Suatu hari saya harus menjejakkan kaki di kota London! Berdiri di depan pintu gerbang Olympic Stadium, sambil meminum segelas kopi take-away dan mengayun payung putih transparan. Sambil sesekali melihat ke arah putaran the London's Eye. Dan berharap-harap cemas kamu tidak lupa waktu pertemuan kita sesuai perjanjian di satu waktu lalu kala dunia mimpi kita pernah saling terhubung dan saling mendesak satu sama lain. Saya tak sabar menunggu saat mendengar kamu memperkenalkan dirimu nanti, apakah benar kamu adalah sang pencatat. Dan mungkin kamu juga tak sabar menunggu saat mendengar saya memperkenalkan diri nanti, apakah benar saya adalah sang tanda yang kamu tunggu.
Lalu setelah bertemu dan saling tersenyum nanti, kita berdua akan sama-sama berjalan menuju taman terdekat dan menggambar kota ini. Saya akan berdebar-debar ingin tahu warna apa saja yang akan kamu pilih. Apakah seperti pilihan saya, ada warna merah, hijau, dan putih? Atau kamu justru lebih memilih warna hitam, putih, dan abu-abu?
Tapi nyatanya kamu tak mengambil satu warnapun, kecuali kelabunya pensil. Kamu cuma bilang, "pertemuan tak perlu warna. Kalau sekarang kira bersepakat untuk sama-sama menyimpan hari ini, mungkin besok-besok saya akan menggunakan sedikit merah dan mungkin juga sedikit hijau. Bagaimana?"
Lalu hujan turun.
Saya diam, dan membuka payung putih transparan, dan memegang gagangnya demikian sehingga tepat berada di antara saya dan kamu dan menaungi sedapatnya masing-masing kita. Tidak lebih besar pada bagian kamu, tidak juga lebih besar pada bagian saya. Hujan yang tak memilih satu dari kita untuk tetap kering tentu tahu, ada sebuah anggukan yang tak perlu terbahasakan.
Dan saat itu, kita akan sama-sama tahu. Bahwa mimpi adalah bunga tidur : sebuah pemutaran segulung memori dari masa depan.
Showing posts with label ceritacerita. Show all posts
Showing posts with label ceritacerita. Show all posts
25.7.13
19.4.13
mimpi.
Sepanjang jalan kau harap mimpi adalah tanda. Hingga sampai kau di satu bangku, dan tetiba kau ingin mimpi adalah cuma bunga. Lampu taman meredup, memaksa kau cepat beranjak. Tapi kau tak mau. Karena belum bersih benar hati dari harap-harap mimpi adalah tanda-tanda yang nyata.
Lalu hujan.
Kau terpaksa bergegas. Tanpa payung, langkahmu mau tak mau melaju. Sejenak saja harap-harap itu kau lupa. Tapi sisa-sisa hati yang sempat berharap tak akan pernah lupa. Ia mungkin tenggelam. Terkunci. Tapi tak akan pernah hilang.
Lalu kau takut.
Pada harap-harap yang kaubangun sendiri. Pada cemas yang belakangan jadi setengah-setengah kau percaya dan tidak. Lama-lama tanda-tanda yang kauharap mau datang lewat lelap tak ubahnya ketakutan hanya karena matahari sedang tidur.
Lalu hatimu pun tertutup.
Biar tanda atau bunga. Kau tak bisa bedakan. Mimpi menjadi hanya mimpi. Padahal ia menjadi bukan sekadar.
Lalu hujan.
Kau terpaksa bergegas. Tanpa payung, langkahmu mau tak mau melaju. Sejenak saja harap-harap itu kau lupa. Tapi sisa-sisa hati yang sempat berharap tak akan pernah lupa. Ia mungkin tenggelam. Terkunci. Tapi tak akan pernah hilang.
Lalu kau takut.
Pada harap-harap yang kaubangun sendiri. Pada cemas yang belakangan jadi setengah-setengah kau percaya dan tidak. Lama-lama tanda-tanda yang kauharap mau datang lewat lelap tak ubahnya ketakutan hanya karena matahari sedang tidur.
Lalu hatimu pun tertutup.
Biar tanda atau bunga. Kau tak bisa bedakan. Mimpi menjadi hanya mimpi. Padahal ia menjadi bukan sekadar.
13.8.11
reka (8) : rindu.
dan demi apa pun pada semesta,
aku hanya ingin mengetuk pintu rumahmu,
berteriak memanggil namamu,
mengajakmu bermain bersama (lagi) ke kebun di balik hutan belakang rumah kita.
di mana ada bebek-bebek yang akan ikut membuntuti kita saat bermain tari kereta api,
di mana ada pohon-pohon beri yang tidak boleh dipetik,
di mana ada padang rumput tempat kita bisa menatap angkasa dengan bergandengan tangan
tanpa harus terganggu oleh sebentuk ingin yang suka sekali menyelinap di antara kita.
aku hanya ingin mengetuk pintu rumahmu,
berteriak memanggil namamu,
mengajakmu bermain bersama (lagi) ke kebun di balik hutan belakang rumah kita.
di mana ada bebek-bebek yang akan ikut membuntuti kita saat bermain tari kereta api,
di mana ada pohon-pohon beri yang tidak boleh dipetik,
di mana ada padang rumput tempat kita bisa menatap angkasa dengan bergandengan tangan
tanpa harus terganggu oleh sebentuk ingin yang suka sekali menyelinap di antara kita.
dan demi apa pun sepanjang masa,
aku hanya ingin membuka jendela kamarmu,
lalu membisikkan namamu berulang kali sampai kau bangun,
memintamu untuk loncat keluar jedela diam-diam supaya tidak ketahuan ibumu.
ke taman kecil rahasia di antara rumahmu dan rumahku,
ke mana ada bunga-bunga aster yang pernah kita tanam bersama,
ke mana ada timbunan kapsul waktu yang kita tidak tahu milik siapa,
ke mana siang dan malam tak banyak berbeda bagi kita.
karena setiap saat aku dan kamu bersama,
tak ada hitungan masa yang sanggup merangkumnya,
tak juga ada kata rindu masuk ke dalam benak masing-masing kita.
ruang :
catatanpendek,
ceritacerita,
konstelasi,
sketsa suara
8.8.11
reka (4) : botol.
kuhanyut pada samudra waktu yang kau buang,
demi menungguku,
demi menunggu kita.
tidakkah kau lihat ia berbalik? padamu dan padaku?
demi menungguku,
demi menunggu kita.
tidakkah kau lihat ia berbalik? padamu dan padaku?
tersangkut kau di waktuku, pada batang yang tertahan satu karang besar,
demi mencariku,
demi menjadi kita.
pada hilir, yang kelak kita beri nama pertemuan.
tidakkah kau lihat? laut itu menggoda untuk kita selami bersama.
setelah ini, mari...
reka (2) : bintang.
sungguh tak tertangkap nampaknya engkau, gemintang.
apa itu pada jarak antara bumi dan kau?
apa itu pada jarak antara bumi dan kau?
ia itu hamparan pasir,
yang padanya kau harus mengarung demi mencapaiku, kunang-kunang.
namun tidakkah bumi sedang berpesta malam musim panas?
tidakkah kau mau menari-nari, menjadi semacam aku
bagi kehidupan-kehidupan kecil yang berjejak padanya?
reka (1) : kereta.
selamat malam tuan putri,
kiranya apa yang membuatmu masih terjaga?
padahal bulan bersinar sempurna mengamankan malam yang memelukmu.
kiranya apa yang membuatmu masih terjaga?
padahal bulan bersinar sempurna mengamankan malam yang memelukmu.
adalah matahari yang menjadi penumpangmu,
tidakkah ia sedang menunggu waktunya turun saat lintasan kereta melewati zona waktu ke lima?
lalu masih adakah lelap itu, wahai tuan penarik kereta?
29.7.11
hati, akhir-akhir ini.
ia berdenyut di luar kebiasaannya. katanya ia kewalahan menampung luberan yang seharusnya tertadah oleh kepala. ia kebingungan, tapi tidak bisa berkomentar, apalagi berkeberatan.
ia pun ikut sibuk seperti kepala : mengatur kotak-kotak beragam ukuran dengan anak-anak panah berseliweran, di mana di dalam kota-kotak tadi tersebar buah pikir ini dan itu dan pada anak-anak panah yang terselip di sela-selanya terarah asal dan tujuan. lalu lama-lama ada semacam rak buku dari besi yang ikut pindah ke dalamnya, menjejerkan buku ini di sini dan buku itu di situ. buku ini tentang ini dan buku itu tentang itu dan keduanya tidak boleh berada pada deret yang sama. dan pada akhirnya bertambah tangga-tangga penghubung hati dan kepala, juga tukang tata yang sibuk berlalu-lalang di atasnya, menjadikan keduanya ruang-ruang yang serupa (tapi tetap tak sama).
maka lupalah ia (hati) untuk merasa.
ada partikel-partikel layaknya debu di pojokan, yang sibuk memantulkan cahaya matahari, yang terabaikan. seakan kini terang dan gelap tak lagi jadi soal. belum lagi jelaga, ketakutan, keraguan dan ketidaksabaran yang tanpa sadar melingkupi ruang hati (dan mungkin juga kepala), menutupi setiap muka, tanpa peduli apakah itu dinding atau jendela atau (jangan-jangan) pintu.
maka perlahan menjadi kerdil ia (hati).
tak bisa lagi membedakan (kapan sebaiknya) berbagi dan menyimpan. tak bisa lagi membedakan mana mengeraskan kepala (sendiri) dan menghancurkan diri (orang lain). tak bisa lagi membedakan mana membesarkan hati (sendiri) dan mengecilkan hati (orang lain). membiaskan batas antara memikirkan rasa dan merasakan rasa.
hingga sampai ia pada titik : beranjak atau mati.
hati, akhir-akhir ini, adalah seperti bumi : berpusing dan berkeliling.
menjelajah semesta, pada orbit yang telah ditentukan baginya. menyusup pada pagi dan malam, menjadikan kebahagiaan juga kesedihan, seperti gelap juga terang, bermakna dalam hadirnya.
dan segala sesuatu (sesungguhnya) adalah tepat pada waktunya.
ia pun ikut sibuk seperti kepala : mengatur kotak-kotak beragam ukuran dengan anak-anak panah berseliweran, di mana di dalam kota-kotak tadi tersebar buah pikir ini dan itu dan pada anak-anak panah yang terselip di sela-selanya terarah asal dan tujuan. lalu lama-lama ada semacam rak buku dari besi yang ikut pindah ke dalamnya, menjejerkan buku ini di sini dan buku itu di situ. buku ini tentang ini dan buku itu tentang itu dan keduanya tidak boleh berada pada deret yang sama. dan pada akhirnya bertambah tangga-tangga penghubung hati dan kepala, juga tukang tata yang sibuk berlalu-lalang di atasnya, menjadikan keduanya ruang-ruang yang serupa (tapi tetap tak sama).
maka lupalah ia (hati) untuk merasa.
ada partikel-partikel layaknya debu di pojokan, yang sibuk memantulkan cahaya matahari, yang terabaikan. seakan kini terang dan gelap tak lagi jadi soal. belum lagi jelaga, ketakutan, keraguan dan ketidaksabaran yang tanpa sadar melingkupi ruang hati (dan mungkin juga kepala), menutupi setiap muka, tanpa peduli apakah itu dinding atau jendela atau (jangan-jangan) pintu.
maka perlahan menjadi kerdil ia (hati).
tak bisa lagi membedakan (kapan sebaiknya) berbagi dan menyimpan. tak bisa lagi membedakan mana mengeraskan kepala (sendiri) dan menghancurkan diri (orang lain). tak bisa lagi membedakan mana membesarkan hati (sendiri) dan mengecilkan hati (orang lain). membiaskan batas antara memikirkan rasa dan merasakan rasa.
hingga sampai ia pada titik : beranjak atau mati.
lalu pelan tapi pasti, kepala pun membebaskan beberapa biliknya. memberikannya pada kotak-kotak, juga rak-rak buku, yang tersebar dalam ketidakteraturan di dalam hati.
dengan senang hati mereka kembali. menyisakan ruang kosong dalam hati. memberikannya waktu untuk merasakan semacam kehampaan. memberikannya waktu untuk tidak terganggu apapun kecuali ia sendiri. memberikannya waktu untuk membereskan semuanya, untuk menepis segala gradasi warna kelabu, untuk membuka kembali jendela-jendelanya. dan lalu membiarkan cahaya matahari masuk, membiarkan debu-debu di pojokan menari mengantarkannya ke seluruh penjuru ruang. mengembalikan gelap dan terang pada maknanya masing-masing.
hati, akhir-akhir ini, adalah seperti bumi : berpusing dan berkeliling.
menjelajah semesta, pada orbit yang telah ditentukan baginya. menyusup pada pagi dan malam, menjadikan kebahagiaan juga kesedihan, seperti gelap juga terang, bermakna dalam hadirnya.
dan segala sesuatu (sesungguhnya) adalah tepat pada waktunya.
20.7.11
pahit.
selamat pagi wahai hati yang tergigit pahit.
kulihat kepalamu lunglai seakan kau baru lolos dari sebuah badai.
tak apa. tidakkah kamu ingat pernah kubilang, sekali waktu, bahwa pahit itu adalah manis yang masih utuh?
ia memang tidak akan memanjakan hatimu dengan gula-gula aneka warna.
ia memang hanya akan membuat mukamu kebat kebit dengan seringai asam dan tatapan memelas.
tapi tidakkah kau tak tertipu dengan rasa manis yang buatan?
tidakkah pula rasa pahit itu memberikan ruang padamu untuk menyadari (kelak) hadirnya si manis dalam hidupmu?
silakanlah dirimu dilumat sempurna oleh si pahit, wahai hati,
karena tak ada jalan lain lagi menuju bahagia sejati yang kau cari-cari itu, tanpa melewati taring-taring tajam si pahit.
percayalah, tak ada jalan untuk mengenal semua rasa yang tersebar di muka semesta ini, selain dengan membiarkan dirimu merasakannya.
[suatu dini. secangkir kopi. dan serupa kejutan kecil rasa pahit yang bersembunyi di baliknya.]
kulihat kepalamu lunglai seakan kau baru lolos dari sebuah badai.
tak apa. tidakkah kamu ingat pernah kubilang, sekali waktu, bahwa pahit itu adalah manis yang masih utuh?
ia memang tidak akan memanjakan hatimu dengan gula-gula aneka warna.
ia memang hanya akan membuat mukamu kebat kebit dengan seringai asam dan tatapan memelas.
tapi tidakkah kau tak tertipu dengan rasa manis yang buatan?
tidakkah pula rasa pahit itu memberikan ruang padamu untuk menyadari (kelak) hadirnya si manis dalam hidupmu?
silakanlah dirimu dilumat sempurna oleh si pahit, wahai hati,
karena tak ada jalan lain lagi menuju bahagia sejati yang kau cari-cari itu, tanpa melewati taring-taring tajam si pahit.
percayalah, tak ada jalan untuk mengenal semua rasa yang tersebar di muka semesta ini, selain dengan membiarkan dirimu merasakannya.
[suatu dini. secangkir kopi. dan serupa kejutan kecil rasa pahit yang bersembunyi di baliknya.]
12.7.11
kopi hitam. air mata. Cestrum nocturnum.
[kopi hitam]
Kira-kira berapa kali nama teman baik kala gelap menyapa ini harus kusebut? Karena nyata hanya pahitnya yang mampu mengkerucutkan setiap kelabu yang membayangi hati, menggelapkannya, dan sayangnya bukan meneduhkannya. Terkerucut sang kelabu, hingga ia kebyar seperti kembang api dalam labirin. Lalu luka pun sembuh. Begitu saja. Mungkin ada mantra yang bercampur bersama bulir-bulir hitam yang terjerang dengan api sedang. Mantra yang begitu saja tertiup oleh gemintang. Mantra yang mewujud dalam rasa asam yang tertinggal di dalam perut, yang mengurai setiap serpih perih yang menempel pada dinding lambung. Hingga tinggal bersisa pahit pada pangkal lidah, menahan barisan yang berderet siap dengan bidikan panah berapi. Ia membuat bukan hanya mata jadi berjaga tapi juga rasa jadi siaga.
[air mata]
Hal-hal yang paling menyakitkan, salah satunya adalah saat aku tahu betul aku ingin menangis. Ingin saja. Walau mungkin bukan butuh. Namun nyatanya tak ada air mata yang bisa keluar. Ini tentu bukan pekerjaan sang kopi hitam, karena uapnya cukup untuk membuat kaca di depan mataku berembun, dan pastinya (akan) cukup pula membuat mata di belakangnya berair. Mungkin kali ini adalah aromanya. Aroma kopi hitam tadi, yang menyelusup lewat hidung, naik ke kepala, mengerubungi pusat perintah untuk menahan turunnya air yang merupakan lepasan segala sesuatu yang busuk itu. Iya. Itu air mata. Busuk. Jangan kau debat. Busuk karena ia adalah penyaring segala belai juga tikam yang datang pada hati. Hanya yang bisa menembusnyalah yang akan menjadi bahagia sejati. Maka dari itu, tentunya adalah salah satu hal yang menyakitkan saat aku ingin menangis tapi tak ada setetespun air yang turun, pun hanya dari sebelah mata. Sakit. Adalah saat tak bisa menyaring mana belai mana tikam, karena satu dari dua, yang manapun dapat matikan sang rasa.
[Cestrum nocturnum]
Adalah sebangsa pohon bunga yang ada di dekat pagar rumah. Bersahabat dengan setelah gelap dan juga musim hujan. Harumnya merangkul udara, menenangkan dan mengusir mereka yang (sengaja) tak terundang.
Demikian, bukankah tak mengapa berjaga hingga dekat saat pagi datang? Bukankah (juga) tak mengapa menggelincir pada genangan sisa hujan?
Karena nyatanya ada keindahan yang menyaru hitam pembungkus langit, juga menyaru bening pembayang setapak berlubang.
. . .
kopi hitam. air mata. Cestrum nocturnun.
pada duabelasjuliduaribusebelas,
pada masa pahit tak lagi bisa menjadi pengurai kusut pikir dalam kepala dan nyeri pada rasa yang hampir mati.
Kira-kira berapa kali nama teman baik kala gelap menyapa ini harus kusebut? Karena nyata hanya pahitnya yang mampu mengkerucutkan setiap kelabu yang membayangi hati, menggelapkannya, dan sayangnya bukan meneduhkannya. Terkerucut sang kelabu, hingga ia kebyar seperti kembang api dalam labirin. Lalu luka pun sembuh. Begitu saja. Mungkin ada mantra yang bercampur bersama bulir-bulir hitam yang terjerang dengan api sedang. Mantra yang begitu saja tertiup oleh gemintang. Mantra yang mewujud dalam rasa asam yang tertinggal di dalam perut, yang mengurai setiap serpih perih yang menempel pada dinding lambung. Hingga tinggal bersisa pahit pada pangkal lidah, menahan barisan yang berderet siap dengan bidikan panah berapi. Ia membuat bukan hanya mata jadi berjaga tapi juga rasa jadi siaga.
[air mata]
Hal-hal yang paling menyakitkan, salah satunya adalah saat aku tahu betul aku ingin menangis. Ingin saja. Walau mungkin bukan butuh. Namun nyatanya tak ada air mata yang bisa keluar. Ini tentu bukan pekerjaan sang kopi hitam, karena uapnya cukup untuk membuat kaca di depan mataku berembun, dan pastinya (akan) cukup pula membuat mata di belakangnya berair. Mungkin kali ini adalah aromanya. Aroma kopi hitam tadi, yang menyelusup lewat hidung, naik ke kepala, mengerubungi pusat perintah untuk menahan turunnya air yang merupakan lepasan segala sesuatu yang busuk itu. Iya. Itu air mata. Busuk. Jangan kau debat. Busuk karena ia adalah penyaring segala belai juga tikam yang datang pada hati. Hanya yang bisa menembusnyalah yang akan menjadi bahagia sejati. Maka dari itu, tentunya adalah salah satu hal yang menyakitkan saat aku ingin menangis tapi tak ada setetespun air yang turun, pun hanya dari sebelah mata. Sakit. Adalah saat tak bisa menyaring mana belai mana tikam, karena satu dari dua, yang manapun dapat matikan sang rasa.
[Cestrum nocturnum]
Adalah sebangsa pohon bunga yang ada di dekat pagar rumah. Bersahabat dengan setelah gelap dan juga musim hujan. Harumnya merangkul udara, menenangkan dan mengusir mereka yang (sengaja) tak terundang.
Demikian, bukankah tak mengapa berjaga hingga dekat saat pagi datang? Bukankah (juga) tak mengapa menggelincir pada genangan sisa hujan?
Karena nyatanya ada keindahan yang menyaru hitam pembungkus langit, juga menyaru bening pembayang setapak berlubang.
. . .
kopi hitam. air mata. Cestrum nocturnun.
pada duabelasjuliduaribusebelas,
pada masa pahit tak lagi bisa menjadi pengurai kusut pikir dalam kepala dan nyeri pada rasa yang hampir mati.
4.7.11
pasar malam.
adalah tempat riuh rendah rakyat berpesta. bagian lain kota kelahiran yang tak terjamah langkah dan pengetahuan. berlatar semacam hutan yang mati suri di waktu malam, mengabaikan denyut di samping-sampingnya. tak bisakah ia tetap terjaga cantiknya sekalipun matahari terlelap. dan juga bangunan-bangunan tua yang sibuk kukira-kira berapa bilangan usianya. tak apakah jika (misalkan saja) mereka tidak ada.
ada jalanan yang penuh orang-orang sibuk menawar sana sini. satu dua wanita bergunjing di depan etalase. pria-pria beradu catur. dan tak terhitung anak kecil yang berlari di antara warna-warni barang dagangan.
harum bercampur. antara sisa mandi sore, buah-buahan segar, aneka santapan yang bahkan beberapa tak kutahu namanya. juga sesekali tumpukan buku bergaris dengan aroma karbon di kanan kirinya.
perbincangan dan awar menawar. antara dua orang yang saling kenal. atau antara dua orang yang saling asing namun pada lorong itu seakan adalah teman lama.
mungkin ada rentang pada malam di mana semua orang berpesta. merayakan waktu beristirahatnya sang matahari, merayakan waktunya untuk sedikit mengendurkan urat kepala.
tak ada yang peduli akan angin dari arah utara (dan sesekali bergantian dari selatan) yang membuat mereka terbatuk, sedikit sesak dan pelan-pelan mengendapkan uap dalam paru-paru mereka.
siapa yang peduli?
selama malam ini semua sesuai dengan rencana : matahari undur diri, lampu-lampu murahan berlomba-lomba menyala paling terang, gerobak-gerobak (dan bahkan mungkin mobil-mobil angkut) mulai dijajarkan pada tempat terpesan. dan juga orang-orang berlalu lalang seakan malam itu hanya milik mereka.
. . . . . . .
pasar malam.
serupa denyut nadi yang satu-satu : kencang. namun pura-pura sajalah tak terdengar.
serupa kunang-kunang di atas sisa-sisa alang : kuning terang. namun pura-pura sajalah tak terlihat.
serupa kehidupan yang (mungkin) begitulah pada (hampir) seluruh bagian kota namun sayang tak tergaris dalam ingatan para pemangku :
maka jadilah ia ada dan juga tiada.
ada jalanan yang penuh orang-orang sibuk menawar sana sini. satu dua wanita bergunjing di depan etalase. pria-pria beradu catur. dan tak terhitung anak kecil yang berlari di antara warna-warni barang dagangan.
harum bercampur. antara sisa mandi sore, buah-buahan segar, aneka santapan yang bahkan beberapa tak kutahu namanya. juga sesekali tumpukan buku bergaris dengan aroma karbon di kanan kirinya.
perbincangan dan awar menawar. antara dua orang yang saling kenal. atau antara dua orang yang saling asing namun pada lorong itu seakan adalah teman lama.
mungkin ada rentang pada malam di mana semua orang berpesta. merayakan waktu beristirahatnya sang matahari, merayakan waktunya untuk sedikit mengendurkan urat kepala.
tak ada yang peduli akan angin dari arah utara (dan sesekali bergantian dari selatan) yang membuat mereka terbatuk, sedikit sesak dan pelan-pelan mengendapkan uap dalam paru-paru mereka.
siapa yang peduli?
selama malam ini semua sesuai dengan rencana : matahari undur diri, lampu-lampu murahan berlomba-lomba menyala paling terang, gerobak-gerobak (dan bahkan mungkin mobil-mobil angkut) mulai dijajarkan pada tempat terpesan. dan juga orang-orang berlalu lalang seakan malam itu hanya milik mereka.
. . . . . . .
pasar malam.
serupa denyut nadi yang satu-satu : kencang. namun pura-pura sajalah tak terdengar.
serupa kunang-kunang di atas sisa-sisa alang : kuning terang. namun pura-pura sajalah tak terlihat.
serupa kehidupan yang (mungkin) begitulah pada (hampir) seluruh bagian kota namun sayang tak tergaris dalam ingatan para pemangku :
maka jadilah ia ada dan juga tiada.
24.6.11
tidakkah ada bosan membuntutimu seperti hantu?
jika kutahu di mana kamu saat ini, ingin rasanya aku terbang menujumu, dan memancangkan papan "milikku, jangan diganggu" di dekatmu.
tapi kamu tahu, jika betul saat ini aku tahu di mana kamu, tidakkah masa yang di depan itu akan menjadi sesuatu yang ganjil bagi kita berdua nanti? tidakkah penuh janjinya mempertemukan kita hanya pada saat di mana kita sama-sama mengetahui "sekarang"-lah saat itu? tidakkah dengan demikian berakhir segala yang belum bermula?
baiklah, kutiupkan berpeluk-peluk sabar untukmu (juga untukku) dan rindu tanpa nama yang tak cukup tertampung di setiap denyut penghantar kehidupan. lewat semesta, yang (bertutur ia) pada masanya akan membawa kita ke satu tempat yang sama.
ada harap cemas tempat itu adalah di antara mars juga jupiter. karena ingatanku bilang, dulu, sebelum masa (lagi-lagi) membawa kita ke satu tempat di antara mars dan venus, di sanalah kita untuk (benar-benar) pertama kalinya bertemu. tidakkah begitu?
baiklah, bersama titipan ini, kuselipkan pesan singkat untukmu :
"mari, sayang, kita berandai-andai tidak ada masa, fana maupun baka. sudahkah? lalu dengarlah, tidakkah ada lagi ia yang bertanya-tanya : kapan Tuhan, kapankah akan kami bertemu?"
. . .
sebuah catatan yang berputar di kepala segera setelah sepuluh bab pertama "Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai" karya Goenawan Mohamad.
9.6.11
hujan.
tahun lalu aku melihatnya turun dari langit yang masih biru,
bertemankan matahari yang tak malu menentangnya,
hingga ia jatuh ke tanah dan berbau kerinduan akan kemarau.
aku lalu melihatnya bertumbuh, datang dan pergi
hingga hari ini, dari langit yang sesekali tidak berwarna,
dan matahari yang mulai bosan berbasah.
telah jadi penanda hari kini kau, hujan. bukan lagi musim,
apalagi cerita tentang dua payung yang berdansa sambil bergunjing,
tentang bagaimana mereka merindukanmu.
bertemankan matahari yang tak malu menentangnya,
hingga ia jatuh ke tanah dan berbau kerinduan akan kemarau.
aku lalu melihatnya bertumbuh, datang dan pergi
hingga hari ini, dari langit yang sesekali tidak berwarna,
dan matahari yang mulai bosan berbasah.
telah jadi penanda hari kini kau, hujan. bukan lagi musim,
apalagi cerita tentang dua payung yang berdansa sambil bergunjing,
tentang bagaimana mereka merindukanmu.
botol.
kaca
berperahu
berawal di hulu
hingga ke akhir bumi
plastik
gaduh
terluka
hanyut, sepanjang aliran utara-selatan
pesan
terselip, kerkubur
terkuak masa
terbuka, lalu berlagu cinta
dengan bahasa yang belum mengenal kata lampau
.
botol
rahasia
dan atlantik
.
kelak
8.6.11
bunga tidur.
Ialah anak semata wayang yang lahir melalui lelapnya jiwa. Mata bersinar, bibir tersenyum, hidung mengembang, dagu terangkat, dahi berkerut, tangan terkepal, kaki siap berlari dan hati yang bimbang. Ia bermuka jamak. Tak kenal siapa yang melahirkannya.
Ialah setapak di mana jawab untuk setiap tanya berlalu lalang. Menjadi semata pertanda, atau niscaya yang tertunda. Tak berpalang dan tak berpenjaga. Juga tanpa pengingat akan jurang di ujung perjalanan.
Ialah pencuri nafas kala raga tak sepenuhnya berkesadaran. Satu detik, dan ialah pencuri sebuah kehidupan.
.
Ialah anak semata wayang yang tidak punya ingatan. Ialah penyaru raga yang menyusup ke dalam bilik memori, menebas setiap lembar catatan yang tersimpan padanya.
Ialah semata wayang ingatan yang tertinggal. Lalu menyaru ia lewat jiwa yang (masihlah) lelap. Keluar pada malam. Menunggu pagi, air dan matahari untuk mekar, serupa kembang, seiring jiwa yang terjaga.
.
Ialah bunga tidur. Penanda bilik memori yang berjamur.
Ialah setapak di mana jawab untuk setiap tanya berlalu lalang. Menjadi semata pertanda, atau niscaya yang tertunda. Tak berpalang dan tak berpenjaga. Juga tanpa pengingat akan jurang di ujung perjalanan.
Ialah pencuri nafas kala raga tak sepenuhnya berkesadaran. Satu detik, dan ialah pencuri sebuah kehidupan.
.
Ialah anak semata wayang yang tidak punya ingatan. Ialah penyaru raga yang menyusup ke dalam bilik memori, menebas setiap lembar catatan yang tersimpan padanya.
Ialah semata wayang ingatan yang tertinggal. Lalu menyaru ia lewat jiwa yang (masihlah) lelap. Keluar pada malam. Menunggu pagi, air dan matahari untuk mekar, serupa kembang, seiring jiwa yang terjaga.
.
Ialah bunga tidur. Penanda bilik memori yang berjamur.
20.4.11
sepenggal masa depan [1]
jam duabelas malam datang terlalu cepat.
dengan hidung yang memerah,
pening yang tak mau hilang,
juga suhu badan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya.
dan tentu saja udara malam yang dingin tidak seperti kemarin,
serta batas dimensi nyata dan maya yang menjadi setipis helai rambut.
kesepian itu, bukan ditinggal sendiri di dalam satu ruang kosong.
kesepian itu, adalah saat badan berteriak sakit dan satu-satunya penopang kepala hanyalah kedua tangan milik sendiri.
kamu lihat?
kita berdua sama-sama manusia kesepian, yang sama-sama punya dunia sendiri untuk dihidupkan ceritanya.
tidak bisa kita mencinta dengan sempurna.
. . . . . . .
sepotong cerita dari penggalan masa depan,
tentang aku, dan tentang dia.
dengan hidung yang memerah,
pening yang tak mau hilang,
juga suhu badan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya.
dan tentu saja udara malam yang dingin tidak seperti kemarin,
serta batas dimensi nyata dan maya yang menjadi setipis helai rambut.
kesepian itu, bukan ditinggal sendiri di dalam satu ruang kosong.
kesepian itu, adalah saat badan berteriak sakit dan satu-satunya penopang kepala hanyalah kedua tangan milik sendiri.
kamu lihat?
kita berdua sama-sama manusia kesepian, yang sama-sama punya dunia sendiri untuk dihidupkan ceritanya.
tidak bisa kita mencinta dengan sempurna.
. . . . . . .
sepotong cerita dari penggalan masa depan,
tentang aku, dan tentang dia.
19.4.11
diriku dirimu.
sekali waktu ingin kupukul jatuh perbedaan yang mendorong aku ke kiri dan engkau ke kanan,
menendangnya hingga melewati batas kaki langit,
lalu membuat dunia, hanya berisi aku dan kau, dan perbedaan-perbedaan di antara kita menjadi sekedar mimpi tengah malam.
tapi perbedaan ini (terlalu) nyata adanya,
membuat aku dan kau, masing-masing kita bercerita dengan bahasa yang saling asing.
kutunggu lambaian sampai jumpa darimu,
karena ada cerita yang tidak bisa kita miliki bersama-sama.
. . . . . . .
*kenapa jadi galau begini ?
menendangnya hingga melewati batas kaki langit,
lalu membuat dunia, hanya berisi aku dan kau, dan perbedaan-perbedaan di antara kita menjadi sekedar mimpi tengah malam.
tapi perbedaan ini (terlalu) nyata adanya,
membuat aku dan kau, masing-masing kita bercerita dengan bahasa yang saling asing.
kutunggu lambaian sampai jumpa darimu,
karena ada cerita yang tidak bisa kita miliki bersama-sama.
. . . . . . .
*kenapa jadi galau begini ?
18.3.11
28 #10
The very best thing about watching movies and reading books is that in every end you'll know that another world besides yours truly exists.
And it's not a mere imagination.
And, thus, you are never really alone.
And it's not a mere imagination.
And, thus, you are never really alone.
16.3.11
28 #9
Kadang saya lupa, bahwa sebuah kota adalah bentuk peradaban manusia, yang suatu hari, jika sudah pada waktunya, akan punah. Lalu ia akan menjadi bagian dari sejarah, bersama era-era lalu yang melambangkan penciptaan semesta ini beserta segala isinya.
Kadang saya lupa, bahwa apa adanya segala sesuatu adalah karena adanya kita, manusia.
.
Di antara tujuh miliar ciptaanNya yang bernama manusia, kira-kira saya ada di bagian mana dari skenario besar yang Tuhan buat? Apakah saya sudah menjalankan peran bagian saya dengan sebaik-baiknya?
Kadang saya lupa, bahwa apa adanya segala sesuatu adalah karena adanya kita, manusia.
.
Di antara tujuh miliar ciptaanNya yang bernama manusia, kira-kira saya ada di bagian mana dari skenario besar yang Tuhan buat? Apakah saya sudah menjalankan peran bagian saya dengan sebaik-baiknya?
15.3.11
28 #8
Memiliki perasaan jenaka itu tidak berarti lalu membawa semua hal dengan bercanda. Apalagi kalau hal tersebut memang tidak lucu.
Saya sering sekali mendapat peringatan dari teman-teman saya, "jangan terlalu serius lah, hidup juga nggak menganggap kamu dengan serius kok", yang pada akhirnya membuat saya berpikir bahwa bersikap selalu serius itu salah. Tapi, justru membuat saya semakin penasaran untuk bersikap semakin serius. Yah. Seperti anak nakal yang biasa saja. Semakin dilarang, semakin ingin melakukan.
Kata-kata yang (mungkin saja) niatnya hanya untuk menakut-nakuti saya, seperti "kalau terlalu serius nanti kamu menyesal loh", juga tidak pernah berhasil menggoda saya untuk tidak serius. Lalu apakah saya menyesal?
Sampai saat ini. Tidak :)
*oh baiklah, sesekali memang perasaan itu datang mengusik, tapi tidak pernah berdiam dalam waktu lama*
Memandang kehidupan yang penuh liku dan canda dengan serius seperti ini, justru adalah cara saya saling melempar humor dengan kehidupan itu sendiri. Keseriusan saya, adalah buah dari rasa jenaka yang meletup dalam tawa tertahan.
Jadi, kalau tiba-tiba dalam mimpi saya nanti malam ada Joker menghampiri dan bertanya, "mengapa terlalu serius?" Saya akan dengan pasti menjawab, "karena ia melengkapi canda".
.
Hidup itu indah dan singkat. Kenapa harus dihabiskan dengan meributkan apakah harus menjalaninya dengan serius atau penuh canda?
Saya sering sekali mendapat peringatan dari teman-teman saya, "jangan terlalu serius lah, hidup juga nggak menganggap kamu dengan serius kok", yang pada akhirnya membuat saya berpikir bahwa bersikap selalu serius itu salah. Tapi, justru membuat saya semakin penasaran untuk bersikap semakin serius. Yah. Seperti anak nakal yang biasa saja. Semakin dilarang, semakin ingin melakukan.
Kata-kata yang (mungkin saja) niatnya hanya untuk menakut-nakuti saya, seperti "kalau terlalu serius nanti kamu menyesal loh", juga tidak pernah berhasil menggoda saya untuk tidak serius. Lalu apakah saya menyesal?
Sampai saat ini. Tidak :)
*oh baiklah, sesekali memang perasaan itu datang mengusik, tapi tidak pernah berdiam dalam waktu lama*
Memandang kehidupan yang penuh liku dan canda dengan serius seperti ini, justru adalah cara saya saling melempar humor dengan kehidupan itu sendiri. Keseriusan saya, adalah buah dari rasa jenaka yang meletup dalam tawa tertahan.
Jadi, kalau tiba-tiba dalam mimpi saya nanti malam ada Joker menghampiri dan bertanya, "mengapa terlalu serius?" Saya akan dengan pasti menjawab, "karena ia melengkapi canda".
.
Hidup itu indah dan singkat. Kenapa harus dihabiskan dengan meributkan apakah harus menjalaninya dengan serius atau penuh canda?
14.3.11
28 #7
Mimpi adalah seperti mimpi. Saat mata terpejam, ia berlari-lari di sela-sela labirin kepala. Dengan jejak yang seakan-akan akan teringat selama-lamanya.
Mimpi adalah seperti mimpi. Sesaat mata terbuka, kembali pada dunia, bahkan ia tidak meninggalkan bayang-bayang. Jejak lenyap tak bersisa.
Mimpi adalah seperti mimpi. Ia membuat pikiran bekerja, di dalam maupun di luar kendali alam bawah sadar. Ia membuat hati siaga. Dan ia membuat mata terjaga, pada waktunya.
Mimpi adalah seperti mimpi. Sekali waktu ia menghangatkan dengan tebaran asa. Sekali waktu ia mendekap lembut dengan kebekuan yang belum cair. Sekali waktu ia hanya menggenggam erat tangan kanan.
Mimpi adalah seperti mimpi.
.
Yang pada hitungan ketujuh, pintu gerbangnya membuka lebar, dengan setapak pelangi tujuh warna.
Mimpi adalah seperti mimpi. Sesaat mata terbuka, kembali pada dunia, bahkan ia tidak meninggalkan bayang-bayang. Jejak lenyap tak bersisa.
Mimpi adalah seperti mimpi. Ia membuat pikiran bekerja, di dalam maupun di luar kendali alam bawah sadar. Ia membuat hati siaga. Dan ia membuat mata terjaga, pada waktunya.
Mimpi adalah seperti mimpi. Sekali waktu ia menghangatkan dengan tebaran asa. Sekali waktu ia mendekap lembut dengan kebekuan yang belum cair. Sekali waktu ia hanya menggenggam erat tangan kanan.
Mimpi adalah seperti mimpi.
.
Yang pada hitungan ketujuh, pintu gerbangnya membuka lebar, dengan setapak pelangi tujuh warna.
Subscribe to:
Posts (Atom)