Bermula pada satu masa, di mana arah masih menjadi sesuatu yang terhitung. Seribu langkah ke kanan. Seribu langkah ke kiri. Seribu langah ke belakang. Dan seribu langkah ke depan. Pada satu titik, semua menjadi bulat.
Bulat. Bukan genap. Karena pada titik tadi, genap hanyalah ilusi. Ia bernaung pada pertautan hitam dan putih. Pada titik tadi, rasa telah mati, sekalipun semata suri. Dan genap, sebagai penanda keutuhan, menjadi sesuatu yang ganjil. Sebagaimana ilusi, ia antara ada dan tiada.
Bermula pada satu masa tentang bagaimana sebuah hitungan berawal.
.
Nol.
. . . . . . .
Catatan :
Tulisan berlabel [1983] terinspirasi dari sebuah komik Jepang (manga) karya Fuyumi Souryo yang berjudul MARS. Komik ini pernah diangkat ke dalam bentuk seri drama di Taiwan dengan judul yang sama. Tokoh utama laki-laki pada cerita ini bernama Rei yang berarti "nol".
Membaca cerita ini, saya menyadari kembali ada banyak sekali cara untuk mengerti karakter seorang manusia. Juga bahwa tidak pernah ada generalisasi yang tidak tergoyahkan. Di satu sisi, hitam dan putih mungkin memang masih menjadi perspektif yang paling mudah dalam membantu memahami sebuah karakter (karena tentu saja akan ada begitu banyak kemungkinan yang bisa diasumsikan saat menggunakan perspektif abu-abu).
Ada banyak alasan mengapa saya menyukai cerita ini. Salah satunya adalah karena penggambaran karakter-karakternya yang sangat kuat (walaupun hampir seluruhnya bernuansa depresif), disertai dengan ilustrasi yang sangat pas. Membaca karakter-karakter dalam cerita ini membuat saya merasakan kembali betapa menyenangkannya membangun karakter-karakter fiktif di dalam kepala untuk hidup dan menjalani satu rangkaian cerita yang bukan kehidupan kita sendiri.
10.6.11
9.6.11
hujan.
tahun lalu aku melihatnya turun dari langit yang masih biru,
bertemankan matahari yang tak malu menentangnya,
hingga ia jatuh ke tanah dan berbau kerinduan akan kemarau.
aku lalu melihatnya bertumbuh, datang dan pergi
hingga hari ini, dari langit yang sesekali tidak berwarna,
dan matahari yang mulai bosan berbasah.
telah jadi penanda hari kini kau, hujan. bukan lagi musim,
apalagi cerita tentang dua payung yang berdansa sambil bergunjing,
tentang bagaimana mereka merindukanmu.
bertemankan matahari yang tak malu menentangnya,
hingga ia jatuh ke tanah dan berbau kerinduan akan kemarau.
aku lalu melihatnya bertumbuh, datang dan pergi
hingga hari ini, dari langit yang sesekali tidak berwarna,
dan matahari yang mulai bosan berbasah.
telah jadi penanda hari kini kau, hujan. bukan lagi musim,
apalagi cerita tentang dua payung yang berdansa sambil bergunjing,
tentang bagaimana mereka merindukanmu.
botol.
kaca
berperahu
berawal di hulu
hingga ke akhir bumi
plastik
gaduh
terluka
hanyut, sepanjang aliran utara-selatan
pesan
terselip, kerkubur
terkuak masa
terbuka, lalu berlagu cinta
dengan bahasa yang belum mengenal kata lampau
.
botol
rahasia
dan atlantik
.
kelak
8.6.11
bunga tidur.
Ialah anak semata wayang yang lahir melalui lelapnya jiwa. Mata bersinar, bibir tersenyum, hidung mengembang, dagu terangkat, dahi berkerut, tangan terkepal, kaki siap berlari dan hati yang bimbang. Ia bermuka jamak. Tak kenal siapa yang melahirkannya.
Ialah setapak di mana jawab untuk setiap tanya berlalu lalang. Menjadi semata pertanda, atau niscaya yang tertunda. Tak berpalang dan tak berpenjaga. Juga tanpa pengingat akan jurang di ujung perjalanan.
Ialah pencuri nafas kala raga tak sepenuhnya berkesadaran. Satu detik, dan ialah pencuri sebuah kehidupan.
.
Ialah anak semata wayang yang tidak punya ingatan. Ialah penyaru raga yang menyusup ke dalam bilik memori, menebas setiap lembar catatan yang tersimpan padanya.
Ialah semata wayang ingatan yang tertinggal. Lalu menyaru ia lewat jiwa yang (masihlah) lelap. Keluar pada malam. Menunggu pagi, air dan matahari untuk mekar, serupa kembang, seiring jiwa yang terjaga.
.
Ialah bunga tidur. Penanda bilik memori yang berjamur.
Ialah setapak di mana jawab untuk setiap tanya berlalu lalang. Menjadi semata pertanda, atau niscaya yang tertunda. Tak berpalang dan tak berpenjaga. Juga tanpa pengingat akan jurang di ujung perjalanan.
Ialah pencuri nafas kala raga tak sepenuhnya berkesadaran. Satu detik, dan ialah pencuri sebuah kehidupan.
.
Ialah anak semata wayang yang tidak punya ingatan. Ialah penyaru raga yang menyusup ke dalam bilik memori, menebas setiap lembar catatan yang tersimpan padanya.
Ialah semata wayang ingatan yang tertinggal. Lalu menyaru ia lewat jiwa yang (masihlah) lelap. Keluar pada malam. Menunggu pagi, air dan matahari untuk mekar, serupa kembang, seiring jiwa yang terjaga.
.
Ialah bunga tidur. Penanda bilik memori yang berjamur.
6.6.11
Room Blue
Menemukan ini gara-gara sepupu saya memasang tautan videonya di fesbuk.
Dan saya pun langsung jatuh cinta, seperti waktu pertama kali mendengar 'Bubbly' Colbie Caillat, 'Fly Me to the Moon' Olivia dan 'Chasing Pavement' Adele (oh, dan saya suka sekali video klipnya).
Bagaimana saya bisa mendengarkan lagu-lagu mereka bertiga untuk pertama kalinya, masing-masing punya cerita yang... sama... dan tiga-tiganya ada di bawah folder "mengejar eropa dua-tiga tahun lalu" :))
Tapi Emi Meyer ini mungkin akan masuk di bawah folder "mengejar new york entah berapa tahun lagi"
(ini ceritanya ditulis pas lagi mimpi)
.
Kembali ke "Room Blue", kamar saya memang berwarna biru. Dan sekarang saya yakin, warna biru memang bukan untuk kamar tidur. Untungnya ini adalah saat-saat di mana saya memang sedang harus begadang, mengerjakan tesis, atau ya memang sedang susah tidur saja (sering!).
Warna biru, akhir-akhir ini identik dengan kerinduan. Saya rindu menulis, bermain kata-kata dengan pikiran yang santai. Saya rindu bermain ke toko buku sekedar melihat-lihat buku terbitan terbaru. Saya rindu membaca kisah Manjali dan Cakrabirawa, saya rindu menebak-nebak akhir dari cerita, dan saya ingin segera menghabiskan Mimpi-mimpi Einstein. Saya rindu menyusuri kota-kota Semarang, Yogyakarta dan Solo, atau sekedar berjalan kaki pelan-pelan di sepanjang Jalan Dago di malam hari. Saya rindu menekan tombol shutter, saya rindu melihat sekitar melalui lubang pengintai kamera.
.
Bagaimanapun sesuatu harus diselesaikan.
(betul kan, konsentrasi sedang tidak pada tempatnya, membuat tulisan-tulisan di atas juga mungkin menjadi tidak berada pada tempatnya atau setidaknya tidak berada pada susunan yang benar)
4.6.11
i can't make you love me.
I once posted the lyric here. And I just found this video through some random walks. I love this Bonnie Raitt's version than George Michael's.
And yes, baby, I can't make you love me if you don't.
2.6.11
as fast as she can *)
*) judul episode ke-23 dari serial "How I Met Your Mother" musim ke-4
Tentang jodoh, selama ini saya selalu gelisah sendiri, bertanya-tanya, "dia ada di mana ya?" atau "kenapa dia nggak datang-datang?" atau "dia pasti akan datang nggak sih?" Yah, pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada satu orang pun yang bisa menduga apa jawabannya.
Lalu, setelah menonton episode tersebut saya tiba-tiba berpikir, bagaimana kalau semua ini dibalik? Bagaimana kalau ternyata saat ini, dia --seseorang yang seharusnya adalah jodoh saya itu -- lah yang sedang sangat gelisah, mungkin sesekali sambil mengeluarkan decakan tak sabar -- persis sama seperti yang saya lakukan -- dan bertanya-tanya, "ada di mana dia?" atau "harus saya cari kemana lagi dia?" Bagaimana kalau selama ini ternyata saya yang sangat lambat dalam berjalan menujunya? Bagaimana kalau selama ini ternyata saya belum melakukan yang terbaik untuk bisa datang ke tempatnya dengan secepat-cepatnya? Bagaimana kalau sebenarnya "tempat pertemuan" kami sudah ditetapkan dan segalanya hanya bergantung pada kecepatan masing-masingdari kami untuk mencapainya? Mungkinkah selama ini kami sama-sama kebingungan di tempat yang salah? Mungkinkah dia sudah mencapai tempat itu terlebih dulu, lalu karena tidak menemukan saya di sana dia lalu pergi lagi? Mungkinkah sekali waktu saya pernah melewati tempat tersebut tanpa mengetahui bahwa di sanalah saya akan bertemu dengannya sehingga saya berjalan agak buru-buru sambil sedikit menunduk dan hampir saja menabrak bahunya yang -- juga tanpa mengetahui bahwa itu adalah tempatnya -- berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus ke depan?
Sekali lagi, seperti yang John Mayer lagukan pada "Love Song for Noone" : "I could have met you in a sandbox. I could have passed you on the sidewalk. Could I have missed my chance and watched you walk away?"
Tentang jodoh ini, yang ada bukan "saya belum menemukannya" atau "dia belum menemukan saya", tapi "kami belum bertemu, pada tempat dan waktu yang benar". Sesederhana itu. Kelihatannya.
. . .
Jadi, ayo selesaikan tesis ini! Dan segera pula mainkan dengan betul Sonata No.16 dari Schubert. *loh*
Tinggal dua bulan saja waktu yang tersisa. Kali ini biarkan Tuhan yang menenangkan sepasang hati yang gelisah : "Dia sedang menujumu, kali ini dengan berlari, secepat yang dia bisa. Ayo, kamu juga harus berlari secepat yang kamu bisa, menujunya. Di mana tempat pertemuan kalian? Semua sudah tercatat. Hati kalian tahu. Dan pada waktunya, kalian akan sama-sama menyadarinya."
Tentang jodoh, selama ini saya selalu gelisah sendiri, bertanya-tanya, "dia ada di mana ya?" atau "kenapa dia nggak datang-datang?" atau "dia pasti akan datang nggak sih?" Yah, pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada satu orang pun yang bisa menduga apa jawabannya.
Lalu, setelah menonton episode tersebut saya tiba-tiba berpikir, bagaimana kalau semua ini dibalik? Bagaimana kalau ternyata saat ini, dia --seseorang yang seharusnya adalah jodoh saya itu -- lah yang sedang sangat gelisah, mungkin sesekali sambil mengeluarkan decakan tak sabar -- persis sama seperti yang saya lakukan -- dan bertanya-tanya, "ada di mana dia?" atau "harus saya cari kemana lagi dia?" Bagaimana kalau selama ini ternyata saya yang sangat lambat dalam berjalan menujunya? Bagaimana kalau selama ini ternyata saya belum melakukan yang terbaik untuk bisa datang ke tempatnya dengan secepat-cepatnya? Bagaimana kalau sebenarnya "tempat pertemuan" kami sudah ditetapkan dan segalanya hanya bergantung pada kecepatan masing-masingdari kami untuk mencapainya? Mungkinkah selama ini kami sama-sama kebingungan di tempat yang salah? Mungkinkah dia sudah mencapai tempat itu terlebih dulu, lalu karena tidak menemukan saya di sana dia lalu pergi lagi? Mungkinkah sekali waktu saya pernah melewati tempat tersebut tanpa mengetahui bahwa di sanalah saya akan bertemu dengannya sehingga saya berjalan agak buru-buru sambil sedikit menunduk dan hampir saja menabrak bahunya yang -- juga tanpa mengetahui bahwa itu adalah tempatnya -- berjalan terburu-buru dengan pandangan lurus ke depan?
Sekali lagi, seperti yang John Mayer lagukan pada "Love Song for Noone" : "I could have met you in a sandbox. I could have passed you on the sidewalk. Could I have missed my chance and watched you walk away?"
Tentang jodoh ini, yang ada bukan "saya belum menemukannya" atau "dia belum menemukan saya", tapi "kami belum bertemu, pada tempat dan waktu yang benar". Sesederhana itu. Kelihatannya.
. . .
Jadi, ayo selesaikan tesis ini! Dan segera pula mainkan dengan betul Sonata No.16 dari Schubert. *loh*
Tinggal dua bulan saja waktu yang tersisa. Kali ini biarkan Tuhan yang menenangkan sepasang hati yang gelisah : "Dia sedang menujumu, kali ini dengan berlari, secepat yang dia bisa. Ayo, kamu juga harus berlari secepat yang kamu bisa, menujunya. Di mana tempat pertemuan kalian? Semua sudah tercatat. Hati kalian tahu. Dan pada waktunya, kalian akan sama-sama menyadarinya."
1.6.11
pada senja.
senja bercerita tentang matahari dan hujan.
matahari, dengan semburat yang terburu-buru meninggalkan langit.
hujan, dengan rintik malu-malu perlahan menyapa tanah yang hangat.
senja bercerita tentang matahari dan hujan.
tentang perjalanan yang tidak pernah terduga,
juga kawan bagi jiwa yang datang dan pergi tiba-tiba.
.
senja bercerita tentang matahari dan hujan,
dan sesekali ia selipkan tentang bianglala :
sang cinta yang berkelebat, meninggalkan jejak tujuh rasa,
lalu mati : matahari membakarnya. hujan melarutkannya.
. . . . . . .
pada suatu senja,
pada suatu dasar angkasa,
bianglala menuliskan ceritanya.
matahari, dengan semburat yang terburu-buru meninggalkan langit.
hujan, dengan rintik malu-malu perlahan menyapa tanah yang hangat.
senja bercerita tentang matahari dan hujan.
tentang perjalanan yang tidak pernah terduga,
juga kawan bagi jiwa yang datang dan pergi tiba-tiba.
.
senja bercerita tentang matahari dan hujan,
dan sesekali ia selipkan tentang bianglala :
sang cinta yang berkelebat, meninggalkan jejak tujuh rasa,
lalu mati : matahari membakarnya. hujan melarutkannya.
. . . . . . .
pada suatu senja,
pada suatu dasar angkasa,
bianglala menuliskan ceritanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)