satu pagi kulihat telaga di matamu,
dan jejak-jejak matahari di dasarnya.
kamu, dan senandung fajarmu
yang menggema dalam fana.
telagamu, yang jernihnya membangunkan jiwa
di tengah lelapnya rindu yang memburu.
lalu kupanggil matamu,
dan kuselami hingga ke antara bukit.
karena mengenalmu adalah mengenal matahari
yang tahu setiap celah pada dalammu.
Showing posts with label acak. Show all posts
Showing posts with label acak. Show all posts
23.8.15
10.3.12
penjaga malam.
penjaga malam adalah sekumpulan jiwa-jiwa yang berisik,
yang terbangun keluar dari lelapnya tubuh-tubuh,
lalu ternganga melihat pantulan bayangan pada kaca di depan jam dinding.
serentak mereka berteriak, menembus pintu dan jendela, mencari kelamnya hitam.
tubuh-tubuh yang tertinggalkan tak peduli,
alam mimpi yang bergolak menahan mereka dengan halusinasi berhentinya jarum jam.
hingga saat bangun nanti mereka harus meraba-raba setiap permukaan,
mencari-cari,
lalu membujuk jiwa-jiwa yang hilang,
dengan memecahkan setiap jam dinding pada semua rumah.
yang terbangun keluar dari lelapnya tubuh-tubuh,
lalu ternganga melihat pantulan bayangan pada kaca di depan jam dinding.
serentak mereka berteriak, menembus pintu dan jendela, mencari kelamnya hitam.
tubuh-tubuh yang tertinggalkan tak peduli,
alam mimpi yang bergolak menahan mereka dengan halusinasi berhentinya jarum jam.
hingga saat bangun nanti mereka harus meraba-raba setiap permukaan,
mencari-cari,
lalu membujuk jiwa-jiwa yang hilang,
dengan memecahkan setiap jam dinding pada semua rumah.
penunggu pagi.
pagar adalah tempatnya berjingkat,
sebelum ia menghilang bersama datangnya gradasi pertama matahari.
ia akan menyelinap kembali, seiring pulangnya matahari ke peraduannya.
tidakkah penunggu pagi itu adalah penjaga malam?
sebelum ia menghilang bersama datangnya gradasi pertama matahari.
ia akan menyelinap kembali, seiring pulangnya matahari ke peraduannya.
tidakkah penunggu pagi itu adalah penjaga malam?
9.3.12
pencatat senja.
pencatat senja melukis bulan yang muncul bersama merah,
ia merekam setiap titik yang diduganya adalah bolong, lengkap dengan warnanya.
lalu dari bulan ada pesan yang datang sayup-sayup,
katanya, setiap bolong yang kau rekam itu akan minta dipenuhi.
(hingga) kapan pun, mereka akan menunggunya. mereka akan menagihnya. rekamanmu.
catatanmu adalah hutangmu.
pencatat senja mendengarnya baik-baik. mencoba setengah mati merekamnya. mengingatnya.
lalu tiba-tiba ia ada di dalam dimensi keempat, di mana pesan sayup tadi tak pernah ada.
pencatat senja terdiam. tak ada senja yang bisa direkam. mungkin aku sedang menunggu pagi?
ia lalu telanjangi bumi, mencari-cari pagi di belakangnya.
dari sini, dari atas bulan.
tidur.
tidur, sayang, malam masih ganjil.
ada mimpi-mimpi yang belum terpetik dari awan-awan penunggu terjagamu.
tidur, sayang, pagi sedang genapkan dirinya dalam dirimu yang tak pernah lelap.
ada suara-suara dan bayang-bayang yang menyergapmu dari belakang hanya dalam hitungan detik,
dan lalu kamu lupa, semua itu tentang apa.
tidur, sayang, waktu tak pernah jadi milikmu,
walau ia selalu ikut merangkak masuk ke dalam selimut,
rapatkan punggungnya pada punggungmu,
menjelma jadi gelisah, menyusup pada tindihan sadarmu.
ada mimpi-mimpi yang belum terpetik dari awan-awan penunggu terjagamu.
tidur, sayang, pagi sedang genapkan dirinya dalam dirimu yang tak pernah lelap.
ada suara-suara dan bayang-bayang yang menyergapmu dari belakang hanya dalam hitungan detik,
dan lalu kamu lupa, semua itu tentang apa.
tidur, sayang, waktu tak pernah jadi milikmu,
walau ia selalu ikut merangkak masuk ke dalam selimut,
rapatkan punggungnya pada punggungmu,
menjelma jadi gelisah, menyusup pada tindihan sadarmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)