Showing posts with label sembilan. Show all posts
Showing posts with label sembilan. Show all posts

20.1.13

tuddy.

dari kepalamu selalu keluar warna
.
kadang mereka acak seperti pada semangkuk salad
kadang rapi seperti pada pelangi

kadang mereka kau ikat agak lega,
kadang kau biar berdiri

kadang mereka kau sembunyikan,
kadang kau beri aku sedikit celah untuk mengintip
.
dan mungkin, waktu itu di mataku kamu terlihat seperti dia :


tuddy putih kecil dan lucu yang ber-mohawk 

17.11.12

mahoni (2).

ketika hati terjepit,
dan beriak pada sebuah musim bumi berbunga.

di mana waktu bercerita tentang masa lalu :
saat dunianya adalah air, tanah, dan udara yang berbatas pada selembar daun di bawah matahari.

11.11.12

mahoni (1).


karena kamu terlalu besar,
tak cukup untuk kuminta masuk ke dalam hatiku.

bahkan sekedar mengetuknya,
kiranya tak pernah ada untukmu.

12.9.12

gunung #4

usiaku termakan kencangnya detak nadi,
sementara bersisa panjang perjalanan yang masih kelaparan
juga pencarian yang tetap pada dahaganya.

dan rumah yang belum selesai,
dengan kotak surat warna merah dan pagar kayu bercat putih aster, setia di sebuah ujung.

gunung #3

aku kesiangan. untuk sebuah saja senja di code.
malam datang terlalu cepat, memakan lampu kota pembingkai si kali besar.

aku kesiangan. untuk sebuah harap-harap ragu yang pernah terlintas,
waktu itu ada kamu di sebelah.
pagi tak bisa menahan kelabu turun dari gunung,
bergumul dengan biru sang bayangan langit tengah pulau.

aku kesiangan. untuk sebuah senja yang merah.
kereta tak mau menunggu penantian tanpa jejak yang dikenal.

6.9.12

gunung #2

waktu itu...

.
tangan kiri ayah menghalangi sinar matahari pukul tujuh pagi,
ia itu lewat sedikit dari sinar-sinarnya kala terbit yang memilin detik-detik dengan halusnya.
tidakkah kamu pun terpukau?

tangan kanan ayah memegang erat-erat pundakmu,
kamu ingat? ia bilang tegas-tegas :
naik sampai puncak, supaya kamu adil, tajam pikiranmu dan halus perasaanmu.

aku di sebelah kananmu,
berjongkok, sibuk merangkul badan kecilmu
sambil lalu berbisik :

lihat langit biru di atas? ia adalah batas yang menembus batasnya sendiri.
di sini tempat yang sempurna untukmu membuat janji dengan diri.
di sini adalah sedekat-dekatnya jarak antara kamu dan hatimu.
.

...waktu aku masih percaya pada negeri bernama dongeng

gunung #1

dia bercerita sebagai perpisahannya ;
tentang langit malam utara yang mampir ke selatan untuk pertama kali.

katanya :
negeri dongeng itu tidak benar-benar ada,
ia adalah muka bumi yang tak pernah terlintas dalam benakmu untuk tersenyum padanya.
sekali ini saja, kamu harus percaya.

13.4.12

sembilan | dua.

yang ingin kuberi untukmu ini,
adalah kembar yang dulu pernah kubilang padamu dulu.

saat itu, kita berdua sama-sama percaya bahwa lingkaran tak punya awal juga akhir,
tapi akhirnya kita hanya bisa termenung melihatnya nyata berawal dari sebuah saja titik,
dan perlu keberanian yang penuh untuk menggenapinya. atau menutupnya : memeluk titik awal tadi, dengan titik penghabisan.

lalu di tengah jalan kita pun bertentang :
kau bilang lingkaran itu berakar pada tanah, maka ia sejatinya utuh tak terputus titik ini dan itu.
aku bilang lingkaran itu turun dari langit, mungkin gelang malaikat pencatat hati yang terjatuh.

dan kita pun tak bersepakat,
dan saling berdiam hingga lebih tujuh hari.


maka,
yang ingin kuberi untukmu ini,
adalah kembar yang dulu pernah kubilang padamu.


ingatlah.
dan mari berdamai.

sembilan | satu.

ceritanya adalah jarak dari pintu ke jendela,
tuturnya adalah angin yang berhembus di antaranya, mencari celah untuk lolos,
diaturnya jeda, penanda keletihan bercampur dengan kelapangan yang mendesak masuk.


sunyi adalah suara tertahan yang menamatkan sang cerita, sebelum mulai ia berkisah.

23.3.12

masa cinta adalah kuning.

kelopak-kelopak kecil kuning itu membeku di atas dataran,
karena matahari kesiangan tak terburu mengusir dingin penyaput jemari yang saling menggenggam.

dia tahu satu rahasia, karenanya harus diam seribu bahasa, tanpa satu pun pesan.
yaitu akan dua rasa yang terhenti pada senyum terkulum.

cinta hari ini adalah kuning,
maka ia tak tahu tentang kelak. apakah ia akan memerah seperti sebuah ujung, atau akankah ia menghijau seperti sebuah perjalanan.

cinta hari ini adalah kuning :
abadi dalam ketidakbertemuannya.

4.12.11

berhenti.

ketika detik semakin mendekati akhirnya,
dan tak ada lagi makna yang ingin dicari. kalau perlu bahkan biarkan saja dia sembunyi selama-lamanya.

ketika sebuah akhir menampakkan dirinya dalam bayang-bayang samar,
dan tak ada lagi ingatan yang ingin dijaga. kalau perlu bahkan dibakar saja.

ketika tak ada lagi rasa yang ingin dirangkai lalui aksara,
mungkin memang betul adalah waktunya untuk berhenti.

mengambil jeda,

untuk kembali berbahasa dalam diam,
untuk kembali berbahasa tanpa perlu dituliskan, dibicarakan, apalagi dicekoki logika.
untuk kembali berbahasa demi seonggok tinggalan yang tidak sia-sia.

11.11.11

abu-abu (5) | sebuah tiga sebelas.

dari belakang |

ada senja bergelayut di pudakmu,
merayu dengan mata sendu dan pipi merah jambu.

ada rintik halus menirai hatimu,
memaksa dengan suara beku dan setipis pisau.


dari depan |

ada arang membara di matamu,
(dan sungguh mati) ingin ia padamkan dirinya sendiri.


| dari mataku

dengan panggilan pulang kutandai senja.
dengan hampa kutandai derai gerimis.

lalu dengan abu-abu kutandai bara,
yang meredup dan merapuh, tapi tak juga mau ia bergabung dengan tanah.
adalah ia antara hidup dan mati. 

14.7.11

semacam bimbang.

kenalkah kau padanya?
ia yang mengajakmu memijak udara, tanpa berdasar percaya pada bumi.

tidakkah lalu wajar jika bumi menyimpan kecut akan bongkahan besar rasa percaya yang dititpkan melalui akar-akar trembesi?

kenalkah kau padanya?
ia yang membersit sekedar pening bersalut penat, berujung ragu pada keberadaan semesta.

tidakkah lalu wajar jika benak sekenanya melukiskan cabang ke sana sini,
toh mereka semua akan patah di akhirnya, lalu mati dan membusuk, lalu hidup lagi?

kenalkah kau padanya?
ia bimbang. ialah yang mengawang-ngawang rasamu di udara,
menjadikannya hanya sekedar cerita yang lalu habis terkikis udara.

menjadikan rindu sebagai suatu yang hanya bisa dibiarkan berkibar-kibar liar tanpa bisa direngkuh,
karena udara telah membebaskannya bersamaan dengan waktunya mengikis habis setiap cerita yang belum sempat tertoreh.

10.7.11

sebagaimana langit berbayang pada matamu, meredupkan sisa cahaya pagi yang terperangkap benak, tak berukur rindu atas jalinan hitam atas putih. 


juga atas tangan-tanganmu yang sempurna memintalnya.

2.7.11

seraya.

seraya, aksara dan cahaya.

di Timur,
mata-mata jadi saksi merapatnya kesadaran pada permukaan,
itu adalah sejenak pada akhir lelap.

jemari dengan ruas-ruas langsing dan buku-buku tajam sibuk menuai aksara sebelum mereka membusuk di pojokan sebentuk ingatan.

di Barat,
kaki-kaki sebagaimana biasa memperlambat langkah, dan lalu terseok.
seperti ia pun kehilangan cahaya yang tadi adalah arah.

dan mata sibuk mengejap, mencoba-coba membaca lukisan jejak tarian cahaya matahari, sebelum mereka lalu lenyap serupa berkas matahari yang berjemput malam.

. . .

pada langit,
semburat pun bertukar rembulan.

seraya bimbang yang terlahir bersama hilangnya matahari dari jangkauan pandang.
seraya detak tak beraturan yang menyesakkan logika.

pada langit,
rembulan pun (sesekali) perlu nampaknya berlindung mendung.

2.6.11

as fast as she can *)

*) judul episode ke-23 dari serial "How I Met Your Mother" musim ke-4


Tentang jodoh, selama ini saya selalu gelisah sendiri, bertanya-tanya, "dia ada di mana ya?" atau "kenapa dia nggak datang-datang?" atau "dia pasti akan datang nggak sih?" Yah, pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada satu orang pun yang bisa menduga apa jawabannya. 


Lalu, setelah menonton episode tersebut saya tiba-tiba berpikir, bagaimana kalau semua ini dibalik? Bagaimana kalau ternyata saat ini, dia --seseorang yang seharusnya adalah jodoh saya itu -- lah yang sedang sangat gelisah, mungkin sesekali sambil mengeluarkan decakan tak sabar -- persis sama seperti yang saya lakukan -- dan bertanya-tanya, "ada di mana dia?" atau "harus saya cari kemana lagi dia?" Bagaimana kalau selama ini ternyata saya yang sangat lambat dalam berjalan menujunya? Bagaimana kalau selama ini ternyata saya belum melakukan yang terbaik untuk bisa datang ke tempatnya dengan secepat-cepatnya? Bagaimana kalau sebenarnya "tempat pertemuan" kami sudah ditetapkan dan segalanya hanya bergantung pada kecepatan masing-masingdari kami untuk mencapainya? Mungkinkah selama ini kami sama-sama kebingungan di tempat yang salah? Mungkinkah dia sudah mencapai tempat itu terlebih dulu, lalu karena tidak menemukan saya di sana dia lalu pergi lagi? Mungkinkah sekali waktu saya pernah melewati tempat tersebut tanpa mengetahui bahwa di sanalah saya akan bertemu dengannya sehingga saya berjalan agak buru-buru sambil sedikit menunduk dan hampir saja menabrak bahunya yang -- juga tanpa mengetahui bahwa itu adalah tempatnya -- berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus ke depan?


Sekali lagi, seperti yang John Mayer lagukan pada "Love Song for Noone" : "I could have met you in a sandbox. I could have passed you on the sidewalk. Could I have missed my chance and watched you walk away?" 


Tentang jodoh ini, yang ada bukan "saya belum menemukannya" atau "dia belum menemukan saya", tapi "kami belum bertemu, pada tempat dan waktu yang benar". Sesederhana itu. Kelihatannya. 


. . . 


Jadi, ayo selesaikan tesis ini! Dan segera pula mainkan dengan betul Sonata No.16 dari Schubert. *loh*
Tinggal dua bulan saja waktu yang tersisa. Kali ini biarkan Tuhan yang menenangkan sepasang hati yang gelisah : "Dia sedang menujumu, kali ini dengan berlari, secepat yang dia bisa. Ayo, kamu juga harus berlari secepat yang kamu bisa, menujunya. Di mana tempat pertemuan kalian? Semua sudah tercatat. Hati kalian tahu. Dan pada waktunya, kalian akan sama-sama menyadarinya."
untuk masa depan,
yang masih bergetar, berbayang, acak dan tak terjamah akal hari ini,

kupecayakan ia padamu,
yang akan menghadirkannya untukku.


satu hari nanti.

. . .

nobody is to be too old for playing sandbox, or bucket list

1.6.11

pada senja.

senja bercerita tentang matahari dan hujan.

matahari, dengan semburat yang terburu-buru meninggalkan langit.
hujan, dengan rintik malu-malu perlahan menyapa tanah yang hangat.

senja bercerita tentang matahari dan hujan.

tentang perjalanan yang tidak pernah terduga,
juga kawan bagi jiwa yang datang dan pergi tiba-tiba.

.

senja bercerita tentang matahari dan hujan,

dan sesekali ia selipkan tentang bianglala :
sang cinta yang berkelebat, meninggalkan jejak tujuh rasa,

lalu mati : matahari membakarnya. hujan melarutkannya.

. . . . . . .


pada suatu senja,
pada suatu dasar angkasa,

bianglala menuliskan ceritanya.

4.5.11

sembilan.

untuk matahari yang setia menanti,
malam tak pernah bosan memeluk jiwa-jiwa kesepian

bukan dari riuh lampu seluruh penjuru kota
bukan dari belantara tanya yang tak putus-putus

.

sepi tak pernah memlih tempat berjejak,
ia datang, datang saja

ketakutan pada malam,
bukan karena gelap, namun karena semesta yang tak berpenjaga.

ketenangan pada pagi,
bukan karena kota mulai berbincang, namun karena matahari yang memasang tombak berpanah dua
hingga mata akhirnya berani terlelap.

.

tapi jiwa yang kesepian adalah sepanjang masa,
tak kenal hitungan waktu, pagi ataupun malam
tak kenal konstelasi apalagi matahari
tak peduli apakah dalam satu putaran minggu, malam memeluknya tujuh atau sembilan kali.