11.8.11

11 | filsuf.

saat-saat mendebarkan itu adalah saat-saat menjelang usia enambelas
di mana kepala rasanya penuh dengan tanya :
siapa aku, siapa kamu, mengapa kita di sini, mengapa begini dan mengapa begitu,
mengapa kita berpijak pada dia yang bernama bumi,
mengapa harus ada kantuk, mengapa harus ada langit biru dan langit hitam.

lalu ada debar-debar yang lebih keras, saat menyadari ada tanya yang lain :
apakah dirimu Tuhan, ada di mana dirimu, seperti apa rupamu,
mengapa harus aku bersujud seperti ini,
mengapa harus kubicara padamu dengan bahasa yang aku tidak mengerti,
mengapa tidak bisa kukatakan pintaku langsung ke hadapanmu.

apakah benar setiap nafas, setiap langkah, bahkan setiap tanyaku tadi adalah telah kau tentukan untukku.

dan tak ada lagi dusta melebihi saat-saat aku berbicara pada mereka,
bahwa dirimu itu begini dan begitu,
padahal sungguh, aku tidak tahu apa-apa.

dan mungkin hanya dengan keraguanku aku bisa mengenalmu sebetul-betulnya,
sepanjang umur yang telah kau tentukan untukku.

reka (6) : air mata.

sakit sungguh kedua jendela hati ini,
tapi demi mengalirmu, tak mengapa.

karena di sini ada telaga tak berbatas,
tak kan pernah habis, kapanpun ada rasa perih yang sampai lewat kabar.

karena telaga ini tak terselami,
juga tak kan surut ia oleh luka-luka yang pura-pura menganga.

10.8.11

10 | memori.

lembar-lembar memori bergantungan pada bandul,
yang berayun tepat pukul sebelas malam.

mereka lalu ikut berdendang, berdentang seiring ayunan,
merubuhkan bilik-bilik imajiner dalam kepala,
membaurkan segala yang masih teringat, memilahnya :

mana untuk dibawa, mana untuk ditinggal.

9.8.11

9 | hutang.

kadang ada ketidaknyamanan di balik sebuah kelegaan.

mungkin ketidaknyamanan yang mendewasakan,
atau mungkin juga ketidaknyamanan yang menjadi sekadar alasan.

namun kelegaan hanya akan datang saat beban terangkat,
sedang untuk mengangkatnya, ketidaknyamanan adalah pasti untuk sedikit terselip.

kadang ada ketidaknyamanan di balik sebuah kelegaan.
namun ia ada bukan untuk kita melarut di dalamnya.

reka (5) : tangga.

pada anak tangga ada hati-hati yang tercecer,
tak terlihat, tak terdengar.
saru dengan warna sang pijakan,
saru pula dengan suara derit kala terbeban.

hanya t e r i n j a k  i a

lalu adakah sakit itu terasa?
ataukah dengan terberai maka dengan sendiri ia mati?


lalu apakah itu, genangan yang ada pada bawah tangga,
juga isakan menyayat penopang anak-anak yang menaunginya?

8.8.11

reka (4) : botol.

kuhanyut pada samudra waktu yang kau buang,
demi menungguku,
demi menunggu kita.
tidakkah kau lihat ia berbalik? padamu dan padaku?

tersangkut kau di waktuku, pada batang yang tertahan satu karang besar,
demi mencariku,
demi menjadi kita.
pada hilir, yang kelak kita beri nama pertemuan.

tidakkah kau lihat? laut itu menggoda untuk kita selami bersama.
setelah ini, mari...

reka (3) : debu.

rintik menderas menyerbu,
bubarkan kumpulan debu pada teras kayu,
hingga terdesak mereka, merapat, membercak pada dinding putih,
meratap pada kumpulan yang terpecah.


aku hanya ingin kalian pergi ke penjuru,
meneruskan terang yang tak abadi hingga ke dalam selukbeluk bilik.


mungkin begitu kata tetes-tetes yang merintik.

reka (2) : bintang.

sungguh tak tertangkap nampaknya engkau, gemintang.
apa itu pada jarak antara bumi dan kau?

ia itu hamparan pasir,
yang padanya kau harus mengarung demi mencapaiku, kunang-kunang.

namun tidakkah bumi sedang berpesta malam musim panas?
tidakkah kau mau menari-nari, menjadi semacam aku 
bagi kehidupan-kehidupan kecil yang berjejak padanya?

reka (1) : kereta.

selamat malam tuan putri,
kiranya apa yang membuatmu masih terjaga?
padahal bulan bersinar sempurna mengamankan malam yang memelukmu.

adalah matahari yang menjadi penumpangmu,
tidakkah ia sedang menunggu waktunya turun saat lintasan kereta melewati zona waktu ke lima?
lalu masih adakah lelap itu, wahai tuan penarik kereta?

8 | sudah(i).

tidakkah kamu ingin menyudahinya?
kegaduhan yang aku dan kamu timbulkan dengan alasan mencari jalan tengah.
karena bukankah sesungguhnya tidak ada, dan tidak akan pernah ada, jalan tengah itu?

yakinkah kamu ingin mengganti median ini
dengan dunia linear yang tergaris, yang tegak lurus dengan hari ini dan hari nanti,
yang terhimpit di antara jalanku dan jalanmu?

dan yakinkah kamu bahwa seingin itu pula aku?
tidakkah kamu ingin aku sama-sama menyudahinya?
sesuatu yang bahkan ingatanku dan ingatanmu pun meragukannya:


benarkah kamu memulainya (dulu)?