4.6.11
i can't make you love me.
I once posted the lyric here. And I just found this video through some random walks. I love this Bonnie Raitt's version than George Michael's.
And yes, baby, I can't make you love me if you don't.
2.6.11
as fast as she can *)
*) judul episode ke-23 dari serial "How I Met Your Mother" musim ke-4
Tentang jodoh, selama ini saya selalu gelisah sendiri, bertanya-tanya, "dia ada di mana ya?" atau "kenapa dia nggak datang-datang?" atau "dia pasti akan datang nggak sih?" Yah, pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada satu orang pun yang bisa menduga apa jawabannya.
Lalu, setelah menonton episode tersebut saya tiba-tiba berpikir, bagaimana kalau semua ini dibalik? Bagaimana kalau ternyata saat ini, dia --seseorang yang seharusnya adalah jodoh saya itu -- lah yang sedang sangat gelisah, mungkin sesekali sambil mengeluarkan decakan tak sabar -- persis sama seperti yang saya lakukan -- dan bertanya-tanya, "ada di mana dia?" atau "harus saya cari kemana lagi dia?" Bagaimana kalau selama ini ternyata saya yang sangat lambat dalam berjalan menujunya? Bagaimana kalau selama ini ternyata saya belum melakukan yang terbaik untuk bisa datang ke tempatnya dengan secepat-cepatnya? Bagaimana kalau sebenarnya "tempat pertemuan" kami sudah ditetapkan dan segalanya hanya bergantung pada kecepatan masing-masingdari kami untuk mencapainya? Mungkinkah selama ini kami sama-sama kebingungan di tempat yang salah? Mungkinkah dia sudah mencapai tempat itu terlebih dulu, lalu karena tidak menemukan saya di sana dia lalu pergi lagi? Mungkinkah sekali waktu saya pernah melewati tempat tersebut tanpa mengetahui bahwa di sanalah saya akan bertemu dengannya sehingga saya berjalan agak buru-buru sambil sedikit menunduk dan hampir saja menabrak bahunya yang -- juga tanpa mengetahui bahwa itu adalah tempatnya -- berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus ke depan?
Sekali lagi, seperti yang John Mayer lagukan pada "Love Song for Noone" : "I could have met you in a sandbox. I could have passed you on the sidewalk. Could I have missed my chance and watched you walk away?"
Tentang jodoh ini, yang ada bukan "saya belum menemukannya" atau "dia belum menemukan saya", tapi "kami belum bertemu, pada tempat dan waktu yang benar". Sesederhana itu. Kelihatannya.
. . .
Jadi, ayo selesaikan tesis ini! Dan segera pula mainkan dengan betul Sonata No.16 dari Schubert. *loh*
Tinggal dua bulan saja waktu yang tersisa. Kali ini biarkan Tuhan yang menenangkan sepasang hati yang gelisah : "Dia sedang menujumu, kali ini dengan berlari, secepat yang dia bisa. Ayo, kamu juga harus berlari secepat yang kamu bisa, menujunya. Di mana tempat pertemuan kalian? Semua sudah tercatat. Hati kalian tahu. Dan pada waktunya, kalian akan sama-sama menyadarinya."
Tentang jodoh, selama ini saya selalu gelisah sendiri, bertanya-tanya, "dia ada di mana ya?" atau "kenapa dia nggak datang-datang?" atau "dia pasti akan datang nggak sih?" Yah, pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada satu orang pun yang bisa menduga apa jawabannya.
Lalu, setelah menonton episode tersebut saya tiba-tiba berpikir, bagaimana kalau semua ini dibalik? Bagaimana kalau ternyata saat ini, dia --seseorang yang seharusnya adalah jodoh saya itu -- lah yang sedang sangat gelisah, mungkin sesekali sambil mengeluarkan decakan tak sabar -- persis sama seperti yang saya lakukan -- dan bertanya-tanya, "ada di mana dia?" atau "harus saya cari kemana lagi dia?" Bagaimana kalau selama ini ternyata saya yang sangat lambat dalam berjalan menujunya? Bagaimana kalau selama ini ternyata saya belum melakukan yang terbaik untuk bisa datang ke tempatnya dengan secepat-cepatnya? Bagaimana kalau sebenarnya "tempat pertemuan" kami sudah ditetapkan dan segalanya hanya bergantung pada kecepatan masing-masingdari kami untuk mencapainya? Mungkinkah selama ini kami sama-sama kebingungan di tempat yang salah? Mungkinkah dia sudah mencapai tempat itu terlebih dulu, lalu karena tidak menemukan saya di sana dia lalu pergi lagi? Mungkinkah sekali waktu saya pernah melewati tempat tersebut tanpa mengetahui bahwa di sanalah saya akan bertemu dengannya sehingga saya berjalan agak buru-buru sambil sedikit menunduk dan hampir saja menabrak bahunya yang -- juga tanpa mengetahui bahwa itu adalah tempatnya -- berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus ke depan?
Sekali lagi, seperti yang John Mayer lagukan pada "Love Song for Noone" : "I could have met you in a sandbox. I could have passed you on the sidewalk. Could I have missed my chance and watched you walk away?"
Tentang jodoh ini, yang ada bukan "saya belum menemukannya" atau "dia belum menemukan saya", tapi "kami belum bertemu, pada tempat dan waktu yang benar". Sesederhana itu. Kelihatannya.
. . .
Jadi, ayo selesaikan tesis ini! Dan segera pula mainkan dengan betul Sonata No.16 dari Schubert. *loh*
Tinggal dua bulan saja waktu yang tersisa. Kali ini biarkan Tuhan yang menenangkan sepasang hati yang gelisah : "Dia sedang menujumu, kali ini dengan berlari, secepat yang dia bisa. Ayo, kamu juga harus berlari secepat yang kamu bisa, menujunya. Di mana tempat pertemuan kalian? Semua sudah tercatat. Hati kalian tahu. Dan pada waktunya, kalian akan sama-sama menyadarinya."
1.6.11
pada senja.
senja bercerita tentang matahari dan hujan.
matahari, dengan semburat yang terburu-buru meninggalkan langit.
hujan, dengan rintik malu-malu perlahan menyapa tanah yang hangat.
senja bercerita tentang matahari dan hujan.
tentang perjalanan yang tidak pernah terduga,
juga kawan bagi jiwa yang datang dan pergi tiba-tiba.
.
senja bercerita tentang matahari dan hujan,
dan sesekali ia selipkan tentang bianglala :
sang cinta yang berkelebat, meninggalkan jejak tujuh rasa,
lalu mati : matahari membakarnya. hujan melarutkannya.
. . . . . . .
pada suatu senja,
pada suatu dasar angkasa,
bianglala menuliskan ceritanya.
matahari, dengan semburat yang terburu-buru meninggalkan langit.
hujan, dengan rintik malu-malu perlahan menyapa tanah yang hangat.
senja bercerita tentang matahari dan hujan.
tentang perjalanan yang tidak pernah terduga,
juga kawan bagi jiwa yang datang dan pergi tiba-tiba.
.
senja bercerita tentang matahari dan hujan,
dan sesekali ia selipkan tentang bianglala :
sang cinta yang berkelebat, meninggalkan jejak tujuh rasa,
lalu mati : matahari membakarnya. hujan melarutkannya.
. . . . . . .
pada suatu senja,
pada suatu dasar angkasa,
bianglala menuliskan ceritanya.
28.5.11
sunao ni narenakute.
Hard to say I love you - 言い出せなくて (Weaver)
.
one soundtrack from a drama :
"Sunao ni Narenakute" - 素直になれなくて
it's hard to be honest. it's hard to say i love you.
.
ps : i want that yamaha grand piano in my future house.
the yellow box.
what's so good in having a guiding star?
it's not that it'll guarantee your dreams to be coming true. to tell the truth, it might be the only thing that is beyond your reach. but there's no doubt that it'll lead you through the way, to where even the greatest mind could not scheme, a place that only fate knows.
i found mine. an incomplete yellow box.
that without the courage, honesty and trust, it would be just off use.
it's not that it'll guarantee your dreams to be coming true. to tell the truth, it might be the only thing that is beyond your reach. but there's no doubt that it'll lead you through the way, to where even the greatest mind could not scheme, a place that only fate knows.
i found mine. an incomplete yellow box.
that without the courage, honesty and trust, it would be just off use.
sand box.
i wish my town had one sand box, where i could dig deep and bury my ego, walked through the next junction and met you there.
or where both of us could left our footprints, separately, as strangers to each other, and had them erased -- repeatedly, maybe through a year or two -- while keep believing that eventually some sand attached under our pair of shoes would drop a hint about each other whereabout, hopefully there would be a crossed path.
we're not about to choose each other. we're gonna find each other. aren't we?
.
"I could have met you in a sandbox.
I could have passed you on the sidewalk.
Could I have missed my chance and watched you walk away?"
or where both of us could left our footprints, separately, as strangers to each other, and had them erased -- repeatedly, maybe through a year or two -- while keep believing that eventually some sand attached under our pair of shoes would drop a hint about each other whereabout, hopefully there would be a crossed path.
we're not about to choose each other. we're gonna find each other. aren't we?
.
"I could have met you in a sandbox.
I could have passed you on the sidewalk.
Could I have missed my chance and watched you walk away?"
(Love Song for No One - John Mayer)
8.5.11
kebahagiaan itu terserak di seluruh penjuru langit malam pada belahan bumi utara
mereka bernama,
bukan sekedar bintang dan bintang.
.
sekarang kupungut satu dan satu,
nanti
kita akan bersama, naik gunung dan melihat langit malam bumi utara
.
sampai tiba waktunya Tuhan mempertemukan kita di kaki langit,
aku akan bersiap-siap
dengan kantong-kantong air mata dan seribu tanya yang aku tahu adalah tanpa jawaban
juga sabar yang tidak lagi menjadi kata dalam kamus hati,
sampai tiba waktunya Tuhan berkata.
"ini waktumu dan waktumu"
.
sekarang, mari kita tersenyum masing-masing
untuk setiap kebahagiaan yang bukan milik kita,
menjadikan mereka bersinar lebih terang, membantu kita sama-sama menemukan kebahagiaan milik kita,
yang sejati, yang hidup karena kebahagiaan itu tidak hanya ada satu
jika bahagia itu kita temukan, dan ia adalah pada persimpangan dua setapak,
maka saat itulah ia menjadi sempurna
seperti yang telah Tuhan janjikan,
dan saat itu, kita akan memberikannya nama.
4.5.11
kinanti.
kaki-kaki tak tahan menari
berlatar senandung ringan.
kinanti,
lagu cinta bersandar kenangan.
baris-baris dibuat dengan kening berkerut,
berketuk-ketuk jemari dengan hitungan
dan terdiam pada bilangan empat
biarkan rasa menjelma sajak dengan pelan.
lalu. jeda.
menghantarkan kinanti,
lewat amplop putih yang pertama
dengan getaran jemari
dan dari tanpa nama.
lalu. jeda.
cinta itu tidak bernama,
maka tidak akan juga ia mengenal nama.
ia hanya kenal hati tempatnya berjaga
dan penuhi jeda dengan semburat rasa.
. . . . . . .
kinanti,
satu hari akan kutulis untukmu
dengan getaran jemari,
dengan debaran hati,
sepenuh diri.
satu hari nanti.
berlatar senandung ringan.
kinanti,
lagu cinta bersandar kenangan.
baris-baris dibuat dengan kening berkerut,
berketuk-ketuk jemari dengan hitungan
dan terdiam pada bilangan empat
biarkan rasa menjelma sajak dengan pelan.
lalu. jeda.
menghantarkan kinanti,
lewat amplop putih yang pertama
dengan getaran jemari
dan dari tanpa nama.
lalu. jeda.
cinta itu tidak bernama,
maka tidak akan juga ia mengenal nama.
ia hanya kenal hati tempatnya berjaga
dan penuhi jeda dengan semburat rasa.
. . . . . . .
kinanti,
satu hari akan kutulis untukmu
dengan getaran jemari,
dengan debaran hati,
sepenuh diri.
satu hari nanti.
sembilan.
untuk matahari yang setia menanti,
malam tak pernah bosan memeluk jiwa-jiwa kesepian
bukan dari riuh lampu seluruh penjuru kota
bukan dari belantara tanya yang tak putus-putus
.
sepi tak pernah memlih tempat berjejak,
ia datang, datang saja
ketakutan pada malam,
bukan karena gelap, namun karena semesta yang tak berpenjaga.
ketenangan pada pagi,
bukan karena kota mulai berbincang, namun karena matahari yang memasang tombak berpanah dua
hingga mata akhirnya berani terlelap.
.
tapi jiwa yang kesepian adalah sepanjang masa,
tak kenal hitungan waktu, pagi ataupun malam
tak kenal konstelasi apalagi matahari
tak peduli apakah dalam satu putaran minggu, malam memeluknya tujuh atau sembilan kali.
malam tak pernah bosan memeluk jiwa-jiwa kesepian
bukan dari riuh lampu seluruh penjuru kota
bukan dari belantara tanya yang tak putus-putus
.
sepi tak pernah memlih tempat berjejak,
ia datang, datang saja
ketakutan pada malam,
bukan karena gelap, namun karena semesta yang tak berpenjaga.
ketenangan pada pagi,
bukan karena kota mulai berbincang, namun karena matahari yang memasang tombak berpanah dua
hingga mata akhirnya berani terlelap.
.
tapi jiwa yang kesepian adalah sepanjang masa,
tak kenal hitungan waktu, pagi ataupun malam
tak kenal konstelasi apalagi matahari
tak peduli apakah dalam satu putaran minggu, malam memeluknya tujuh atau sembilan kali.
Subscribe to:
Posts (Atom)