan untuk kamar tidur. Untungnya ini adalah saat-saat di mana saya memang sedang harus begadang, mengerjakan tesis, atau ya memang sedang susah tidur saja (sering!).
Warna biru, akhir-akhir ini identik dengan kerinduan. Saya rindu menulis, bermain kata-kata dengan pikiran yang santai. Saya rindu bermain ke toko buku sekedar melihat-lihat buku terbitan terbaru. Saya rindu membaca kisah Manjali dan Cakrabirawa, saya rindu menebak-nebak akhir dari cerita, dan saya ingin segera menghabiskan Mimpi-mimpi Einstein. Saya rindu menyusuri kota-kota Semarang, Yogyakarta dan Solo, atau sekedar berjalan kaki pelan-pelan di sepanjang Jalan Dago di malam hari. Saya rindu menekan tombol shutter, saya rindu melihat sekitar melalui lubang pengintai kamera.

.

Bagaimanapun sesuatu harus diselesaikan.

(betul kan, konsentrasi sedang tidak pada tempatnya, membuat tulisan-tulisan di atas juga mungkin menjadi tidak berada pada tempatnya atau setidaknya tidak berada pada susunan yang benar)