2.7.11

desir.


berdesir hati karena bimbang, berbilik itu jantung, bukan ia.
dan apalah tanda dari arah (tiupan) angin di puncak bukit, karena mereka bercampur layaknya desau yang dengungkan kuping, lalu biaskan rasa yang masih juga remaja.

berdesir hati karena gamang, berketetapan itu tuhan, pemiliknya, bukan ia.
dan apalah tanda dari prasangka yang semata logika, karena mereka tak bernurani layaknya risau yang gerogoti cita, lalu rubuhkan mimpi yang masih juga istana pasir.

seraya.

seraya, aksara dan cahaya.

di Timur,
mata-mata jadi saksi merapatnya kesadaran pada permukaan,
itu adalah sejenak pada akhir lelap.

jemari dengan ruas-ruas langsing dan buku-buku tajam sibuk menuai aksara sebelum mereka membusuk di pojokan sebentuk ingatan.

di Barat,
kaki-kaki sebagaimana biasa memperlambat langkah, dan lalu terseok.
seperti ia pun kehilangan cahaya yang tadi adalah arah.

dan mata sibuk mengejap, mencoba-coba membaca lukisan jejak tarian cahaya matahari, sebelum mereka lalu lenyap serupa berkas matahari yang berjemput malam.

. . .

pada langit,
semburat pun bertukar rembulan.

seraya bimbang yang terlahir bersama hilangnya matahari dari jangkauan pandang.
seraya detak tak beraturan yang menyesakkan logika.

pada langit,
rembulan pun (sesekali) perlu nampaknya berlindung mendung.

1.7.11

kira-kira satu semester yang lalu, dalam catatan harian saya, saya menulis begini :

"(semester depan, sambil tesis, saya akan sambil belajar masak, yoga, dan menyupir, supaya sabar, tenang dan fokus, dan senang di akhirnya)"


komentar saya saat ini : rencana tinggal rencana, mimpi aje lu...

30.6.11

Hari ini seorang teman di salah satu situs jejaring sosial memasang status seperti ini :

Did you know that when people appear in your dreams, it's because that person wants to see you.
-TIME magazine-


. . .

Kira-kira, boleh tidak ya (sekali-sekali) saya merasa hal tersebut benar? :)

29.6.11

semata penggalan isi kepala :

"menulis untuk dibagi memang (mungkin) harusnya yang baik-baik saja. namun saat (rasanya) apa yang harus tertumpah adalah bukan yang baik-baik, harus bagaimana? sementara mata membenci luar biasa bahkan sekedar sinisme. apalagi selaput tipis antara kritik dan cela. 

seyakin itukah akan isi kepala telah sanggup membedakan keduanya?

memang betul. diam itu emas. kristal mungkin kalau boleh saya menggantinya. namun tidak begitu kata zaman. 'bicaralah apa yang ada di pikirmu!' begitu katanya.

dan semua orang pun (lalu) sibuk berbicara. apa saja. termasuk (mungkin) yang sebenarnya tidak (benar-benar) ada di pikiran mereka. sekedar membuat riuh. 


sesuka mereka. 



dan (lalu akhirnya berbalas) juga sesuka saya."

28.6.11

at times, it's just i'm in no speed to catch all the glimpse of life outside mine. yes, am basically a total self-centered and highly egocentric. most people said that's just like being a human. 


yet it's not okay. at least for me it is. 


in that case, i'd love to take all what they've said, both if it's said directly towards me or even if it's done behind me, those are caused by what they'd seen in me as a result of me not being able to control what is suppose to be available (in me) for others to see.

26.6.11

"please forgive me, 
for i just want to keep what i really feel like to keep, 
and throw what i really feel like to throw... 

you thought i was a keeper? 
please do think again"

24.6.11

midnight.

by Adhitia Sofyan


Here today gone tomorrow
Washed away all my sorrow
There will be a time when I will come and find you again.

Leave the light on your window
I just might try to follow
There will be a time when I will finally find you

But midnight close my eyes I’m tired I’m fading
I am only human, Searching
Places I wont go where your name are written
We’re all only human, faking

Stay a while fill my hollow
Till the sky turns to yellow
There will be a time when I will come and find you again.

See the time has gone too narrow
They’ll be things you can’t borrow
There will be the day when I will finally find you

. . .

Saya suka sekali lagu ini. Suka. Suka. Suka. Sekali.
tidakkah ada bosan membuntutimu seperti hantu? 
jika kutahu di mana kamu saat ini, ingin rasanya aku terbang menujumu, dan memancangkan papan "milikku, jangan diganggu" di dekatmu. 

tapi kamu tahu, jika betul saat ini aku tahu di mana kamu, tidakkah masa yang di depan itu akan menjadi sesuatu yang ganjil bagi kita berdua nanti? tidakkah penuh janjinya mempertemukan kita hanya pada saat di mana kita sama-sama mengetahui "sekarang"-lah saat itu? tidakkah dengan demikian berakhir segala yang belum bermula?

baiklah, kutiupkan berpeluk-peluk sabar untukmu (juga untukku) dan rindu tanpa nama yang tak cukup tertampung di setiap denyut penghantar kehidupan. lewat semesta, yang (bertutur ia) pada masanya akan membawa kita ke satu tempat yang sama. 

ada harap cemas tempat itu adalah di antara mars juga jupiter. karena ingatanku bilang, dulu, sebelum masa (lagi-lagi) membawa kita ke satu tempat di antara mars dan venus, di sanalah kita untuk (benar-benar) pertama kalinya bertemu. tidakkah begitu?

baiklah, bersama titipan ini, kuselipkan pesan singkat untukmu :
"mari, sayang, kita berandai-andai tidak ada masa, fana maupun baka. sudahkah? lalu dengarlah, tidakkah ada lagi ia yang bertanya-tanya : kapan Tuhan, kapankah akan kami bertemu?"

. . . 

sebuah catatan yang berputar di kepala segera setelah sepuluh bab pertama "Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai" karya Goenawan Mohamad. 

23.6.11

denyut.

penanda kehidupan. penanda masa. penanda luka.

adalah seumpama kehidupan,
di mana riak bercampur dengan dentum, juga sesekali dengan ketiadaan.

adalah serupa masa,
yang melenggang tak kenal sekat, yang biarkan manusia menyebut-nyebutnya sebagai perlambang awal juga akhir.

adalah semata luka,
sebuah cermin seada-adanya dari jantung, atau labirin dalam otak yang sibuk membikin jalan buntu bagi pikir.

. . .

penanda hatikah ia?
bongkahan yang dielu-elukan bangsa manusia,
namun tak lalu mereka dengar suara yang keluar darinya.

ialah denyut itu.

kini, kau tahu tentang rasa,
jangan sekali kaujadikan ia penanda.