15.6.11

[catatan tidak berjudul]

punya mimpi yang muncul mendadak, absurd dan nampaknya tanpa perhitungan sama sekali itu kadang memang bikin hati jadi kebat-kebit sendiri. tapi sejak kapan mimpi keluar berdasarkan hasil perhitungan? bukankah justru perhitungan itu adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mewujudkan mimpi tersebut?

punya cita-cita dadakan begini (karena sebelumnya saya tidak pernah bercita-cita demikian), walaupun memang saya akui aneh, tapi kalau bisa membuat saya mantap menyelesaikan yang harus diselesaikan, juga selama itu baik, kenapa tidak?

hanya saja, sedikit catatan untuk si otak kiri : mulai sekarang kerjamu akan luar biasa berat, sayang. kamu berurusan dengan cita-cita yang agak tidak masuk akal :)

14.6.11

"memanggul darma sepanjang titian | lintasi kali masa hingga berbayar di ujung mimpi .


memungut remah-remah kala | ia yang terjerat jejaring pikir, dan lalu ikut jadi terpanggul .


hingga akhirnya tumpah sekeranjang pada muara ."
"memori-memori itu berlapis, membentuk selaput dan membalut sudut-sudut tajam di mana rasa bertempat. menjadi benteng bagi tangan-tangan yang sepenuh diri ingin memeluknya, semata berbekal rasa percaya dan berserah, juga niat tanpa prasangka."

tumbuh seperti tanaman.

Ini adalah catatan tertinggal sepulang dari acara pernikahan teman saya.

. . . . . . .

Catatan 1 :
Tetap dalam nuansa warna ungu, ucapan terimakasih yang dibagikan adalah ... bibit tanaman! Centrosema (tanaman penutup tanah berbunga keunguan), Kangkung grand dan sengon laut (pohon yang bisa tumbuh mencapai ketinggian 40m dan diameter 100cm). Untuk dua tanaman pertama, sepertinya bisa saya coba tanam dalam waktu-waktu dekat. Tapi untuk sengon laut nampaknya saya harus menunggu punya rumah sendiri...

Catatan 2 :
Ini memberikan saya ide, saat saya menikah nanti, saya ingin membagikan ucapan terimakasih berupa bibit tanaman juga. Satu jenis tanaman bunga, satu jenis tanaman obat (ada nggak ya tanaman obat yang bisa ditanaman dari bibit?) dan satu jenis pohon besar (jenis pohonnya sudah terpikir, tapi masih perlu dipertimbangkan kembali :p).

Catatan 3 :
Jika waktunya nanti tiba untuk saya berumah tangga, saya ingin punya rumah dengan halaman yang luasnya cukup untuk ditanami dua pohon mahoni (pokoknya nanti suami saya harus mau halaman rumah kami ber-mahoni *super maksa*). Oh ya, dan saya ingin menanamnya secara generatif, bukan vegetatif. Saya ingin tahu, bagaimana pohon kesukaan saya itu tumbuh dan menjadi besar :)

. . . . . . .

Bukankah menyaksikan bagaimana sesuatu tumbuh seperti tanaman itu sesuatu yang memberikan perasaan hangat ke dalam hati? 

Lalu, katakanlah ada satu lapangan berumput yang luas [bernama hati] di mana kita bisa menanam apa saja di sana. Lalu, diberikan pada kita bibit  yang kita tidak tahu akan menjadi tanaman apakah itu [bisa jadi adalah asal mula suatu rasa]. Lalu, dengan sedikit memejamkan mata, menarik nafas dan tersenyum, ditanamlah bibit tadi [katakanlah ini ibarat memutuskan untuk menjadi berani mengambil resiko, untuk memenuhi rasa ingin tahu "apakah sebenarnya perasaan ini?" atau sekedar menjawab kata hati]. 

Bukahkah dibutuhkan waktu, sedikit atau banyak, untuk memastikan tanaman apa yang akan tumbuh, apakah dia sesuai dengan apa yang kita bayangkan dan kita inginkan [apakah perasaan ini sesuai dengan ketetapannya?]. Lalu bagaimana jika ternyata tanaman itu tidak sesuai dengan yang kita bayangkan dan kita inginkan tadi [dan ternyata perasaan itu bukan apa yang telah digariskannya]? Bagaimana jika binar-binar harap yang mengawali hari-hari pertama dia bertumbuh berakhir dengan hela nafas kecewa?

Tetapi, rasa, seperti tanaman, bukankah dia juga membutuhkan ruang juga waktu untuk lahir dan bertumbuh? Bisa saja dia menjadi benar seperti yang apa yang dibayangkan, bisa juga dia menjadi salah. Namun membiarkannya tumbuh dan menjadi apa yang telah ditentukan baginya, bukankah merupakan satu perhentian dalam perjalanan mendewasakan hati?

. . . . . . .

Dan untuk menjadi berani bertanya akan ketetapannya yang sejati, saya (mungkin) hanya perlu sedikit memberikan rasa percaya. Pada diri saya sendiri. Juga padanya.
tears are inevitable, both in sadness and, foremost, once, happiness.

Adalah status yang saya ketik di jejering sosial burung biru hari minggu kemarin.

Memang kebahagiaan apa yang bisa mengundang air mata? Kali ini tentu saja pernikahan. Pernikahan seorang teman. Menyaksikan pernikahan teman-teman baik saya, khususnya pada saat akad, entah kenapa membuat perasaan saya jadi ikut berdebar-debar (padahal yang nikah bukan saya :p) dan bercampur aduk. Melihat bagaimana mereka melalui momen ijab kabul sebagai pintu gerbang untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya selalu berhasil membuat saya terharu, dan tiba-tiba saja saya sudah sibuk mencari tissue.


Too much to feel. Too much that can't be said.


Ghe! Wish you both a long lasting happiness and a marriage life full of blessings :)

13.6.11

maafkan saya.

mungkin, maaf saja tidak cukup.
mungkin, ini adalah kenapa tuhan membiarkan segala rasa untuknya kini mengkristal
semata, tanpa sisa.


maafkan saya.

11.6.11

tarik nafas. tahan. buang.

sekali-sekali sesuatu itu memang harus ditahan saja, disimpan rapat-rapat,
hingga pelan-pelan membusuk.

demikian.

[catatan tidak berjudul]

Berkejap malam lalui sela-sela lorong hati yang meluruh,
ia seumpama angin yang tak suka tertitah.
Kacaukan irama sejak lahirku dalam detak,
dengan sabda rasa yang ia perdengarkan dalam hilangnya satu ketuk.

Karena pada malam tersimpan semua titipan rasa,
yang tak terhitung, yang tak berujung, yang menunggu waktunya bersuara.

Yang menunggu berani untuk datang, diam, mendengar.

. . .
Catatan : 
Tulisan ini adalah interpretasi bebas dari dialog dalam serial "How I Met Your Mother", Season 6 Episode 18 - Change of Heart -- Lily Aldrin : Your heart's talking to you, Barney. Do you have the guts to listen to it?

10.6.11

diam.

Ada sementara gelisah yang tak terkatakan, apalagi tertuliskan.
Aksara itu kadang terasa berbatas, pun kata-kata yang pernah tercatat dalam pengertian banyak orang.
Sementara, ada kalanya ada gelisah yang bahkan rasa pun masih meraba-rabanya.

Ada sementara gelisah yang tak tertahankan, apalagi tergambarkan.
Ilusatrasi sejuta warna itu bicara banyak hal, kecuali satu, ia itu justru akar gelisah yang bercabang.
Sementara, ada kalanya ada gelisah yang bahkan tak berbayang oleh cahaya.

Sementara gelisah itu,
manakala kelam dan senyap adalah suatu gaduh dengan ketiadaan cahaya juga suara.

Maka hingga ke ujung hati yang mana, rasa mesti meraba-raba dalam gelap,
meraih sang gelisah, mendekapnya dan mengganti kegaduhan yang menyaputnya ...
dengan satu ciuman selamat malam.

Hingga ia menjadi teraku, lalu hilang bersama terbitnya semburat pada pagi.
Dan jiwa yang tertinggal tak perlu lagi belakangi matahari.

quiet (john mayer)

midnight
lock all the doors
and turn out the lights
feels like the end of the world
this Sunday night

there's not a sound
outside the snow's coming down
and somehow I can't seem to find
the quiet inside my mind

3:02
the space in this room
has turned on me
and all my fears have cornered me here
me and my TV screen

the volume's down
blue lights are dancing around
and still, I can't seem to find
the quiet inside my mind

daylight is climbing the walls
cars start and feet walk the halls
the world awakes and now I am safe
at least by the light of day


. . . . . . .

It's not an insomnia I've had. Or so I thought.
It somehow feels exactly like what's written in this song : it's a perfectly blended form of fear and secure altogether towards the world. Strange it is. How two exact different feelings could mixture so well.

Nights, however, held a responsibility of taking such peace and quiet out from my mind on times I mostly needed them. Therefore don't blame me for avoiding daylight.