30.4.13

[playlist] #2. blue

1. Blue - Bigbang
2. Split Screen Sadness - John Mayer
3. Oceans. Sand. Trees. - Epik High
4. Sound Tracks of Makoto Shinkai's 5 cm per Second

....and you, the fading blue that won't disappear.

28.4.13

adakah.

"supaya kamu seimbang.
supaya jiwa kamu mantap."


dan adakah cinta yang lebih besar daripada semua itu,
kecuali sebentuk saja salah paham gegara jembatan putus yang terlambat disambung.

25.4.13

[playlist] #1. home

1. Clarity - John Mayer
2. 93 Million Miles - Jason Mraz
3. Ii Hi Dattane - Depapepe
4. No Fruit for Today - Sore
5. Wonderwall - OASIS
6. Lucky - Jason Mraz (feat. Colbie Caillat)
7. Half of My Heart - John Mayer (feat. Taylor Swift)
8. Greatest Love of All - Whitney Houston
9. Eternal Love - PJ & Duncan
10. Piano Sonata No. 16 in A - Schubert
11. One - Depapepe
12. Say You Love Me - Simply Red
13. Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan - Payung Teduh
14. Ebony and Ivory - Stevie Wonder


.
untuk kamu, 
sebuah nama yang beresonansi dengan kata rumah di masa depan.

24.4.13

tanda. takut. bacaan.

Semenjak membaca "Manjali dan Cakrabirawa" Ayu Utami, entah mengapa rasanya saya semakin terobsesi pada "membaca tanda". Terobsesi mungkin bukan kata yang tepat. Rasa penasaran yang melonjak-lonjak tak wajar mungkin lebih tepat.

Bagi saya, tanda selalu berada di antara ketakutan dan bacaan. Ketakutan, untuk rasa takut. Bacaan, untuk sesuatu yang dibaca. Setelah itu, "hati-hati" pun menjadi bermakna ganda. Bukan lagi semata duplikasi hati, apalagi jaga diri. Ia menjadi pakai hati untuk takut, dan pakai hati untuk membaca. Karena (hanya) pikiran yang takut itu membutakan. Karena (hanya) mata yang membaca itu silap.

Memilah tanda di antara rasa takut, atau tanda di antara sekian sekadar bacaan, bukan perkara mencari jarum di antara jerami. Ia adalah mencari jerami di antara jerami. Satu helai yang mempunyai maknanya sendiri.

Satu kali saya berlatih dengan bertaruh. Satu kali saya berlatih dengan menetapkan. Bertaruh, apakah kiranya ini tanda atau hanya rasa takut. Menetapkan, bahwa ini adalah tanda, dan itu adalah bacaan tak bermakna. Lalu ada menang atau kalah. Lalu ada benar atau salah.

Tanda bukan tentang keempatnya. Ia memang bukan untuk saat-saat dengan kepala yang terlalu besar, hati yang terlalu tinggi, jiwa yang terlalu kecil.

Membaca adalah dengan nama tuhan. Adalah dengan keyakinan yang sedang tak bersekat.

jaga.

Untuk jiwa yang berjaga semalaman
mengingatnya, ia pun menjanjikan penjagaan.

Untuk hati yang terjaga karena resah,
ada tentram yang tertahan pinta yang gundah.

Kepada sang maha penjaga,
kutitipkan dia yang lebih dari sebuah berharga.

"Reality is different from fiction. In fiction, things need to make sense."


(Source : Paulo Coelho)

ps : 

now i know why several lots of reality made no sense at all.

[music] FTISLAND - Severely.

akhir-akhir ini,
nggak bosan-bosannya dibuat guling-guling sama lagu ini.
lagu ya. bukan video.

23.4.13

sediakala.

seperti sediakala.
semuluk memassanya masa, 
karena ia sedianya beruntun satu demi satu.

19.4.13

mimpi.

Sepanjang jalan kau harap mimpi adalah tanda. Hingga sampai kau di satu bangku, dan tetiba kau ingin mimpi adalah cuma bunga. Lampu taman meredup, memaksa kau cepat beranjak. Tapi kau tak mau. Karena belum bersih benar hati dari harap-harap mimpi adalah tanda-tanda yang nyata.

Lalu hujan.

Kau terpaksa bergegas. Tanpa payung, langkahmu mau tak mau melaju. Sejenak saja harap-harap itu kau lupa. Tapi sisa-sisa hati yang sempat berharap tak akan pernah lupa. Ia mungkin tenggelam. Terkunci. Tapi tak akan pernah hilang.

Lalu kau takut.

Pada harap-harap yang kaubangun sendiri. Pada cemas yang belakangan jadi setengah-setengah kau percaya dan tidak. Lama-lama tanda-tanda yang kauharap mau datang lewat lelap tak ubahnya ketakutan hanya karena matahari sedang tidur.

Lalu hatimu pun tertutup.

Biar tanda atau bunga. Kau tak bisa bedakan. Mimpi menjadi hanya mimpi. Padahal ia menjadi bukan sekadar.
semoga segera berlalu. kuat. dan kembali sehat. selalu.
untuknya. untuknya. untuknya. untuknya.

amiiinnn.