Tuhan pun terjepit logika benar dan salah makhluk-makhluk yang lahir dari tangan-tangannya,
padahal sedari awal sudah Ia berikan sedikit ruang, untuk sedikit diriNya, di dalam makhluk-makhlukNya.
Sedang Ia sendiri bukanlah semata logika,
yang bisa dikenal sebatas paham, namun cukup sampai pada yakin.
Lalu siapa yang bisa pertanyakan, "bagaimana dengan rasa?"
Rasa, anugrah yang menjadi amanah setiap mereka yang lahir atas ketetapanNya,
tapi mungkin menjadi saru ketika ia melebur dengan sang yakin.
Abu-abu ada karena ada hitam juga putih,
di antara punggung-punggung yang beradu ada pedang bermata dua.
.
untukmu yakinmu, untukku yakinku.
dan tak ada kebenaran yang lebih sejati selain dari yang tertulis dalam kitab rahasia pada pelukanNya.
Showing posts with label pertanyaan. Show all posts
Showing posts with label pertanyaan. Show all posts
12.2.12
30.6.11
26.4.11
sebut saya apa saja.
tapi memang saya masih mencari suara Tuhan,
kendatipun saya tahu suara itu ada di sana,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk mendekatinya atau menjauhinya,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk menulikan diri akan suara hati atau mendengarnya dengan sabar,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk sekedar belajar mengeja atau membacanya dengan sungguh-sungguh dengan segenap diri,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk membutakan diri terhadap selubung tipis sang musuh abadi pada intuisi yang sedianya adalah paduan antara akal dan nurani anugrah tertinggi dari Sang Pencipta atau melihatnya dengan mata kepala juga mata hati yang sejernih-jernihnya,
sebut saya apa saja.
. . . . . . .
dan perjalanan ini adalah sepanjang usia,
apalagi sebutan yang pantas untuk perjalanan menemukan diri dalam diri?
tapi memang saya masih mencari suara Tuhan,
kendatipun saya tahu suara itu ada di sana,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk mendekatinya atau menjauhinya,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk menulikan diri akan suara hati atau mendengarnya dengan sabar,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk sekedar belajar mengeja atau membacanya dengan sungguh-sungguh dengan segenap diri,
dan ini adalah masalah apakah saya memilih untuk membutakan diri terhadap selubung tipis sang musuh abadi pada intuisi yang sedianya adalah paduan antara akal dan nurani anugrah tertinggi dari Sang Pencipta atau melihatnya dengan mata kepala juga mata hati yang sejernih-jernihnya,
sebut saya apa saja.
. . . . . . .
dan perjalanan ini adalah sepanjang usia,
apalagi sebutan yang pantas untuk perjalanan menemukan diri dalam diri?
16.3.11
28 #9
Kadang saya lupa, bahwa sebuah kota adalah bentuk peradaban manusia, yang suatu hari, jika sudah pada waktunya, akan punah. Lalu ia akan menjadi bagian dari sejarah, bersama era-era lalu yang melambangkan penciptaan semesta ini beserta segala isinya.
Kadang saya lupa, bahwa apa adanya segala sesuatu adalah karena adanya kita, manusia.
.
Di antara tujuh miliar ciptaanNya yang bernama manusia, kira-kira saya ada di bagian mana dari skenario besar yang Tuhan buat? Apakah saya sudah menjalankan peran bagian saya dengan sebaik-baiknya?
Kadang saya lupa, bahwa apa adanya segala sesuatu adalah karena adanya kita, manusia.
.
Di antara tujuh miliar ciptaanNya yang bernama manusia, kira-kira saya ada di bagian mana dari skenario besar yang Tuhan buat? Apakah saya sudah menjalankan peran bagian saya dengan sebaik-baiknya?
15.3.11
28 #8
Memiliki perasaan jenaka itu tidak berarti lalu membawa semua hal dengan bercanda. Apalagi kalau hal tersebut memang tidak lucu.
Saya sering sekali mendapat peringatan dari teman-teman saya, "jangan terlalu serius lah, hidup juga nggak menganggap kamu dengan serius kok", yang pada akhirnya membuat saya berpikir bahwa bersikap selalu serius itu salah. Tapi, justru membuat saya semakin penasaran untuk bersikap semakin serius. Yah. Seperti anak nakal yang biasa saja. Semakin dilarang, semakin ingin melakukan.
Kata-kata yang (mungkin saja) niatnya hanya untuk menakut-nakuti saya, seperti "kalau terlalu serius nanti kamu menyesal loh", juga tidak pernah berhasil menggoda saya untuk tidak serius. Lalu apakah saya menyesal?
Sampai saat ini. Tidak :)
*oh baiklah, sesekali memang perasaan itu datang mengusik, tapi tidak pernah berdiam dalam waktu lama*
Memandang kehidupan yang penuh liku dan canda dengan serius seperti ini, justru adalah cara saya saling melempar humor dengan kehidupan itu sendiri. Keseriusan saya, adalah buah dari rasa jenaka yang meletup dalam tawa tertahan.
Jadi, kalau tiba-tiba dalam mimpi saya nanti malam ada Joker menghampiri dan bertanya, "mengapa terlalu serius?" Saya akan dengan pasti menjawab, "karena ia melengkapi canda".
.
Hidup itu indah dan singkat. Kenapa harus dihabiskan dengan meributkan apakah harus menjalaninya dengan serius atau penuh canda?
Saya sering sekali mendapat peringatan dari teman-teman saya, "jangan terlalu serius lah, hidup juga nggak menganggap kamu dengan serius kok", yang pada akhirnya membuat saya berpikir bahwa bersikap selalu serius itu salah. Tapi, justru membuat saya semakin penasaran untuk bersikap semakin serius. Yah. Seperti anak nakal yang biasa saja. Semakin dilarang, semakin ingin melakukan.
Kata-kata yang (mungkin saja) niatnya hanya untuk menakut-nakuti saya, seperti "kalau terlalu serius nanti kamu menyesal loh", juga tidak pernah berhasil menggoda saya untuk tidak serius. Lalu apakah saya menyesal?
Sampai saat ini. Tidak :)
*oh baiklah, sesekali memang perasaan itu datang mengusik, tapi tidak pernah berdiam dalam waktu lama*
Memandang kehidupan yang penuh liku dan canda dengan serius seperti ini, justru adalah cara saya saling melempar humor dengan kehidupan itu sendiri. Keseriusan saya, adalah buah dari rasa jenaka yang meletup dalam tawa tertahan.
Jadi, kalau tiba-tiba dalam mimpi saya nanti malam ada Joker menghampiri dan bertanya, "mengapa terlalu serius?" Saya akan dengan pasti menjawab, "karena ia melengkapi canda".
.
Hidup itu indah dan singkat. Kenapa harus dihabiskan dengan meributkan apakah harus menjalaninya dengan serius atau penuh canda?
26.2.11
delusi.
apakah aku dan kamu hidup pada masa yang saling bertukar?
atau itu hanya aliran waktu yang berusaha merengkuh aku dan kamu bersamanya?
apa betul itu kamu yang tersenyum padaku, atau hanya bayanganmu yang tertinggal?
apa betul ini aku yang jemarinya bertautan dengan jemarimu, atau hanya bayanganku yang kukirimkan ke sampingmu?
kalau kedua mata ini aku pejamkan,
apakah dunia yang menari dengan latar hitam balik kelopak akan melompat ke hadapanku?
lalu kamu juga ikut mewujud bersamanya?
jika sekali saja kepala berhenti bertutur,
akankah kenyataan itu akan menjelma senyata-nyatanya di depanku?
atau, hening pun sudah ikut memihak delusi?
atau itu hanya aliran waktu yang berusaha merengkuh aku dan kamu bersamanya?
apa betul itu kamu yang tersenyum padaku, atau hanya bayanganmu yang tertinggal?
apa betul ini aku yang jemarinya bertautan dengan jemarimu, atau hanya bayanganku yang kukirimkan ke sampingmu?
kalau kedua mata ini aku pejamkan,
apakah dunia yang menari dengan latar hitam balik kelopak akan melompat ke hadapanku?
lalu kamu juga ikut mewujud bersamanya?
jika sekali saja kepala berhenti bertutur,
akankah kenyataan itu akan menjelma senyata-nyatanya di depanku?
atau, hening pun sudah ikut memihak delusi?
ruang :
interpretasi,
personal,
pertanyaan,
refleksi
9.2.11
apakah betul, kata "adil" ada dalam kamus besar Bahasa Indonesia?
membaca ini, saya tidak percaya.
.
benarkah ini negara yang sampai detik ini masih saya percaya sedang berjuang melakukan yang terbaik bagi warga negaranya?
benarkah ini negara yang sama dengan negara yang dulu sudah menghabiskan darah dan air mata yang tak terkira dalam memperjuangkannya?
benarkah ini negara yang punya mimpi besar bergantung kuat pada Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila?
benarkah ini negara yang merah putihnya selalu dan selalu saya banggakan?
benarkah ini negara yang selalu dan selalu saya inginkan untuk jadi tempat pulang saya nanti?
saya tidak tahu lagi.
membaca ini, saya tidak percaya.
.
benarkah ini negara yang sampai detik ini masih saya percaya sedang berjuang melakukan yang terbaik bagi warga negaranya?
benarkah ini negara yang sama dengan negara yang dulu sudah menghabiskan darah dan air mata yang tak terkira dalam memperjuangkannya?
benarkah ini negara yang punya mimpi besar bergantung kuat pada Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila?
benarkah ini negara yang merah putihnya selalu dan selalu saya banggakan?
benarkah ini negara yang selalu dan selalu saya inginkan untuk jadi tempat pulang saya nanti?
saya tidak tahu lagi.
16.1.11
umur, kematian, cita-cita, restu dan patah hati
Kira-kira pada waktu yang sama minggu lalu, saya menerima kabar kepergian seorang teman seangkatan saya semasa kuliah yang saat ini sedang berada di Rotterdam. Padahal belum juga genap enam bulan sejak kepergian seorang teman seangkatan yang lain karena jantung. Padahal baru saja pada hari sebelumnya kami menerima kabar bahwa kondisinya, yang memang dalam keadaan koma akibat asma dan hipotermia, sudah agak membaik dan sedikit-sedikit mulai merespon teman-temannya di sana. Namun ternyata Tuhan sudah punya kehendakNya sendiri. Setelah melewati masa-masa kritis, akhirnya pihak rumah sakit pun memutuskan untuk mencabut alat bantu pernafasannya. Seorang lagi teman kami mendahului kami.
Begitu mendapat berita tersebut pada pagi hari Sabtu seminggu yang lalu saya tidak bisa berkata-kata, juga tidak bisa percaya. Saya hanya bisa diam. Dan mungkin berpikir sedikit lebih banyak daripada biasanya dan merasa jauh lebih hampa daripada biasanya pula. Milis angkatan saya mendadak ramai dengan ucapan belasungkawa dan update-update berita mengenai perkembangan kondisi almarhumah teman kami di sana, yang alhamdulillah di sana ada teman-teman yang sangat luar biasa yang ikut membantu pengurusan jenazah, termasuk perihal kepulangannya ke tanah air.
Di tengah-tengah ucapan bela sungkawa tersebut, ada seorang teman saya yang menyempatkan diri berbagi tentang konsep umur yang ia dengar dari sebuah khutbah jumat, yaitu tentang teladan Umar, seorang pemimpin yang bersih, yang tidak mau menggunakan harta negara sedikitpun untuk kepentingannya dan keluarganya. Dikisahkan, suatu hari ketika anaknya meminta untuk dibelikan baju karena sering diejek di sekolahnya gara-gara mengenakan baju yang penuh tambalan, Umar pun, begitu bersihnya ia tidak mau meminjam uang negara, memutuskan untuk meminjam uang ke rentenir demi bisa membelikan baju anaknya itu. Jika berhasil mendapatkan pinjaman tersebut, ia berencana akan membayarnya dengan gajinya bulan depan. Namun sang rentenir tidak bersedia meminjamkan uang pada Umar. Ia justru berkata, kurang lebih, seperti ini : "Kamu yakin, Umar, bulan depan kamu masih hidup? Kalau tidak, bagaimana kalau setelah kamu berhutang, lalu bulan depan kamu sudah tidak ada? Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan hutangmu di hadapan Allah?" Umar pun batal meminjam uang, lalu kembali ke rumah dan meminta maaf pada anaknya karena tidak bisa membelikannya baju baru saat itu juga.
Teman saya kemudian bilang, kisah tersebut banyak mengingatkannya akan cara menjalani hidup. Katanya, bayangkan kalau besok kita mati, lalu apa artinya kerja keras kita selama ini untuk mengejar cita-cita kita, apapun itu? Karena setelah kita mati, kita tidak akan bisa merasakan kecewa atau sedih bahwa kita belum mencapai cita-cita kita itu. Yang kecewa adalah mereka yang bisa benar-benar melihat potensi masa depan kita dan melihat potensi itu hilang begitu saja. Yang sedih adalah teman-teman dan sahabat-sahabat kita yang tahu bahwa mereka tidak akan bisa lagi bertemu kita. Dan yang paling terluka adalah keluarga yang kita tinggalkan.
Dia juga bilang, banyak di antara kita yang saat ini hidup di kecepatan ultrasonik, dalam mengejar pertumbuhan ekonomi juga ilmu pengetahuan. Mewujudkan cita-cita demi sebuah kemjuan memang membutuhkan resiko. Ada banyak hal yang perlu dikorbankan. Mulai dari harta, waktu, tenaga dan kesehatan, dan bahkan hati hingga nyawa. Bukan berarti lalu kita tidak perlu bermimpi dan bercita-cita. Tapi lebih pada mampu menarik batas yang jelas. Mengutamakan kemajuan tapi lalu dikenal sebagai seseorang yang tidak peduli dengan keluarga, teman dan lingkungan sekitarnya, kita tidak mau seperti itu bukan?
Tulisan teman saya ini benar-benar menampar saya. Tepat setelah saya berpikir, bahwa harga sebuah perubahan dan kemajuan adalah segalanya, apakah kita kehilangan kesehatan kita, kehilangan teman-teman dan keluarga kita atau bahkan kehilangan diri kita sendiri. Nyaris saja saya berpikir semua hal tersebut wajar adanya dalam usaha mewujudkan sebuah cita-cita. Tapi ternyata saya salah. Saya lagi-lagi lupa, saya tidak hidup sendirian.
Seorang teman yang lain mengatakan, bagaimanapun tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti bermimpi dan bercita-cita. Dia bilang, saat kita bermimpi dan berusaha mewujudkan cita-cita kita, kedua orang tua kita pasti akan berdoa untuk kita, yang artinya mereka ikhlas (ridha) untuk kita. Dan saat mereka ikhlas, maka Tuhan pasti juga akan meridhai perjalanan kita. Dan setiap kehendakNya, sekalipun itu berbeda dengan harapan kita, pasti adalah yang terbaik bagi kita dan juga orang-orang yang mencintai kita dan kita cintai.
.
Bagi saya akhirnya semua adalah sama pentingnya, diri kita sendiri, keluarga dan teman-teman, juga mimpi dan cita-cita kita. Semua berujung pada sebuah kalimat, "bagaimana jika saya mati besok?" Bagaimana saya ingin orang mengingat saya? Bagaimana hubungan yang akan saya tinggalkan dengan orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai? Apa saja yang sudah saya lakukan untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita saya? Bagaimana mimpi dan cita-cita saya bisa membawa kebaikan bagi lingkungan, negara dan agama saya? Apakah saya sudah menjalani kehidupan sesuai dengan yang digariskanNya untuk saya? Apakah saya sudah melakukan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya? Apa saya sudah berusaha semampu saya untuk 'memanggil' jodoh yang telah disipakanNya untuk saya? Apakah bagaimana saya mati nantinya akan benar-benar sesuai dengan bagaimana kematian telah ditentukanNya untuk saya?
Dan sesungguhnya rahasia Tuhan tidak pernah terbatas angka dan tidak pernah pula terkungkung oleh berbagai syarat.
.
Semoga Tuhan berkenan menghapus segala dosa kedua teman saya dan meridhai setiap yang telah mereka lakukan sepanjang hidupnya dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita, yang juga telah memberikan makna bagi keluarga, teman-teman dan lingkungan mereka.
5.1.11
umur
Saya suka matematika. Tapi saya tidak begitu suka dengan angka-angka. Apalagi saat mereka mulai main kejar-kejaran, seperti yang saat ini sedang ada di belakang saya : umur.
Dulu, waktu masih kecil, saya selalu menganggap bahwa waktu berjalan dengan sangat lambat. Bahwa selamanya saya akan menjadi seorang anak kecil. Saat itu, masa depan, atau sosok-sosok yang kelihatannya lebih tinggi dan besar dari saya itu, rasanya masih sangat jauh. Dan bahkan, sekali waktu saya menganggapnya tidak akan pernah bisa terjangkau oleh saya. Saat itu, rasanya sebuah kehidupan akan berlangsung untuk selamanya.
Dulu, waktu melewati usia belasan, saya menganggap waktu tiba-tiba menjadi sangat labil. Kadang dia berjalan super lambat. Kadang saya merasa dia berlari hingga melanggar batas kecepatan maksimum. Saya pun mulai merasa seperti anak kecil yang terperangkap di dalam tubuh seorang remaja perempuan yang sedang mengalami pubertas. Saya mulai merasa sesak. Tapi saya lebih suka tidur meringkuk daripada menggeliat dengan tangan ke atas. Saya menikmati melihat pemandangan penuh warna dan hiruk-pikuk jiwa-jiwa belasan tahun lainnya di sekitar saya. Saya pun merasa cukup dengan tersenyum saja, menonton dari pinggiran, dan pelan-pelan menyelinap lagi ke dalam selimut saya, mendengarkan musik malam minggu atau membaca novel fiksi dan membiarkan jiwa belasan tahun dalam diri saya mendengkur liar dalam cerita-cerita yang membayang di kepala saya. Cerita-cerita tak nampak, cerita-cerita tak nyata, yang di dalamnya jiwa belasan tahun saya bermain. Puas. Dan tidak puas. Nafasnya tidak teratur. Tapi ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas.
Hingga usia delapan belas, saat saya pertama kalinya mengenal kematian. Mungkin itu kali pertama saya berpikir bahwa waktu, jika tiba saatnya, akan berhenti. Dan setiap kecepatan yang pernah dilaluinya menjadi tidak lagi berarti.
Dan lalu, usia dua puluhan pun datang dan berjalan seakan-akan memang seperti itulah seharusnya ia berlalu. Saya tidak lagi menganggap ia berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Pun saya tidak bilang ia menyenangkan atau membosankan. Sama seperti saat saya melewati usia-usia saya yang lalu. Saya tidak dengan gampang mengatakan masa kecil saya bahagia. Atau saya menyimpan kenangan masa usia belasan yang tidak terlupakan. Rasanya, saya tidak cocok dengan konsep-konsep label waktu seperti itu.
Atau itu semua hanya cara saya untuk menghidarkan diri dari mengatakan "saya tidak bahagia"?
.
Kira-kira tiga tahun yang lalu, saat saya duapuluh empat, saya pergi makan malam dengan beberapa teman seangkatan semasa kuliah. Saat itu, salah satu dari mereka bertanya pada kami semua, "hei, kalau kita boleh meminta sendiri sampai usia berapa kita ingin hidup, kalian akan meminta usia berapa?" Waktu itu ada berbagai jawaban yang keluar, tapi yang saya ingat, jawaban yang populer adalah umur 50. Lalu, ada satu orang teman baik saya yang menjawab cukup berbeda, yaitu umur 35. Tentu saja banyak di antara kami yang kaget mendengar jawabannya itu, termasuk saya, walaupun sedikit-sedikit saya bisa menebak dari kondisinya saat itu apa yang membuat dia mengeluarkan jawaban tadi. Teman-teman yang lain tentu penasaran. Tapi dia hanya memberikan jawaban singkat (yang sebenarnya juga nggak menjawab sih), "yaah...nggak tau ya... rasanya ya segitu aja...". Dan setelah itu dengan bercanda kami saling melempar teori tentang hubungan antara si angka-angka tadi dengan harapan hidup dan cita-cita yang kami miliki. Dan tetap... si angka 35 tadi sesekali masih menjadi bahan pembicaraan kita sepanjang perjalanan pulang.
.
Pada tahun itu juga, saya membaca (belum selesai sampai sekarang) "Mimpi-Mimpi Einstein" karya Alan Lightman, sebuah buku tentang berbagai interpretasi akan waktu.
Selama ini saya selalu menganggap jatah waktu untuk hidup di dunia ini adalah sesuatu yang wajar diterima oleh setiap makhluk yang dilahirkan ke dunia ini. Ada waktunya kita dilahirkan. Dan nanti, ada waktunya kita mati. Tapi saya tidak pernah benar-benar berpikir kapan sebenarnya saya lahir, dan kapan kira-kira nanti saya akan mati. Saya menanggap angka 50 sebagai suatu usia yang paling pas menggambarkan suatu siklus ideal (menurut pandangan sebagian orang) kehidupan manusia : lahir - masa kecil - sekolah - kuliah - lulus - bekerja / sekolah lagi / menikah - berkeluarga - hidup bahagia - lalu mati.
Namun, mulai tahun 2010 yang lalu, di awal tahun, entah kenapa saya tiba-tiba didatangi pertanyaan, "kalau ini adalah tahun terkahir kamu hidup di dunia ini, apa yang akan kamu lakukan?" Dan setelah pertanyaan itu muncul tiba-tiba di dalam kepala saya, di tahun 2010 itu juga, saya berhenti membuat resolusi. Tapi, tetap saja, saya belum bisa membiasakan diri dengan pertanyaan lain, yang jauh lebih mendasar, "jika besok kamu mati, bagaimana kamu akan menjalani hidup hari ini?"
.
Saat berumur duapuluh lima, saya membuat papan mimpi, atau papan visi, yang berisi apa-apa saja yang ingin saya miliki, apa-apa saja yang ingin saya lakukan, dan seperti apa saya nanti, lima tahun dari sejak papan tersebut dibuat. Itu berarti kira-kira pada saat saya nanti berumur tigapuluh. Saat ini saya masih setengah jalan menuju ke sana. Dan walau belum semua gambar pada papan tersebut bisa saya coret, saya sudah memikirkan beberapa gambar-gambar apa yang akan saya susun untuk papan berikutnya, untuk nanti saya mulai tepat di umur tigapuluh. Lalu, setelah itu, apa?
Tiba-tiba saya teringat angka 35.
Dan tiba-tiba juga, angka 50 yang pernah saya sebutkan tiga tahun lalu itu seakan hilang begitu saja.
.
Kalau seandainya setelah angka 35 itu tidak akan ada lagi angka-angka lainnya yang mengejar saya, kira-kira, perjalanan seperti apa yang saya bayangkan untuk mencapai angka tersebut? Kira-kira, tujuh tahun seperti apa yang saya inginkan?
Tentunya bukan tujuh tahun yang seakan-akan wajar saja saya miliki.
. . . . . . .
Demi waktu,
Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi,
Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.
[Q.S. Al - Ashr]
. . . . . . .
Sungguh, waktu adalah milik Tuhan, bukan manusia. Dan rahasia tentangnya, hanya Dia pula yang tahu. Cukuplah untukNya segala ketakutan dalam hati manusia, bukan pada angka yang mengejarnya.
.
Kepergian dua orang sebaya dalam kurun waktu enam bulan, cukup rasanya memaksa saya untuk berpikir "jika besok kamu mati, bagaimana kamu akan menjalani hidup hari ini?" (ditambahkan hari sabtu, 8 januari 2011)
Dulu, waktu masih kecil, saya selalu menganggap bahwa waktu berjalan dengan sangat lambat. Bahwa selamanya saya akan menjadi seorang anak kecil. Saat itu, masa depan, atau sosok-sosok yang kelihatannya lebih tinggi dan besar dari saya itu, rasanya masih sangat jauh. Dan bahkan, sekali waktu saya menganggapnya tidak akan pernah bisa terjangkau oleh saya. Saat itu, rasanya sebuah kehidupan akan berlangsung untuk selamanya.
Dulu, waktu melewati usia belasan, saya menganggap waktu tiba-tiba menjadi sangat labil. Kadang dia berjalan super lambat. Kadang saya merasa dia berlari hingga melanggar batas kecepatan maksimum. Saya pun mulai merasa seperti anak kecil yang terperangkap di dalam tubuh seorang remaja perempuan yang sedang mengalami pubertas. Saya mulai merasa sesak. Tapi saya lebih suka tidur meringkuk daripada menggeliat dengan tangan ke atas. Saya menikmati melihat pemandangan penuh warna dan hiruk-pikuk jiwa-jiwa belasan tahun lainnya di sekitar saya. Saya pun merasa cukup dengan tersenyum saja, menonton dari pinggiran, dan pelan-pelan menyelinap lagi ke dalam selimut saya, mendengarkan musik malam minggu atau membaca novel fiksi dan membiarkan jiwa belasan tahun dalam diri saya mendengkur liar dalam cerita-cerita yang membayang di kepala saya. Cerita-cerita tak nampak, cerita-cerita tak nyata, yang di dalamnya jiwa belasan tahun saya bermain. Puas. Dan tidak puas. Nafasnya tidak teratur. Tapi ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas.
Hingga usia delapan belas, saat saya pertama kalinya mengenal kematian. Mungkin itu kali pertama saya berpikir bahwa waktu, jika tiba saatnya, akan berhenti. Dan setiap kecepatan yang pernah dilaluinya menjadi tidak lagi berarti.
Dan lalu, usia dua puluhan pun datang dan berjalan seakan-akan memang seperti itulah seharusnya ia berlalu. Saya tidak lagi menganggap ia berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Pun saya tidak bilang ia menyenangkan atau membosankan. Sama seperti saat saya melewati usia-usia saya yang lalu. Saya tidak dengan gampang mengatakan masa kecil saya bahagia. Atau saya menyimpan kenangan masa usia belasan yang tidak terlupakan. Rasanya, saya tidak cocok dengan konsep-konsep label waktu seperti itu.
Atau itu semua hanya cara saya untuk menghidarkan diri dari mengatakan "saya tidak bahagia"?
.
Kira-kira tiga tahun yang lalu, saat saya duapuluh empat, saya pergi makan malam dengan beberapa teman seangkatan semasa kuliah. Saat itu, salah satu dari mereka bertanya pada kami semua, "hei, kalau kita boleh meminta sendiri sampai usia berapa kita ingin hidup, kalian akan meminta usia berapa?" Waktu itu ada berbagai jawaban yang keluar, tapi yang saya ingat, jawaban yang populer adalah umur 50. Lalu, ada satu orang teman baik saya yang menjawab cukup berbeda, yaitu umur 35. Tentu saja banyak di antara kami yang kaget mendengar jawabannya itu, termasuk saya, walaupun sedikit-sedikit saya bisa menebak dari kondisinya saat itu apa yang membuat dia mengeluarkan jawaban tadi. Teman-teman yang lain tentu penasaran. Tapi dia hanya memberikan jawaban singkat (yang sebenarnya juga nggak menjawab sih), "yaah...nggak tau ya... rasanya ya segitu aja...". Dan setelah itu dengan bercanda kami saling melempar teori tentang hubungan antara si angka-angka tadi dengan harapan hidup dan cita-cita yang kami miliki. Dan tetap... si angka 35 tadi sesekali masih menjadi bahan pembicaraan kita sepanjang perjalanan pulang.
.
Pada tahun itu juga, saya membaca (belum selesai sampai sekarang) "Mimpi-Mimpi Einstein" karya Alan Lightman, sebuah buku tentang berbagai interpretasi akan waktu.
Selama ini saya selalu menganggap jatah waktu untuk hidup di dunia ini adalah sesuatu yang wajar diterima oleh setiap makhluk yang dilahirkan ke dunia ini. Ada waktunya kita dilahirkan. Dan nanti, ada waktunya kita mati. Tapi saya tidak pernah benar-benar berpikir kapan sebenarnya saya lahir, dan kapan kira-kira nanti saya akan mati. Saya menanggap angka 50 sebagai suatu usia yang paling pas menggambarkan suatu siklus ideal (menurut pandangan sebagian orang) kehidupan manusia : lahir - masa kecil - sekolah - kuliah - lulus - bekerja / sekolah lagi / menikah - berkeluarga - hidup bahagia - lalu mati.
Namun, mulai tahun 2010 yang lalu, di awal tahun, entah kenapa saya tiba-tiba didatangi pertanyaan, "kalau ini adalah tahun terkahir kamu hidup di dunia ini, apa yang akan kamu lakukan?" Dan setelah pertanyaan itu muncul tiba-tiba di dalam kepala saya, di tahun 2010 itu juga, saya berhenti membuat resolusi. Tapi, tetap saja, saya belum bisa membiasakan diri dengan pertanyaan lain, yang jauh lebih mendasar, "jika besok kamu mati, bagaimana kamu akan menjalani hidup hari ini?"
.
Saat berumur duapuluh lima, saya membuat papan mimpi, atau papan visi, yang berisi apa-apa saja yang ingin saya miliki, apa-apa saja yang ingin saya lakukan, dan seperti apa saya nanti, lima tahun dari sejak papan tersebut dibuat. Itu berarti kira-kira pada saat saya nanti berumur tigapuluh. Saat ini saya masih setengah jalan menuju ke sana. Dan walau belum semua gambar pada papan tersebut bisa saya coret, saya sudah memikirkan beberapa gambar-gambar apa yang akan saya susun untuk papan berikutnya, untuk nanti saya mulai tepat di umur tigapuluh. Lalu, setelah itu, apa?
Tiba-tiba saya teringat angka 35.
Dan tiba-tiba juga, angka 50 yang pernah saya sebutkan tiga tahun lalu itu seakan hilang begitu saja.
.
Kalau seandainya setelah angka 35 itu tidak akan ada lagi angka-angka lainnya yang mengejar saya, kira-kira, perjalanan seperti apa yang saya bayangkan untuk mencapai angka tersebut? Kira-kira, tujuh tahun seperti apa yang saya inginkan?
Tentunya bukan tujuh tahun yang seakan-akan wajar saja saya miliki.
. . . . . . .
Demi waktu,
Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi,
Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.
[Q.S. Al - Ashr]
. . . . . . .
Sungguh, waktu adalah milik Tuhan, bukan manusia. Dan rahasia tentangnya, hanya Dia pula yang tahu. Cukuplah untukNya segala ketakutan dalam hati manusia, bukan pada angka yang mengejarnya.
.
Kepergian dua orang sebaya dalam kurun waktu enam bulan, cukup rasanya memaksa saya untuk berpikir "jika besok kamu mati, bagaimana kamu akan menjalani hidup hari ini?" (ditambahkan hari sabtu, 8 januari 2011)
Subscribe to:
Posts (Atom)