2.1.16

nanti.

sampailah di penghujung. kotak-kotak tersusun rapi.
remah-remah cerita tersapu bersih. air mata mengering.
kecuali yang mengalir di pipimu.

berpisahlah pandang-pandangan kita.
kini ada rindu yang takkan pernah matang bergelayut di tepian
selamanya.

senyum bukan lagi milikku untuk kuberikan
jadi tanda terakhir untuk perjalanan maha panjang.

sampai di sini.

karena nanti sudah terlepas dari hati-hati kita.

29.12.15

diri.

kepingan resah berhenti pada pagar.
lalu setelah halaman, ada rumah yang tak kenal kata pulang.

ada tangan-tangan maya yang mereka-reka akhir cerita.
tanpa kertas dan pena.
tanpa "aku" dan "kamu".

dengan jiwa pengembara dan kepala laksana samudera,
dan hati yang belum duduk sempurna,
cukuplah sebuah jalan memutar menggenapkan sebilangan.

diri.

28.12.15

.15

sekian tentang rasa,
tirai pun turun.

tak ada lagi tangan-tangan yang sibuk menyibak,
karena mereka sudah mengantongi surat jalan.

berikutnya adalah tentang asa.
tirai pun usang, dan panggung berlubang.

yang ada tinggal kaki-kaki kecil pembuat jejak,
pada belantara tanpa bekal naskah.

hujan di akhir.

panas.
air-air bertahan di udara,
sementara waktu tidak juga tepat.

hingga akhirnya deras,
dan tak mampu menahan kaki-kaki yang ingin pergi.

20.12.15

[short chapter] a lost thank you note.

i hate to admit one thing : that sure enough, that time, i fell in love with you. a familiar stranger. a good friend. a rainbow-styled grayscale. an ANYTHING in BETWEEN.

i fell in love with how you oppose almost all of my thoughts. i fell in love with how you see possibilities in any negative talks. i fell in love with how you picture things in perspective. i fell in love with how you dealt with pessimism and frustration by a single smile. i fell in love with the way you didn't love me back.

and i still love the way you often came as a clear mirror to me. for any bitter facts you put into my midnight coffee, i owe you that indefinite future ahead. for nothing sweet you've presented to me, i genuinely thank you.


ps : i'm so sorry the thank you note got lost within my pride.

13.12.15

[short chapter] 11.00 pm.

you don't really give a damn about your own plan, do you?
all you think is how to get others' things done, perfectly, effectively.

but i don't care. i don't care of how good you did.

i only care whether you think enough of yourself, 
and give a proper space for your soul.

please, don't think so bad about me.

===========

A midnight conversation. Not the usual one. But, still, quite expected coming from him. I had no idea how to answer that, though.

What's currently on my mind, right here, right now - yes, you're right, in the middle of a serious talk with him - is how can I squeeze three meetings in a day, tomorrow. How should I arrange my route effectively. Where should I get breakfast, grab a quick cup of black coffee. How long should I prepare the presentation files, should thirty-slides okay.

A quick blinks on the clock on his dashboard : 10.00 pm. No can't do. Let's assume I got home at the latest at 11,00 pm, getting refreshed and so on, open my notebook at 00.00 am. Still need at least three hours of sleep, so I would only have one hour sharp. Eighteen slides it is.

That is a 11.00 pm at home scenario.

============

i know it. why don't you get back to your good old habit of making new year's resolution. and tell me again, why was it you stop making one? was it because none of them you could accomplish?

you're so simple-minded.

don't you think you just have to give yourself a more decent time to make it happen? you know. you're not that clever as anybody else think you are. you can't really do a strategic thinking yourself, or can you?

please, for once in a while, listen to me.

===========

That won't do. A presentation with no slides should be accepted.

27.11.15

jatuh rindu.

mungkin perempuan dalam kepalaku sedang jatuh rindu.
pada kelebat jejak langkah laki-laki,
yang mulai beranjak dari sudutnya.

laki-laki yang menari bersama debu :
pencinta sejati hari ini.

mungkin perempuan dalam hatiku pun ikut berdebar,
dan tangan-tangan penuh ragu,
tanpa kuasa menahan kaki-kaki yang pasti menurut pada angin.

kaki-kaki yang dulu terjulur di samping,
sambil bersama menyimak sepi.

tidakkah cerita yang bertukar lewat jalinan hening
adalah rumah bagi pejalan seperti aku dan dia?

biarlah perempun dan laki-laki dalam kami
yang mengeja akhir cerita nanti.

22.11.15

di balik kelambu.

ia pulang,
bermandikan sisa petang belakang rumah.

siulannya serak, mengumpulkan suara yang bercerai dengan lagu semusim.

aku lelah.

lalu tertungkup ia di atas perahu.
yang tambatannya lepas oleh purnama,
dan mengalir mencari hulu.

jejaknya hilang.

bayang-bayang bintang berlari pada muka air,
yang riaknya gelisah,
ketakutan oleh pekatnya malam.

ia di sana.

aku pulang,
dengan sampai jumpa yang tertinggal di ujung lidah.

dan mata-mata ingin tahu,
di balik kelambu.

[catatan] menulis adalah.

Selama hampir sepuluh tahun, menulis adalah suaka bagi saya. Menulis adalah upaya menjaga hati dan pikiran saya agar tetap, setidaknya, tidak keruh oleh debu yang tak kenal batas ruang. Saya memang bukan seseorang yang pandai menulis, hanya saja sudah terlanjur jatuh cinta dengan caranya menenangkan sebagian dari diri saya. Sejak entah kapan, saya pun sadar, saya tidak bisa tidak menulis. Rasanya lebih tenang memiliki karya yang tidak sempurna, ketimbang rasa atau pun ide yang membusuk dalam ilusi kesempurnaannya.

Sekalipun banyak yang mengatakan saya adalah orang yang cukup tertutup, saya sendiri tidak merasa demikian. Saya merasa cukup membuka diri saya. Secukupnya. Dan cara ternyaman bagi saya untuk melakukannya adalah dengan menulis. Puisi kebetulan adalah bentuk yang saya pilih untuk mewadahi hampir sebagian besar percikan diri saya yang ingin menyeruak menyapa apa-apa yang ada di luarnya. Menulis, dalam hal ini, adalah jalan paling aman bagi saya untuk membuka sebagian diri. Dan tentunya paling menyenangkan. 

Setiap kali saya merasakan gejolak emosi di dalam diri, tangan saya serta merta mencari pensil dan kertas, atau papan ketik dan layar. Entah itu emosi kanan atau pun kiri; senang, jatuh cinta, sedih, marah, patah hati, kecewa, bangga, malu, kesal, dan mungkin jenis-jenis emosi tak bernama lainnya. Menulis adalah sebuah bentuk keseimbangan yang mungkin sudah sedari awal menempatkan dirinya dalam konstruksi sikap seorang saya.

Saya sangat menyukai kondisi di mana segala sesuatunya ada dalam kendali saya. Rencana dan eksekusi dan hasil. Sayangnya, segala sesuatu tidak suka berada di dalam kendali saya. Menulis, juga, bagi saya adalah sebuah pelajaran tentang memilih bagaimana saya bersikap terhadap diri saya sendiri. Apakah saya akan bersikap keras atau lunak, atau di antaranya, atau terlalu daripadanya. Bisa saja saya memilih untuk memaafkan diri sendiri. Bisa jadi pula saya memilih untuk menyimpan dendam dan bom waktu terhadap diri sendiri.

Menulis adalah menjinakkan ketakutan akan gejolak manusiawi yang sedianya teman perjalanan mencari jati bagi diri. Sebaiknya ia menjadi bagian dari hari, sependek apa pun.

Karenanya, adalah hal yang cukup menyakitkan ketika perlahan ia tak sengaja terlepas, dan kadang terlupakan. Ada bagian dari sebuah perjalanan tanpa henti yang menghilang. Perjalanan tak lagi pernah genap. Bukan sempurna, namun genap. Ia menjadi terlalu ganjil untuk dianggap lumrah.

Sebelum semua terlanjur lewat. Sebelum hujan terbawa angin, dan debu-debu berganti tanpa berjejak, ada sedikit usaha untuk mengenggamnya kembali. Sedikit-sedikit. Perlahan-lahan. Hingga nanti, semoga, ia menjadi penuh dalam pelukan seperti sedia kala.

Saya menulis, karena itu saya dapat menuang sedikit setiap jati dari diri, dan membiarkannya berkelana bersama waktu.

8.10.15

catatan.

semua catatan ini akan usang oleh masa,
begitupun rasa. akan lapuk oleh musim.

pengingat tinggal janji dan menjejak,
semata awal mula ketulusan,
dan berakhir dengan "ingatkah sang janji?"

tahun bertalu melawan waktu,
resah bergema seiring timbunan tanya
akan benar dan salah,
yang nyatanya harus bungkam oleh kategori.

tidakkah kamu jadi takut mencatat,
kepingan-kepingan yang akan busuk tenggelam dalam praduga?

tentunya.

tapi jika tidak mencatat, maka aku mati.