19.6.12

I like nonsense, it wakes up the brain cells. - Dr. Seuss -

love is a nonsense,

it wakes up the brain cells
asking them endlessly to try finding out the possibility of it ends happily.

it tickles the labyrinth of hearts
lowering down the maze walls so it could peek where its catcher might be standing, waiting for.

and again,
love is a nonsense,

it took beyond the senses to get it.

. . .
inspired by
I like nonsense, it wakes up the brain cells. - Dr. Seuss -

18.6.12

(red sunset)

kinasih :
kamu perhatikan tidak...
senja adalah persiapan langit membakar matahari, sebelum ia kabur seperti kemarin-kemarin.
tidakkah kamu mau membantunya, hentikan waktu sebentar saja, agar cukup terkumpul olehnya warna merah?

sebelas :
tapi ia tidak mengobarkannya. ia memampatkannya, seperti bola.
cukup untuk membakar habis satu matahari.
untuk apa waktu berlebih?

kinasih :
merah bukan hanya untuk membakar matahari,
tapi untuk menyelubungi bumi pada bagian ia ditinggalkan sang raja tata surya.
kamu tidak perhatikan juga...
begitu ia habis terbakar, langit tidak lantas hitam bukan..
ada sebarang waktu, bagi penduduk untuk menyalakan hati-hati mereka,
sebelum semesta jadi gelap,
oleh merah-merah yang tersisa.

maka, senja membutuhkannya, sebanyak-banyaknya.

sebelas :
baiklah.
aku hanya perlu membuat jarak berlebih, dengan dua belas,
begitu?

kinasih :
ya.
kamu tahu kan, semakin dekat kalian, semakin cepat ia terbakar.
ia adalah merah terakhir yang akan senja pungut.
maka berjaraklah kalian berdua,

setengah lingkar bumi, jika perlu.

sebelas :
matahari,
di timur ia membakar,
di barat ia terbakar.
di antaranya senja memerah. yang ingin aku lihat selamanya.

tapi jika kuberjarak setengah lingkar bumi dengan dua belas,
maka langit akan juga ikut terbakar.

dan tak kan ada lagi di timur ia membakar.
tak kan ada lagi di barat ia terbakar.
dan senja tak kan lagi merah, tapi hitam.

15.6.12

.kadang

kadang ada perasaan yang tidak bisa tumpah,
sebagaimana pun penuhnya sang wadah bernama hati.

kadang ada maksud yang selamanya hanya terpendam,
sebagaimana pun kerasnya ia menyeruak ke muka.

kadang ada pandangan yang dipaksa tak mengarah,
sebagaimana pun tulusnya pesan yang ingin terpancar.

kadang ada kamu yang seperti bintang, tak terjangkau panggil maupun pancing
sebagaimana pun terangmu berkeliaran nyalakan seluruh penjuru langit.


#maksudhatimaukirimgombalanlewattelepati 
#apadayalidahtakfasihmerayu 
#silakancobalagilainwaktu
#sekiandanterimakasih


#danselamattiduruntukkamusiseharusnyapenerimapesan #lainwakturadarnyadipasanglagiya

14.6.12

to let go vs. to accept

when i wrote this : "this year is not gonna be about be patience, but all about letting go", i definitely forgot that to wish an ability to let go requires the same level of ability to accept. to accept things as they were. to accept things those beyond our own power to handle.

so here i am, again, going back and forth. in attempt to move on. and found out another ridiculous fact. indeed, to accept is way harder to let go.

true findings.

yet thankfully i don't ever feel any need to go back to square zero. taking a pit stop, and to continue the walk full force, is surely enough :)

13.6.12

. . . . . . . . . . .

jiwa terjaga pada raga yang berkelana,
mata hati terbuka pada pandangan yang teduh,
telinga pasang pada pendengaran yang merdu.

cita hadir dengan sadar,
cinta tumbuh dalam keberserahan.

kuikatkan kata-kataku pada janji,
kurekatkan janji pada lembar-lembar surat
yang saling layang antara bumi dan langit
tepat pada saat-saat matahari bersolek demi sebuah pagi.

] - - - - - - [

tak ada labirin yang tak berjalankeluar.
tak ada labirin yang tak menahan jiwa-jiwa kesepian untuk berkubur di dalamnya.
tak ada labirin yang tak ada untuk perpisahan.

: : : : : : : : :

kamu adalah udara yang sedianya membuatku bernafas lega.
sesekali, dalam kecepatan, pernah kamu buat nafasku terburu,
dan seringkali, pada ketinggian, kamu membuatku sesak.


dan pada satu waktu, nanti, sekali untuk selamanya


bisa kamu buat aku bernafas hanya dengan senyum, cukup dengan ada...
bisa juga kamu buat aku mati dengan begitu saja hilang dari penghirupanku.
sebanyak nyawa yang ditiupkan tuhan ke dunia, sebanyak itu pula cara pandang akan kebenaran yang disediakannya.

11.6.12

tidak berdefinisi.

Hampir segala sesuatu, jika sudah bersinggungan dengan perasaan, sesedikitnya pun, tidak dapat dikatakan memiliki definisi. Karena definisi membatasi, sedangkan perasaan adalah tanpa batas. Definisi kental dengan ketertebakan, sedangkan perasaan (ternyata) sangat penuh dengan kejutan.

Seperti bagaimana kapal di belantara samudra.



"Kapal Dilanda Badai" (Raden Saleh, 1837)
Galeri Nasional, Jakarta


Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan "Kapal Dilanda Badai". Sejujurnya adalah lukisan pertama yang saya lihat dalam pameran karya Raden Saleh yang berhasil secara langsung menarik hati saya. Pertempuran antara kekuatan dan ketakutan. Terombang-ambing. Terhempas. Begitulah kepala saya mencoba menerjemahkan lukisan ini. Sayangnya tidak berhasil. 

Saya hanya merasa gelisah. Tanpa tahu sebabnya. Gelisah yang menenangkan. Sebuah paradoks, memang. 

Rasanya saya bisa betah berlama-lama di depan satu lukisan ini. Memandangnya lekat-lekat tanpa merasa perlu menganalisis setiap detilnya. Karena masing-masing lekukan hasil sapuan kuas adalah sebuah apa adanya yang terlupakan. Saya hanya perlu mengingatnya. Cukup begitu saja. 

Setelah mengingat, gelisah datang. Lalu nanti ia (justru) akan berbalik menjadi penenang. Bahwa terlupakan adalah bagian dari sebuah putaran dalam hidup.
secangkir kopi instan,
dan perasaan yang terlalu cepat mekar,
lalu terlalu cepat pula pudar.


secangkir kopi tubruk,
dan perasaan yang meminta banyak waktu untuk tumbuh, 
lengkap dengan butir-butir pahitnya
yang lalu mengendap bersama rasa manis yang tersembunyi.